Beberapa tahun terakhir kondisi konflik antara Israel dan Palestina yang telah berlangsung puluhan tahun itu menjadi kian memanas. Tindakan-tindakan genosida yang dilakukan Israel terhadap Palestina membuat masyarakat di seluruh dunia geram, termasuk diantaranya adalah masyarakat Indonesia. Pada beberapa tahun terakhir, semangat solidaritas dan dukungan terhadap Palestina telah tumbuh semakin pesat di kalangan masyarakat Indonesia.
Di tengah situasi konflik yang kian memanas tersebut, masyarakat Indonesia turut menunjukkan rasa solidaritasnya melalui beberapa gerakan, seperti gerakan aksi demo, pemberian bantuan atau sumbangan, hingga gerakan-gerakan lain yang digaungkan di media sosial.
Salah satu gerakan yang mendapat perhatian besar adalah gerakan “Julid Fii Sabilillah” melalui media sosial. Gerakan ini diprakarsai oleh Erlangga Grenchinof (Content Creator dan Influencer platform X). Arti dari Julid Fii Sabilillah merupakan sebuah plesetan dari istilah “Jihad Fii Sabilillah” yang artinya berperang di jalan Allah, hanya saja perang ini menggunakan kata-kata julid melalui media sosial. Gerakan ini bukan hanya sekedar ekspresi simpati, tetapi juga merupakan bentuk nyata dari aksi bela Palestina.
Gerakan ini awal mulanya berasal dari pertanyaan netizen terhadap Ustaz Adi Hidayat tentang hukum julid kepada kaum Israel, dalam pertanyaan itu Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa julid sebenarnya tidak diperkenankan namun jika dilakukan kepada bangsa yang zalim (Israel) hal itu justru sangat dianjurkan. Hal inilah yang kemudian pecah menjadi aksi Julid Fii Sabilillah yang dikomandani oleh Erlangga Grenchinof. Ia mengajak
warganet Indonesia untuk membalas komentar-komentar provokatif dari tentara Israel di media sosial dengan komentar-komentar julid netizen
Indonesia. Menurut Erlangga gerakan Jihad Fii Sabilillah ini memiliki tujuan untuk melemahkan moril Israel, memerangi propaganda Zionis, serta memperkuat narasi pro-Palestina di media sosial.
Warganet Indonesia sendiri dikenal sebagai netizen paling berbahaya karena ketikannya yang mematikan. Warganet Indonesia juga dikenal sering melampiaskan emosi pribadi mereka kepada postingan-postingan yang tidak mereka sukai. Maka dari itu aksi ini akhirnya mendapat respon yang luar biasa dari warganet Indonesia. Warganet Indonesia kemudian berbondong-bondong menyerang akun media sosial tentara atau petinggi Israel yang telah ditentukan sebagai target.Tak butuh waktu lama, gerakan Julid Fii Sabilillah ini telah berhasil menumbangkan beberapa akun tentara Israel di media sosial. Baik Instagram, Tiktok, X, dan Instagram.
Aksi Julid Fii Sabilillah ini tidak hanya sekedar aksi protes yang bersifat simbolis. Gerakan ini ternyata juga memiliki dampak yang nyata
erhadap tentara Israel. Banyak tentara Israel yang mengaku kesal, terhina hingga terkena gangguan psikologis akibat komentar-komentar julid warganet Indonesia. Bahkan, ada banyak tentara Israel yang kemudian memutuskan untuk menghapus akun media sosial mereka karena tidak tahan dengan aksi Julid Fii Sabilillah ini. Banyak dari mereka mengaku bahwa ketikan warganet Indonesia sudah keterlaluan karena apapun yang
mereka posting akan mendapat kata-kata hinaan hingga kata-kata kotor. Bahkan ketika akun sosial mereka sudah nonaktif, warganet beralih meneror postingan orang tua, adik, bahkan saudara tentara tersebut.
Pada awalnya gerakan ini dianggap sepele oleh beberapa orang. Hal ini dikarenakan mereka berpikir bahwa gerakan ini tidak akan memiliki
mpact sekuat perang fisik. Namun ternyata gerakan Julid Fii sabilillah memiliki dampak yang nyata untuk tentara Israel. Akhirnya gerakan yang
awalnya hanya dilakukan warganet Indonesia pun akhirnya membuat berbagai warganet dari negara luar Indonesia tertarik untuk turut
berpartisipasi dalam gerakan ini. Diantaranya adalah netizen Malaysia dan Turki. Gerakan ini bahkan telah masuk ke dalam portal-portal berita Internasional. Bahkan banyak pihak-pihak Israel yang memberikan ancaman kepada masyarakat Indonesia dengan maksud agar teror mereka terhadap para tentara atau petinggi Israel segera dihentikan.
Dengan demikian dapat kita lihat bahwa rasa solidaritas kita sebagai manusia tidak hanya bisa diwujudkan melalui aksi unjuk rasa turun ke lapangan, namun bisa juga melalui pemanfaatan media komunikasi seperti Instagram, Facebook, X, dan Tiktok. Aksi Jihad Fii Sabilillah untuk membela Palestina ini telah menunjukkan bahwa komunikasi sosial, khususnya komunikasi massa dapat menjadi saran yang efektif untuk menyuarakan aspirasi dan menyampaikan informasi kepada masyarakat luas. Komunikasi sosial bisa digunakan untuk sarana meningkatkan kesadaran masyarakat tentang suatu isu atau masalah.
Oleh : Qurrotul Aini









