Beranda / Resensi / Mencari Rumah di Dunia yang Tak Ramah

Mencari Rumah di Dunia yang Tak Ramah

Novel Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, yang pertama kali diterbitkan pada Agustus 2015, menjadi salah satu karya yang banyak dibicarakan. Novel ini mendapat banyak perhatian setelah menjadi Pemenang kedua Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun 2014. Penghargaan ini menegaskan Ziggy sebagai penulis dengan gaya khas yang berani membahas persoalan sosial yang rumit lewat cara bercerita yang tidak biasa.

Kekuatan utama yang membuat novel ini menonjol adalah pilihan bentuk ceritanya, dimana seluruh kisah disampaikan dari sudut pandang seorang anak berusia enam tahun bernama Salva, yang biasa dipanggil Ava. Cara pandang Ava memberi nuansa baru karena kenyataan tentang kekerasan, keluarga yang bermasalah, dan rusaknya hubungan sosial disampaikan secara jujur dan apa adanya tanpa emosi berlebihan atau penilaian moral seperti yang sering muncul dari sudut pandang orang dewasa.

Di Tanah Lada menjadi sangat relevan dalam pembahasan sosial masa kini karena secara terbuka membicarakan hal-hal sensitif seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pengabaian perasaan anak, dan hilangnya peran ayah dalam kehidupan keluarga di kota—tema yang sering dikaitkan dengan sebutan Indonesia sebagai fatherless country (negara tanpa figur ayah). Perpaduan antara kedalaman tema dan gaya bercerita yang khas membuat novel ini menjadi karya penting yang memberi pandangan tajam terhadap keluarga patriarkal yang penuh masalah.

Kisah Di Tanah Lada dimulai ketika Kakek Kia, kakek dari tokoh utama Ava, meninggal pada 26 Juni 2013. Kakek Kia adalah satu-satunya sosok yang memberi rasa aman bagi Ava dan menghadiahkannya sebuah kamus saat ulang tahunnya yang ketiga. Setelah kematian sang kakek, kehidupan keluarga Ava berubah drastis. Papa Doni, ayah Ava yang keras dan suka berjudi, mendapat warisan besar, namun alih-alih menggunakannya untuk memperbaiki hidup, ia menjual rumah mereka dan memindahkan keluarganya ke Rusun Nero, tempat kumuh yang dekat dengan lokasi judi. Sejak itu, Papa Doni sering melampiaskan amarahnya pada Ava dan ibunya, Mama Helen, dengan kata-kata dan tindakan yang menyakitkan.

Di lingkungan baru yang penuh dengan kekerasan itu, Ava bertemu dengan P, anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang hidup sendiri setelah ditinggalkan dan disiksa oleh keluarganya. Ia tidur di dalam kardus dan mencari uang dengan mengamen di jalanan. Dari pertemuan itu, keduanya menjalin persahabatan yang kuat dan saling mengisi kekosongan hidup masing-masing. Mereka juga saling memberi nama panggilan, yaitu Salt dan Pepper sebagai simbol kecil tentang kehangatan dan persahabatan mereka. Namun keadaan semakin memburuk saat kekerasan Papa Doni semakin parah, hingga Mama Helen membawa Ava kabur. Tapi karena tidak ingin meninggalkan P, Ava kembali ke Rusun Nero dan menemukan P dalam keadaan babak belur akibat disiksa oleh ayah tirinya.

Ava dan P kemudian diselamatkan oleh Mas Alri dan Kak Suri, dua penghuni rusun yang sebenarnya adalah orang tua kandung P. Selama ini, mereka menyembunyikan jati diri mereka karena alasan ekonomi dan ketakutan. Merasa dikhianati oleh orang dewasa di sekitarnya, Ava dan P memutuskan untuk melarikan diri menuju Tanah Lada, tempat yang mereka anggap sebagai simbol kebahagiaan. Di bawah langit berbintang di Pantai Kiluan, keduanya berjanji untuk tetap bersama, seperti penguin yang setia seumur hidup. Kisah ini berakhir saat mereka melompat ke laut, meninggalkan dunia yang kejam lalu mencari kebebasan yang mungkin hanya bisa ditemukan di antara bintang-bintang dan ombak yang tenang.

Kekuatan utama novel ini terletak pada cara Ziggy menampilkan cerita lewat sudut pandang Ava, seorang anak berusia enam tahun. Melalui mata anak kecil, pembaca diajak melihat dunia yang keras dan rumit dengan cara yang polos dan jujur. Keterbatasan Ava dalam memahami dunia orang dewasa justru menjadi kekuatan cerita, karena ia mencoba menafsirkan segala hal lewat logika sederhana dan bantuan kamus peninggalan Kakek Kia, yang menjadi satu-satunya sumber pengetahuan dan pegangan hidupnya di tengah kekacauan keluarga.

Bagi Ava, kamus adalah satu-satunya hal yang bisa ia percaya. Kamus bukan hanya buku, tapi juga pengingat pada Kakek Kia, sosok yang selalu menepati janji dan tidak pernah membuatnya kecewa, berbeda dengan orang-orang dewasa lain di sekitarnya. Keterikatan Ava pada bahasa baku peninggalan Kakek Kia juga menjadi kritik terhadap cara orang memandang bahasa. Ia terbiasa berbicara dengan bahasa Indonesia yang benar, tetapi justru dianggap “aneh” dan “sombong.” Kak Suri kemudian menjelaskan bahwa berbicara “tepat” yang mana mudah dipahami oleh orang lain itu lebih penting daripada berbicara “benar” secara aturan. Hal ini menunjukkan bahwa mengikuti aturan tanpa memahami konteks sosial bisa membuat seseorang terasingkan. Sementara itu, penolakan Ava untuk belajar bahasa Inggris menggambarkan penolakannya terhadap nilai-nilai orang dewasa yang materialistis dan suka mengagungkan hal-hal yang tidak bermakna baginya.

Cerita ini berfokus pada trauma masa kecil, terutama yang dialami oleh tokoh utama, Ava. Ia menyalurkan ketakutannya lewat cara memandang dunia yang penuh imajinasi dan proyeksi. Papa Doni bagi Ava bukan lagi sekadar ayah, melainkan sosok menakutkan yang ia bayangkan sebagai “hantu,” “monster,” atau “setan.” Cara ini menjadi bentuk perlindungan diri yang ia ciptakan agar bisa menghadapi rasa takut terhadap kekerasan ayahnya.

Pusat cerita novel ini memang berada pada Ava, anak kecil dengan kemampuan berbahasa di atas rata-rata. Ia memiliki perbendaharaan kata yang luas dan sering mengandalkan kamus pemberian Kakek Kia untuk memahami dunia. Meski begitu, Ava tetaplah anak kecil yang polos dan penuh tanya. Ia sering meracau, berbicara dengan cara khas anak-anak, dan mencoba menjelaskan hal-hal rumit dengan logika sederhana yang terkadang justru terasa memilukan.

Sementara itu, P digambarkan sebagai anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang tampak dewasa sebelum waktunya. Hidup yang keras membuatnya jarang tersenyum dan sulit menikmati masa kanak-kanaknya. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa jika suatu hari menjadi ayah, ia juga akan jahat seperti ayah tirinya. Kedua anak ini bertemu dalam luka yang sama dan menemukan pelipur lara satu sama lain.

Hubungan antara Ava dan P memperlihatkan bagaimana dua anak yang sama-sama terluka bisa saling bergantung secara emosional. Mereka sama-sama kesepian dan butuh kasih sayang, sehingga hubungan mereka terasa begitu dalam. Ava, memberi rasa keteraturan dan arah hidup, sedangkan P, memberi kehangatan dan rasa diterima. Puncak kedekatan mereka terjadi ketika nama asli P terungkap di akhir cerita: Patibrata Praharsa (Sehidup Semati, Bahagia). Penyingkapan nama ini menegaskan makna hubungan mereka, bahwa kebahagiaan, bagi Ava dan P, hanya bisa ada jika mereka tetap bersama, bahkan melampaui batas kehidupan manusia biasa.

Tema keputusasaan dan kehilangan makna hidup juga muncul lewat ketertarikan mereka pada gagasan reinkarnasi. Setelah mendengar cerita The Egg dari Mas Alri, mereka berandai-andai bisa terlahir kembali sebagai penguin, hewan yang dikenal setia pada pasangannya seumur hidup. Bagi Ava dan P, dunia manusia sudah terlalu rusak: ada ayah yang kasar, ibu yang pasif, dan ayah kandung yang penakut. Dalam pandangan mereka, bentuk keluarga yang benar-benar setia hanya bisa ditemukan di dunia hewan yang mereka bayangkan.

Rasa marah P terhadap Mas Alri dan Kak Suri, yang ternyata adalah orang tua kandungnya namun menyembunyikan identitas mereka karena takut dan miskin, memperlihatkan lapisan emosi yang rumit. Ia marah bukan hanya karena kekerasan fisik dari ayah tirinya, tetapi juga karena merasa tidak cukup berharga untuk diperjuangkan oleh orang tua kandungnya sendiri. Rasa ditinggalkan itu membuat P merasa tak layak dicintai. Melalui kisah ini, Ziggy menunjukkan bahwa pengabaian emosional bisa meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada kekerasan fisik yang tampak.

Tumbuh di lingkungan yang tidak harmonis membuat Ava dan P berhenti percaya pada kebaikan orang dewasa. Mereka berhenti percaya bahwa di dunia ini masih ada ayah yang baik, berhenti percaya bahwa kebahagiaan masih mungkin ada tanpa sosok ayah, dan berhenti percaya bahwa penderitaan mereka memiliki makna. Dengan segala kepolosan mereka, Ava dan P sering membicarakan kematian tanpa rasa takut. Mereka ingin bereinkarnasi dan tetap saling mengingat dalam kehidupan berikutnya sebagai dua penguin yang hidup berdampingan selamanya. Hal ini menyedihkan, karena pada usia yang seharusnya dipenuhi keceriaan, dua anak kecil ini justru memikirkan kematian sebagai satu-satunya jalan menuju kedamaian.

Secara sosiologis, novel ini berfungsi sebagai kritik tajam terhadap sistem patriarki dan kondisi sosial di perkotaan. Rusun Nero, tempat tinggal Ava dan keluarganya, digambarkan sebagai lingkungan yang kumuh dan penuh masalah sosial. Mereka tidak tinggal di sana karena miskin, melainkan karena perilaku Papa Doni yang kecanduan judi. Letak Rusun Nero yang berdekatan dengan kasino menjadi simbol dari kerusakan moral yang mendorong kehancuran keluarga Ava.

Kekerasan dalam rumah tangga yang dialami Mama Helen juga digambarkan berhubungan erat dengan faktor ekonomi. Ia baru berani meninggalkan Doni setelah semua harta keluarga habis dijual dan warisan dari Kakek Kia lenyap karena judi. Hal ini memperlihatkan bahwa keputusan untuk bertahan dalam pernikahan yang penuh kekerasan sering kali bukan karena cinta atau harapan, melainkan karena ketakutan kehilangan sumber penghidupan. Ziggy dengan halus mengkritik bagaimana struktur ekonomi yang dikuasai laki-laki sering membuat perempuan terjebak dalam lingkaran kekerasan yang tidak berujung.

Novel ini juga menyoroti kegagalan figur ayah. Papa Doni menjadi contoh nyata dari ayah yang kejam dan tidak bertanggung jawab, sementara Mas Alri dan Kak Suri memperlihatkan bentuk lain dari kegagalan, yaitu ketidakberdayaan untuk melindungi anak mereka sendiri karena tekanan sosial dan ekonomi. Ketika mereka ragu melaporkan ayah tiri P ke polisi karena takut anak itu akan berakhir di panti asuhan, hal ini menggambarkan lemahnya sistem perlindungan anak di Indonesia.

Sebagai kebalikan dari dunia kota yang rusak, Tanah Lada merupakan sebuah desa di pesisir Sumatera tempat Nenek Isma tinggal yang menjadi simbol tempat yang hangat, jujur, dan manusiawi. Ava menggambarkan Jakarta sebagai “langit tanpa bintang,” tempat tanpa harapan, sedangkan Tanah Lada adalah ruang di mana bintang masih terlihat dan kehangatan masih ada. Pelarian Ava dan P menuju Tanah Lada adalah bentuk pencarian akan dunia yang lebih baik, tempat di mana kasih sayang dan ketulusan masih mungkin ditemukan.

Novel Di Tanah Lada memiliki banyak kelebihan yang membuatnya menonjol. Salah satunya adalah gaya bahasa Ziggy yang khas, yaitu sederhana tetapi penuh makna. Melalui penuturan dari sudut pandang anak kecil, Ziggy mampu menghadirkan cerita yang hidup dan mengalir dengan alami. Ia juga sering menyisipkan penjelasan mengenai kata-kata baru yang ditemukan atau dipelajari oleh Ava, sehingga pembaca bukan hanya mengikuti alur cerita, tetapi juga ikut memperkaya kosakata dan pemahaman bahasa. Selain itu, isu sensitif seperti kekerasan dalam rumah tangga dibahas dengan cara yang tidak biasa. Melalui sosok Ava dan P, Ziggy menghadirkan potret anak-anak korban KDRT yang jarang mendapat ruang dalam karya sastra. Pembaca diajak untuk melihat bahwa kekerasan, terutama terhadap anak, meninggalkan luka mendalam yang tidak selalu tampak di permukaan.

Novel ini juga menyimpan pesan kemanusiaan yang kuat tentang mimpi, harapan, dan pentingnya kasih sayang dalam keluarga. Melalui imajinasi polos Ava dan P, Ziggy seperti ingin mengingatkan pembaca bahwa dunia seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak-anak, bukan sumber ketakutan. Ia juga menyoroti persoalan sosial tentang minimnya peran ayah dalam pengasuhan anak yang mana isu ini sering disebut dengan istilah fatherless country. Dalam konteks ini, pemikiran Ava dan P mengenai sosok ayah menjadi refleksi dari kenyataan di masyarakat: banyak anak tumbuh tanpa bimbingan, perhatian, dan kasih sayang dari figur ayah. Dengan alur yang rapi dan penulisan yang lugas, Di Tanah Lada bukan hanya menawarkan kisah yang menyentuh, tetapi juga membuka mata orang tua dan calon orang tua tentang pentingnya hadir secara utuh bagi anak. Novel ini layak dibaca, terutama oleh remaja dan orang dewasa yang ingin memahami bagaimana dunia terlihat dari mata seorang anak yang tumbuh di tengah kekerasan.

Salah satu aspek yang sering menjadi bahan perdebatan dalam novel ini adalah penggambaran karakter Ava dan P, yang meskipun masih berusia enam dan sepuluh tahun, digambarkan memiliki kedewasaan berpikir yang melampaui usia mereka. Dialog keduanya tetap mencerminkan kepolosan anak-anak, namun refleksi dan kedalaman pemikiran yang ditampilkan sering kali menimbulkan ketidaksesuaian dengan realitas usia. Kondisi ini menciptakan jarak interpretatif bagi sebagian pembaca, terutama pada bagian akhir cerita ketika hubungan antara Ava dan P semakin kompleks secara emosional.

Di sisi lain, penutupan cerita juga menimbulkan kesan yang mendadak dan kelam. Setelah menghadapi berbagai penderitaan, keputusan akhir yang diambil Ava dan P menghadirkan simbolisme yang kuat, namun terasa terlalu tragis untuk konteks usia anak-anak. Akhir yang demikian memang mempertegas pesan eksistensial novel ini, tetapi sekaligus meninggalkan kesan getir yang mungkin sulit diterima oleh sebagian pembaca.

Identitas Karya

Judul Karya                         : Di Tanah Lada

Pengarang                            : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Penerbit                                : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Jumlah Halaman                : 285 hlm.

Genre                                    :  Fiction, Slice of life

Edisi                                      : 2024

 

Biodata Narasi:

Nazira Rashiqa Zahra, atau biasa dipanggil Jira. Mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab yang entah kenapa malah kurang suka bahasa Arab. Sering nulis sambil dengerin lagu galau padahal hati lagi fine-fine aja. Pecinta makanan manis, tukang ketiduran di jam-jam penting, dan punya kemampuan spesial menunda tugas dengan tenang. Suka berimajinasi sampai lupa realita, suka nyanyi juga meski suara pas-pasan (tapi pede adalah segalanya). Menulis itu tempat curhat paling aman karena kertas nggak pernah nge-judge. (juga masih bermimpi bisa nulis di taman Edinburgh sambil makan cookies).

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *