Sebelum dimulai, minta tolong buat para bocil drown buat baca dengan seksama.
Mari kita mulai.
Pernah nggak sih kalian merasa hidup, bernapas, dan bergerak, tapi sebetulnya lo nggak benar-benar ada? Rasanya kayak cuma raga aja yang gerak, sementara jiwa kita udah lama berhenti dan nggak tahu kapan kembali.
Kita sadar, kita hidup. Tapi di sisi lain kita gatau ternyata kita udah lama mati. Kayak kata-kata “Sebenarnya kita udah mati di umur 27”, tapi baru dimakamkan di umur 72″. Nyesek banget. Ketika hidup udah ga punya apa-apa lagi selain penyesalan di tengah kekosongan.
Kalau perasaan itu punya soundtrack, “Sleepwalking” dari Bring Me The Horizon adalah jawabannya. Lagu yang bukan cuma teriakan keras musik metalcore, tapi juga bisikan jujur dari seseorang yang totally stuck dalam lingkaran setan kesepian dan penyesalan.
Lagu yang tergabung dalam album Sempiternal (2013) — yang covernya mirip band sebelah — ini punya kesan kehilangan yang mendalam banget. Bukan tentang ditinggal pacar atau kehilangan uang. Ini jauh lebih dalam; tentang kekosongan yang eksistensial.
Sempiternal juga punya beberapa lagu yang agaknya mewakili perasaan yang hampir sama; kehampaan. Kayak “Shadow Moses” (2013) dan “Can You Feel My Heart” (2013). Lagu-lagu ini seolah mendobrak jiwa para pendengarnya, yang sedang dalam keadaan risau, bingung dan ga terkendali. Yaa, sesuai judul cover albumnya, “Sempiternal, keabadian yang tak berujung.”
Ketika Rahasia Membakar Diri Sendiri
Langsung serta to the point, dalam liriknya Bang Oliver menyerang perasaan terdalam kita, khususnya soal penyesalan yang dipendam. Perasaan yang seolah bikin kita tuh enggan buat punya, tapi mau gamau harus menanggung perasaan itu. Dan kita ga mampu buat menyingkirkan semua itu.
My secrets are burning a hole through my heart
And my bones catch a fever
When it cuts you up this deep
It’s hard to find a way to breathe
Boom! BMTH bilang, rahasia yang sumbernya dari penyesalan itu kita simpan rapi dalam diri kita. Bukan cuma bikin sedih, tapi beneran membakar lubang di hati. Ini adalah gambaran fisik dari rasa bersalah yang udah mendarah daging.
Nggak heran kita ngerasa kayak tulang kena tusuk berkali-kali — sakit, tapi sakitnya bukan karena tusukannya, melainkan karena beban psikologis dan pikiran yang bertubi-tubi menyerang yang kita pikul sendiri. Ketika penyesalan itu udah mengiris sedalam itu, wajar kalau rasanya “hard to find a way to breathe.”
Kesepian yang kita rasain saat itu, bukan karena nggak ada orang lain di kamar, tapi karena kita terisolasi di dalam diri kita sendiri, terperangkap sama kesalahan masa lalu yang nggak bisa kita bagi. Kesalahan yang cuma kita yang tau dan bisa ngerasain. Kesalahan, yang mungkin kita ga sengaja lakuin, tapi bener-bener membekas dan susah buat dimaafkan.
Dipenjara oleh Pantulan Diri
Perasaan terasing ini makin diperkuat di bagian Pre-Chorus. Di titik ini, Bang Oli Dkk. menggunakan metafora yang bikin merinding, mengubah lingkungan sekitar menjadi cerminan rasa bersalah:
Your eyes are swallowing me
Mirrors start to whisper, shadows start to see
My skin’s smothering me
Help me find a way to breathe
Mata orang lain terasa menelan, mungkin karena takut dihakimi, takut dikira aneh, takut untuk jadi seorang yang ga berguna.
Yang lebih parah, “cermin mulai berbisik, bayangan mulai melihat.” Ini tuh kayak paranoia dan kesepian ekstrem, di mana bahkan pantulan dan bayangan kita sendiri berubah menjadi judge yang nggak berhenti membisikkan kesalahan. Bahkan jauh sebelum orang lain bikin penilaian terhadap kita, kita udah judging — tentang hal-hal negatif — diri kita sendiri.
Dan puncaknya, “My skin’s smothering me.” Diri kita sendiri, kulit kita, tubuh kita, menjadi penjara yang mencekik. Kesepian tiada akhir itu membuat kita merasa terasing bukan dari dunia luar, tapi dari diri kita sendiri. Kita butuh bantuan untuk bisa bernapas, tapi pertolongan pertama harusnya datang dari dalam, yang sayangnya sedang tertidur pulas.
Siklus Kehampaan: Stuck di Lubang yang Sama
Inilah yang menurutku jadi titik tekan utama atau esensi dari “Sleepwalking.” Di bagian Chorus, lagu ini menjelaskan kenapa kita bisa merasa sangat lelah dan hampa; kita terjebak dalam siklus yang sama terus-menerus.
Time stood still the way it did before
It’s like I’m sleepwalking
Fell into another hole I dug
It’s like I’m sleepwalking
Waktu terasa berhenti. Nggak ada progres. Semua terasa seperti déjà vu yang buruk. Dan yang paling getir, dia tahu dia yang bertanggung jawab atas kehancurannya: “Fell into another hole I dug.”
Kita semua pernah di posisi ini. Kita tahu apa yang harus dilakukan, kita tahu kebiasaan mana yang buruk, tapi kita kayak berjalan dalam tidur—melakukan hal yang sama tanpa kesadaran penuh, dan akhirnya jatuh ke lubang yang sama lagi. Ujungnya, penyesalan, yang akan terus berulang. Kita tahu harus berubah, tapi terlalu lelah untuk bergerak dengan kesadaran. Kita cuma mode autopilot yang mengarah ke jurang.
Ujung Dunia dan Pertanyaan Eksistensi
Di Verse 2, keputusasaan itu membawa si karakter ke persimpangan jalan eksistensial yang dingin:
Where do I go from here?
Do I disappear?
Edge of the world
Should I sink or swim?
Or simply disappear?
Di “ujung dunia,” ketika semua pilihan terasa sama-sama buruk, pilihannya cuma dua; tenggelam atau berenang? Atau bahkan, apakah berjuang itu masih perlu? Atau lebih baik “simply disappear“? Ini adalah refleksi dari kelelahan mental yang parah, di mana rasa kesepian udah berubah jadi pertanyaan fundamental; Apa gunanya aku ada?
Panggilan untuk Bangkit: Teriakan dari Bawah Sadar
Untungnya, BMTH nggak membiarkan kita tenggelam sepenuhnya. Di bagian Bridge yang terasa eksplosif, ada seruan yang sangat mendesak—sebuah harapan terakhir yang muncul setelah semua kepasrahan:
Wake up!
Take my hand and
Give me a reason to start again
Ini adalah panggilan terakhir untuk bangun. Panggilan ini bisa datang dari orang yang dicintai, dari terapis, atau bahkan dari nurani kita sendiri yang tersisa. Kadang kita tuh nggak meminta solusi, kita cuma minta “reason to start again” (alasan untuk memulai lagi).
Intinya buat kita, setelah kita ngakuin kalo sebenernya kita stuck di lubang penyesalan, setelah capek sama kesepian yang mencekik, kita harus cari satu alasan kecil, sekecil apa pun, untuk meraih tangan itu.
Jangan biarkan diri kita terus berjalan dalam tidur. Kesadaran untuk meminta bantuan—atau sekadar mencari alasan untuk hidup—itu adalah langkah pertama keluar dari mode sleepwalking kita.
“Sleepwalking” adalah anthem buat kita yang merasa kecewa pada diri sendiri. Itu nggak menggurui; itu bilang, “Gue juga pernah di situ. Sekarang, bangun yuk.”
Jadi, sekarang mari bangun bersama. Mengevaluasi dan merencanakan kembali. Jangan terjebak di satu jalan dan lubang yang sama. Gapapa kalo masih punya penyesalan, kita dan semua manusia pernah juga ngerasain. Kalo kata Lomba Sihir, semua orang juga pernah patah hati.
Jadi jangan mudah buat nyerah, karena ga banyak orang yang bisa ada dalam posisi kita sekarang. Putar terus menerus doa-doa itu. Oiya, Jangan muter Drown terus menerus.
Peace Out!
-.
Menulis apapun yang didengar, dilihat, dan dirasakan.









