“Jamet itu perkara mental, bukan urusan kesedapan atau keampasan material.”
Tentu buat kita-kita yang nangkring di zaman yang makin narsis ini sudah maklum dengan kata “jamet”. Umumnya, kata ini dibidik kepada insan-insan yang dianggap berlebihan, norak, dan memaksa. Namun sayang seribu sayang, kalangan yang seringkali dianggap dan dicemooh jamet adalah mereka yang berada di garis kemiskinan. Pelakunya? Tentu saja begundal klasis yang katro itu (baca: orang kaya dan sok kaya).
Padahal kalangan yang mengenakan jenama ternama seharga sapi itu pada dirinya sendiri itu jametnya sampai tulang. Lebih tepatnya jamet sejak dalam pikiran! Entah kepercayaan diri berwujud apa yang menungging dalam diri mereka, sampai-sampai mereka cukup yakin bahwa diri mereka terbebas dari kejametan dan mengolok-olok “kampungan” kepada mereka yang memiliki akses sangat minim. Sok banget najis!
Eh, orang sok mantap, begini ya. Cuma karena kamu jongkok di kafe kinclong nan fancy, lalu kamu cekrek setiap sudut yang artsy itu dengan gawai flagship yang dipamerkan lewat “selfie mirror”, tak lupa pula deretan makanan dan minuman yang satu porsinya bisa membungkus 10 plastik mi ayam, kemudian kamu unggah dengan lagu yang bernuansa classy itu bukan berarti kamu tidak jamet ya!
“Sorry, ya. Baju, celana. Dari atas sampai bawah itu semua original dan branded. Dan style gue ga jamet kayak bopung-bopung itu!”
Sama aja, jamet.
“Padahal kalangan yang mengenakan jenama ternama seharga sapi itu jametnya sampai tulang—jamet sejak dalam pikiran!”
Mau:
- Bermobil X-Pander. Memfoto stir kemudi. Gagah-gagahan dijalan. Latah strobo. Mengkerdilkan mobil LCGC. Dan Foto romantis berdua: kamu dengan mobilmu (tak boleh pula ketinggalan gaya bersandar manisnya dengan tangan berlipat di dada).
- Bertandang ke lapangan golf. Pantat sampai nungging-nungging lebih dari 90 derajat. Menyepuk bola dengan sekuat tenaga dan pose seseksi dan seeksotis mungkin. Semua itu dirangkum dalam video berdurasi 15-30 detik—biasanya berjenis kompilasi sepukan paling cetar-ceter, ya top lima lah.
- Mengunyah makan malam di tempat elit. Yang bahasa berduitnya itu “fine dining” atau “candellight dinner”. Dengan penerangan remang-remang, sebab hanya diterangi sebatang lilin di atas meja. Serta porsi sajiannya yang tak lebih besar dari pecel lele kawakan.
- Mengambil kelas olahraga rumahan anti matahari. Yoga, pilates, dan pound fit yang doyan gebuk-gebukin lantai yang ditutup dengan foto bersana. Juga foto di depan cermin yang tidak pernah ketinggalan kereta dengan outfit olahraga masa kini.
- Gemar mengunjungi ekshibisi seni rupa. Berusaha memahami maksud-maksud seniman melalui karyanya yang di luar kebiasaan sehari-hari. Mengabadikan pajangan seni yang paling aneh, paling absurd, paling tidak dipahami, paling di luar nalar angkasa dan paling-paling yang serupa, supaya yang lain mengerti bahwa kamu memiliki selera di atas rata-rata.
“Begundal klasis yang katro itu merasa dirinya steril dari jamet, padahal kejametannya menyala-nyala.”
Kalau jamet, ya tetap saja jamet, met jamet!
Jamet itu perkara mental. Bukan urusan kesedapan atau keampasan material belaka. Justru orang-orang atas itu lah yang jametnya itu “ngejamet” banget. Sikap noraknya itu, kendati dibungkus dengan nuansa luks, tetap saja terlihat tanpa harus membuka indera ke-enam. Orang-orang “classist” itu yang justru serba latah dan terkesan maksa. Punya apa dikit, petantang-petenteng, punya itu dikit pantatnya kegatelan tak bisa duduk. Pantat masih berbelah dua saja belagu.
Maksud pokok bin pokok dari tulisan jamet ini adalah ajakan untuk mengurangi olok-olokan “jamet” kepada mereka yang berada di kelas bawah, dikarenakan struktur yang menghendaki demikian. Toh, mereka hanya ingin tampil, mengungkapkan berekspresi, menyesuaikan dengan tren yang berjalan agar dirinya bisa diterima di kalangan umum, tidak lebih.
Akses mereka itu terbatas, jadi:
- Biarlah kalau mereka hanya bisa membeli barang-barang duplikasi.
- Biarlah kalau mereka hasil rekaman video mereka penuh guncangan dan tidak jernih.
- Biarlah kalau mereka kegirangan melahap ayam tepung.
- Biarlah kalau mereka cuma bisa bermain di taman gratis.
- Biarlah kalau mereka ingin menunjukkan kalau ternyata mereka bisa berbahagia.
“Terlalu bahaya kalau ada jamet yang tidak tahu kalau dirinya jamet original.”
Kita mesti terbiasa menjametkan kalangan elit yang sok itu. Santai saja, tidak perlu sungkan. Walau duit tak seberapa, urusan cemooh itu tak pandang tebal-tipis dompet. Supaya mereka tak kelewat nyaman duduk di singgasananya. Anggaplah ini sebagai upaya mencerdaskan bangsa sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945. Sebab sejelek-jeleknya orang adalah orang yang tidak tahu kalau dirinya tidak tahu. Gawat sekali ini kalau ada jamet yang tidak tahu kalau dirinya jamet original. Karena akan berimbas kepada ketentraman bangsa dan negara.
Iya, kan? Apa lagi kalau salah satu pelakunya adalah orang nomor wahid di negara ini. Orang seatas-atasnya orang atas itu sepertinya kecanduan dengan perilaku jamet: ingin dianggap heroik. Bukannya sedia payung sebelum hujan, malah hujannya dibiarkan turun dulu, baru setelah kuyup dipayungin. Kalau tidak percaya, coba saja tanya ke Pak Rasnal dan Pak Muis, yang jadi korban kepahlawanan mantan menantu Soeharto.









