Beranda / Esai / Opini / Merenungi Perubahan Global dalam Lensa Revolusi Industri 5.0

Merenungi Perubahan Global dalam Lensa Revolusi Industri 5.0

Bisakah kita membayangkan bagaimana dunia dalam 10, 50 tahun, atau bakan lebih dari itu? Apakah sangat optimis atau justru sebaliknya merasa mengerikan? Penulis, pribadi, cenderung penuh harapan, meski tetap waspada terhadap potensi perubahan besar dalam tatanan global di masa depan. Dalam merenung sejarah perubahan global, kita bisa memandangnya dari sudut pandang perubahan sosial: dari zaman purba hingga era tradisional, hingga munculnya Revolusi Industri pertama pada tahun 1760-1840 oleh James Watt, dikenal sebagai Revolusi Industri 1.0

Revolusi industri telah membawa dampak dan perubahan yang sangat besar baik dalam sistem produksi dari manual digantikan oleh mesin sehingga menjadi lebih efisien dan efektif. Perubahan tersebut telah mempengaruhi tatanan kehidupan manusia. Revolusi industri turut berlangsung terjadi hingga saat ini yaitu 2.0 terjadi pada awal abad 20 ditemukan tenaga listrik, 3.0 terjadi pada akhir abad 20 ditandai adanya teknologi digital atau internet, 4.0 fokus pada mengotomasi pekerjaan yaitu hadirnya Kecerdasan Artificial Intellegnce (AI), Big data, Robotika.

Saat ini telah memasuki Revolusi Industri 5.0 yang dimulai pada tahun 2019 dimana fokus dalam mengoptimasi jam kerja berbeda dengan 4.0 dimana dikendalikan oleh teknologi namun untuk 5.0 manusia menjadi pameran utamanya. Dalam revolusi ini kembali menekankan peran manusia dalam konteks produksi dan fokus pada optimalisasi kolaborasi antara manusia dan sistem otomasi, seperti kecerdasan buatan (AI), robotika, dan teknologi lainnya.(Suherman et al., 2020) Revolusi industri sangat berpengaruh pada perubahan secara global begitupula dengan era globalisasi.

Globalisasi diartikan sebuah peintregasian ekonomi nasional menjadi ekonomi global. Era ini ditandai dengan berlakuknya kebijakan “free tade”. Kalangan ilmu sosial kritis mengkritik bahwa globalisasi tiada lain melanjutkan kapitalisme liberal. Para penganut paham neo-liberalisme menganggap bahwa ”pasar bebas” sebagai cara  yang  efisisen dalam mengalokasikan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan  manusia. Aktor dari globalisasi antara lain ialah perusahaan-perusahaan transnasional dan bank-bank transnasional.(Mansour Fakih, 2013).

Penulis akan menyoroti bagaimana Globalisasi berdampak pada eksploitasi SDM dan SDA di negara-negara berkembang. Dari segi SDM, Globalisasi dapat meningkatkan eksploitasi imigran atau buruh karena adanya persaingan global yang ketat dalam hal upah dan kondisi kerja. Perusahaan cenderung mencari cara untuk meminimalkan biaya produksi, termasuk dengan memanfaatkan tenaga kerja murah dari negara-negara dengan standar upah yang rendah. Hal ini dapat mengakibatkan kondisi kerja yang tidak adil dan eksploitasi terhadap para imigran atau buruh yang mungkin memiliki keterbatasan dalam negosiasi atau perlindungan hukum.

Dari segi SDA, Kemudahan bagi perusahan multinasional untuk mendirikan perusahaan di negara lain menjadi salah satu dampak isu lingkungan di negara-negara berkembang. Dalam penemuan Backhri disampaikan, Konsumsi energi dan globalisasi memiliki pengaruh positif dan signifikan dalam emisi co2.(Muh Syariful Bakhri, 2018) Banyak perusahaan-perusahaan mengalihkan industri mereka kepada negara-negara yang memiliki aturan yang tidak ketat. Negara-negara berkembang salah satunya Indonesia menjadi sasaran perusahaan besar dalam operasi industrialisasi. Sehingga, dampak pencemaran lingkungan lebih dirasakan di negara berkembang daripada negara industrialisasi.

Harapan dan Kekhawatiran akan Perubahan Global

Keberadaan kecerdasan AI dianggap penulis sebagai solusi untuk mengurangi eksploitasi dalam dunia kerja. Dengan contoh negara-negara maju yang memanfaatkan tenaga kerja imigran atau risiko pekerjaan berbahaya, seperti pembersihan kaca di gedung tinggi, kecerdasan AI diharapkan dapat menciptakan mesin atau robot untuk menggantikan pekerjaan fisik yang berpotensi mengeksploitasi manusia. Meskipun terdapat ancaman terhadap pekerjaan manusia, penulis optimis bahwa hal ini dapat mengarah pada adaptasi dan peningkatan keahlian manusia, sehingga mereka dapat beralih ke pekerjaan yang lebih layak dan humanis. Pendekatan ini diakui sebagai langkah positif dalam mengatasi masalah eksploitasi tenaga kerja. Meski demikian, perlu juga dicatat bahwa transformasi ini memerlukan keseimbangan untuk meminimalkan dampak sosial dan ekonomi yang mungkin timbul

Penulis prihatin terkait perubahan iklim yang menjadi isu hangat saat ini di berbagai belahan dunia. Bahkan BMKG telah memberikan warning bumi tidak lagi dalam masa pemanasan global melainkan pendidihan.  Peningkatan suhu dan polusi udara meresahkan global khusunya bagi kota metropolitan. Pemanasan global memengaruhi tingkat temperatur di udara dan mempercepat penguapan tanah, menimbulkan krisis air yang semakin dekat. Perubahan suhu dianggap sebagai indikasi bahwa bumi berada dalam kondisi yang tidak baik. Ancaman krisis air bersih mendekati, dan kesadaran akan kebutuhan akan air bersih menjadi kunci untuk menghindari kemusnahan peradaban manusia dan ekosistem akibat eksploitasi sumber daya alam yang serakah.

Apa yang perlu dilakukan?

Dengan adanya harapan dan kekhawatiran tersebut memunculkan skeptisme bagi penulis apakah kehidupan manusia mengalami kemajuan atau justru kemunduran? Penulis percaya bahwa kecanggihan dan inovasi-inovasi yang dibuat akan selalu menghadirkan kemudahan namun memiliki resiko bagi manusia. Seperti media sosial, media sosial dapat digunakan oleh orang-orang bijak untuk menyebarkan informasi namun bagi Sebagian orang justru untuk menciderai orang lain seperti mengancam privasi orang lain. Harapan dan resiko akan perubahan global dapat mengancam atau dapat kita kendalikan adalah bagaimana kecanggihan/inovasi tersebut berada di tangan orang yang tepat.

Penulis meyakini bahwa “hal buruk yang terorganisir jauh lebih baik daripada kebaikan yang tidak terorganisir” oleh karena itu diperlukan gerakan-gerakan kebaikan yang terorganisir dengan baik. Menurut Penulis jalan terbaik dalam mengorganisir ialah dengan Edukasi. Pendidikan dalam hal ini tidak hanya secara formal bukan hanya melibatkan institusi formal seperti sekolah, tetapi juga melibatkan platform-platform online, podcast, dan saluran YouTube yang fokus pada pendidikan masyarakat. Media ini dapat memainkan peran kunci dalam membangun masyarakat teredukasi dan berdaya. Saat ini, ada banyak platform yang berkembang, menangani isu-isu seperti kewarganegaraan, pengembangan diri, dan berbagai isu global, sosial dan politik. Semakin banyak platform dan media yang menyajikan pendidikan, semakin besar peluang membentuk masyarakat yang suka akan hal-hal edukatif.

Oleh: Intan Lukfia Indriyani (Magister Pembangunan Sosial & kesejahteraan FISIPOL UGM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *