Beranda / Esai / Opini / Nilai-nilai Islam Sebagai Solusi Hegemoni Kapitalisme Barat

Nilai-nilai Islam Sebagai Solusi Hegemoni Kapitalisme Barat

Sejarah dan perkembangan Indonesia tidak terlepas dari kontestasi dunia. Campur tangan serta hegemoni asing tidak hanya mempengaruhi, ia bahkan mencengkram dalam aspek-aspek yang sangat kompleks seperti aspek sosial, budaya, politik, ideologi  serta ekonomi. Hegemoni itu telah terjadi pada masa pra-kemerdekaan dan masih berlangsung masif walau Indonesia telah merdeka dan kini disebut sebagai “Negara Berkembang”. Keterkaitan Indonesia dengan peristiwa global dan kepentingannya harus difahami untuk dapat menganalisa permasalahan yang terjadi. Seorang yang memahami Indonesia sebagai entitas yang berdiri sendiri ia akan menemukan kebuntuan dalam memecahkan masalah.

Pasca kemerdekaan, Hegemoni asing justru lebih mencengkram. Walau bukan lagi disebut penjajahan, eksploitasi sumber daya dengan pola yang berbeda justru lebih masif dan mengilusi.  Dulu, penguasaan asing dilakukan dengan penyerbuan fisik, namun saat ini upaya tersebut dicapai melalui penguasaan modal dengan sistem Kapitalisme berdalih pasar bebas. Modus seperti ini kiranya belum disadari masyarakat Indonesia.

Dalam kontestasi dunia terdapat dua kekuatan besar yang sedang beradu. Yaitu blok kapitalis dan blok komunis. Kedua kekuatan tersebut berseteru dan memperebutkan pengaruhnya pada negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Kondisi ini memunculkan Istilah “Negara Bagian Ketiga” karena wilayah tersebut hanya menjadi papan dalam percaturan kedua kekuatan tersebut. Baca

Kapitalisme adalah sebuah mode produksi yang bertujuan untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya produksi sekecil-kecilnya. Biaya produksi diminimalisir dengan menekan upah pekerja. Rumusnya adalah Modal-Komoditas-Uang(Modal). Maka dengan sistem seperti ini tentu akan menguntungkan pemilik modal. Pemilik modal akan semakin kaya dengan terus memekarkan modalnya dan yang miskin akan semakin miskin. Dengan dalih kebebasan individu alias HAM yang dipelopori blok barat atas nama PBB, sistem seperti ini terus eksis dan investasi modal asing di Indonesia semakin menjamur sedemikian rupa. Sistem seperti ini tidak akan menghantarkan masyarakat pada kesejahteraan. Kesenjangan dan ketidakstabilan yang  justru akan terjadi, sebagaimana telah tampak di bumi subur dan kaya ini. Baca

Islam tidak menghendaki sistem seperti ini. Sebagaimana kapitalisme, Islam mengakui hak individu, namun tidak sebebas-bebasnya. Islam memiliki aturan membatasi setiap individu dalam kekayaannya. Aturan ini tertuang dalam kewajiban zakat diimbuhi dengan anjuran sedekah bagi setiap individu yang berkecukupan. Jika orientasinya adalah kesejahteraan masyarakat bersama maka nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam sungguh sangat solutif menghadapi realita sosial saat ini.

Kapitalisme berwatak bebas dan abai, dengan mata telanjangpun system ini tampak buruk. Goalnya adalah kesejahteraan individu bukan kesejahteraan masyarakat. Perusahaan atau pabrik-pabrik berdiri tanpa memperhitungkan masyarakat sekitarnya, limbah dihempas seenak dengkul, sebagaimana telah terjadi di banyak tempat termasuk kota saya, banyak sekali pabrik-pabrik dan PT yang hanya berbuah keresahan bagi warga Jember. Para pemilik modal hanya peduli untuk menumpuk kekayaannya.

Melihat realita di atas maka tampak bahwa nilai-nilai Islam adalah antithesis dan solusi untuk mematahkan system tersebut. Kepedulian serta kesejahteraan bersama adalah nilai dan semangat Islam. Memupuk ego sama sekali tidak diajarkan dalam Islam. Islam menuntut seseorang untuk menjadi individu yang saleh ritual dan saleh sosial. Islam begitu kompleks mengatur interaksi antar sesama manusia, bahkan hubungan antar sesama manusia adalah  ajaran dasar dalam Islam. Kesejahteraan dan kesuksesan bersama adalah orientasi utama Islam. Untuk mencapainya Islam mengajarkan banyak hal, diantaranya adalah zakat.

Zakat adalah salah satu nilai Islam yang memiliki keterkaitan sangat erat dengan posisi kaum tertindas (mustad’afin). Mereka adalah tanggung jawab individu yang kaya atau berkecukupan, sehingga muncul istilah dalam Islam “Terdapat hak orang lain dalam harta kita”. Sabda ini bukanlah sebuah hayal, diksi yang digunakan adalah (mustad’afin) kaum tertindas. Mereka bukan miskin namun termiskinkan, bukan kaum lemah namun terlemahkan. Maka sabda tersebut sangat masuk akal karena bisa jadi mereka yang berkecukupan termasuk golongan yang menindas walau bukan pelaku dan hanya kontributif dalam eksistensi dan kelangsungan system atau hierarki yang menindas tersebut.

Islam sangat memperhatikan dan menekankan zakat, bahkan zakat termasuk satu dari lima tiang agama (Rukun Islam). Bukan hanya beras dalam zakat fitrah yang harus ditasarufkan pada kaum mustad’afin, ada beberapa zakat yang harus ditasarufkan seperti zakat harta, ternak dan panen. Jika setiap individu memupuk kepeduliannya dan mentasarufkan zakatnya tentu akan dapat menekan kemiskinan dan kesenjangan serta kestabilan akan terjaga.

Untuk kesejahteraan masyarakat dan antithesis kapitalisme, kesadaran akan nilai-nilai Islam terkhusus zakat harus dibangkitkan. Terlebih zakat adalah kewajiban bagi umat Islam yang menjadi masyarakat dominan di Indonesia. Zakat bukan hanya dipandang sebagai kewajiban namun juga solusi. Setiap masyarakat harus menyadari hal ini khususnya para tokoh agama maupun pemangku kebijakan. Kesadaran adalah langkah awal untuk proses selanjutnya. Kesadaran serta praktek zakat yang minim akan menjadi lahan subur untuk hegemoni kapitalisme di Indonesia.

Ilustrasi: Google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *