“Jika ada potongan kecil dari kata, maka pungutlah, dan biarkan. Agar ia tetap utuh tanpa harus bersatu” ~F. Budi Herdiman~
Nampaknya redaksi ingin bercanda. Ini sudah tidak bisa lagi dibiarkan, biar apapun bentuk penjelasannya. Sudah terlampau jauh dari nilai awal tentang apa itu puisi yang baik. Jadi pada sore kemarin saya tercengang melihat postingan terbaru di kanal media Geger di platform Instagram-nya, terdapat suatu tulisan esai yang bikin muak membacanya. Tulisan itu berjudul “Sumpah Pemuda: Teks Sejarah atau ‘Senjata Hari Ini’?” Dengan penulis bernama Amelia Monica Rizi.
Saya tercengang bukan karena tulisan itu bagus atau memberi pemahaman baru yang meledakkan isi kepala, tetapi karena tulisan tersebut adalah esai yang membahas puisinya sendiri, puisi yang sebelumnya saya kritik. Kendati penyair membuka ruang introspeksi, malah makin menjadi-jadi seolah-olah puisinya masih pantas untuk diperhatikan, padahal jelas-jelas satpam UIN enggan membacanya.
Waktu saya membacanya, dunia serasa berhenti berputar. Entah apa yang ada di benak penulis hingga ia menuliskan dan membahas secara utuh maksud dan tujuan puisinya. Tentu saya bertanya-tanya, apakah ini bentuk sanggahan atas kritik saya, atau sekedar ingin menegaskan bahwa puisinya benar, penuh wacana, dan mengandung ideologi tinggi? Akhhh, apakah ini yang disebut perkembangan estetika kontemporer, bahwa yang mahal bukan dari bentuknya, tetapi dari wacana yang diangkatnya.
Mari kita kaji fenomena ini lebih seksama. Pernahkah pembaca mendapati sebuah video pameran di mana di antara karya rupa ada satu pameran unik yang membuat tercengang: pisang yang ditempel dengan lakban perak. Karya itu terjual dengan harga fantastis, 98,7 miliar rupiah. Berjudul Comedian, karya Maurizio Cattelan, dilelang di Sotheby’s, New York, pada November 2024, dan pertama kali dipamerkan di Art Basel, Miami Beach, 2019.
Apakah pisang itu tidak busuk? Jelas busuk bila dibiarkan begitu saja. Terus kok bisa masih bagus, yah jadi konsepnya pisang itu diganti secara berkala, bahkan cara menggantinya dipertunjukkan hingga bagaimana cara menempelnya. Lalu apa yang membuatnya mahal? Menurut sang pembeli, Justin Sum, nilai karya ini terletak pada objek dan idenya sebagai kekayaan intelektual, bukan sekedar fisiknya. Bukankah seharusnya itu membuat karya kehilangan orisinalitas? Yaps. Hal tersebut menuai perdebatan panjang tentang definisi seni kontemporer akibat dari situ. Karya seperti ini berbeda dengan patung, lukisan, atau karya rupa yang dibentuk tangan manusia, karena yang mahal adalah wacananya, bukan lagi pada fisiknya.
Nah, maksud persoalan ini terkait kritik awal saya, tulisan esai di Geger adalah upaya “penjualan wacana” tentang maksud dan tujuan puisi yang sebelumnya saya kritik. Puisi itu, menurut saya, terlalu layak dikatakan buruk karena tidak ada permainan bahasa, tidak ada makna yang membawa pembaca menyelam lebih dalam. Lalu penulis menulis esai yang menjelaskan maksud bait demi bait, menghapus ruang interpretasi pembaca.
Apa yang dikatakan Adorno benar, bahwa karya harus berada pada posisi kritisnya (diam), membiarkan pembaca bergulat dengan imajinasi. Alih-alih begitu, penulis menunjukkan narasi pembenaran. Jika penulis tahu reaksi teman-teman saya saat membaca puisinya, mungkin ia tak perlu repot-repot “menjadi benar”. Sebab pembaca bisa dikatakan paham arahnya ke mana. Tulisan saya kemarin adalah kritik atas keterbukaan puisi yang terlalu telanjang. Karya itu sebenarnya catatan seminar, hanya saja kemudian dibentuk seperti bait-bait puisi lalu menyebutnya sebagai puisi.
Fenomena ini mengingatkan saya pada perbedaan mendasar dalam tradisi menulis puisi. Misalnya, Sapardi Djoko Damono dalam puisi Hujan Bulan Juni beliau membiarkan bait-baitnya hidup sendiri, dan memberi pembaca ruang untuk menafsirkan dan merasakan makna secara personal. Toh meskipun beliau menuliskan kembali dengan karya berbeda yaitu Novel, dan pembaca tetap merasakan keutuhan karyanya.
Berbeda dengan tulisan teman saya yang menjabarkan maksud bait per bait, hingga berakibat menjarah imajinasi pembaca terhadap tulisannya. Sapardi tidak pernah memaksakan interpretasi, sehingga pengalaman membaca tetap bebas dan kaya imajinasi. Hal inilah yang membuat saya menilai upaya menjabarkan puisi secara rinci seperti yang dilakukan teman saya justru meruntuhkan imajinasi pembaca, alih-alih memperkaya pengalaman estetis.
Sebelum saya akhiri. Mari kita bayangkan bersama-sama apa itu puisi, saya akan memberikan dua tokoh penting bagi saya dalam rupa puisi, pertama Goenawan Muhammad, puisi baginya adalah sebuah karya yang mencakup berbagai gaya dan tema, sering kali terinspirasi dari pengalaman pribadi dan pengamatan terhadap dunia sekitar. Yang kedua yaitu dari Afrizal Malna penyair yang dikategorikan dengan puisi-puisinya yang gelap, menurut beliau, puisi adalah medium untuk mengeksplorasi isu sosial-politik melalui perpaduan elemen yang tidak lazim dan konfrontatif. Jadi dapat kita arahkan bahwa puisi adalah soal pengalaman. Lahir dan tumbuh bersama retakan ingatan yang membuka jalan kesadaran. Maka dengan itu puisi sahabati saya ini dikatakan buruk dan tak pantas untuk disandangi sebagai karya puisi. Dan kepada redaksi, tunjukkan bahwa media ini memiliki integritas. Wallahu a’lam
Joglo 2025.









