Beranda / Esai / Opini / Industrialisasi Pendidikan

Industrialisasi Pendidikan

Ilustrasi: Himmah/Pradipta Kurniawan

Pendidikan sebuah awal dalam transformasi berkembangnya suatu negara. Pendidikan adalah proses pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan suatu kelompok orang yang diturunkan dari generasi ke generasi. Pendidikan berfungsi sebagai pembentukan diri dari kemampuan, keahlian, etika dan akhlak untuk menjadikan suatu pribadi yang lebih baik. Pendidikan juga sebagai sarana untuk membekali diri dalam menghadapi dunia bermasyarakat karena bukan hanya tentang pengetahuan saja, melainkan meliputi pula sosial, etika, maupun adab.

Menurut Plato substansi dari pendidikan sendiri adalah mengarahkan pengetahuan yang dimiliki murid pada porsi seharusnya dan pendidikan bukan hanya sekedar transfer ilmu pengetahuan. Dalam konteks pendidikan Plato direncanakan dan diprogram menjadi tiga tahapan dengan acuan dari usia, diawali dengan tahap awal yang dimana pendidikan diberikan kepada murid sampai umur dua puluh tahun, dan tahap kedua dari umur dua puluh tahun sampai tiga puluh tahun, dilanjutkan kepada tahap ketiga dari umur tiga puluh tahun sampai empat puluh tahun. Pendidikan oleh Plato sendiri adalah mengusung bagaimana hal tersebut memberikan marwah akan kebermanfaatan.

Pendidikan sendiri sudah dinash dan dijamin oleh negara dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3 yang berbunyi “Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Jaminan atas pendidikan adalah tanggung jawab negara untuk mencerdaskan rakyatnya. Disinyalir adanya penggeseran lokus-lokus pendidikan dari substansinya yang membebaskan menjadi formalitas yang ada.

Kualitas pendidikan negara juga berada diperingkat rendah dalam survei CEOworld yang hanya mendapatkan skor 46,6 dan mendapati peringkat ke-70 global. Nilai ini juga mempengaruhi adanya faktor penghambat yang ada. Sebagaimana kita ketahui bahwa esensi dari industri telah mencemari pendidikan yang saat ini berlangsung. Melalui fenomena itu terjadinya Industrialisasi pendidikan juga merupakan problem masa kini yang tidak dapat dirasakan, meninjau dari atmosfer yang ada bagaimana seorang peserta didik didikte bagaimana pendidikan itu adalah suatu hal untuk mencari ladang pekerjaan. Dari kacamata tersebut dapat ditemukan suatu pengerucutan terkait marwah pendidikan yang harusnya membebaskan menjadi sebuah ladang industri dan menyebabkan output dari pendidikan tersebut bukan menjadi mencerdaskan akan tetapi dikte sebagai sebuah industri kaum kapitalis.

Sistem pendidikan yang berlaku juga memberikan  adanya ruang penyempitan terhadap jalan dalam memperoleh pendidikan yang terpaku pada formalitas, konstruk dari sistem pendidikan di negeri ini terpaku pada kelas kelas yang ada. Terbatasnya seseorang dalam menunut ilmu yang di mana harus melalui kelas-kelas tersebut, di mana proses pendidikan yang terjadi memiliki penurunan dan penghambat bagi peserta didik yang mengetahui materi serta kreatifitas yang lebih harus diikutkan kepada kelas yang sama.

Supremasi pendidik disini juga memiliki kendali penuh terhadap peserta didik, dimana pendidik/guru dapat memberikan materi serta membuat kebijakan dalam ruang lingkup kelas. Dan titik kunci dari berkembangnya suatu peserta didik adalah pada pendidik/gurunya. Terkadang pendidik/guru ketika sedang dalam proses transfer mereka mengeluarkan semua isi kepalanya yang dimana membuat peserta didik bingung akan esensi yang akan ditangkap oleh akal. hakikat dari seorang pendidik/guru adalah memaparkan suatu materi khusus yang dikonsep secara umum. sebelum adanya itu pendidik/guru harus mengetahui karakter dari peserta didiknya mengenai pemahaman mereka terhadap hal hal yang mendasar.

Semakin lama nilai dari pendidikan semakin memudar, entah dari peserta didik yang meninggalkan esensi dari pendidikan yang menjadi formalitas untuk mendapat pekerjaan, maupun pendidik/guru yang hanya dapat mengajar dalam tanda kutip hanya paham masalah mengajar bukan paham suatu pembahasan.

Pendidikan sendiri harus membebaskan dari nilai nilai yang membelenggu yang kemudian agar tidak adanya nilai nilai yang dihilangkan mengenai pendidikan. Menurut plato sendiri industrialisasi pendidikan dari penjabaran beliau dapat ditinjau bahwa pendidikan disistem dalam suatu kerangka pemerintahan. Walaupun industrialisasi pendidikan baru muncul dalam akhir akhir ini, akan tetapi dalam karya plato mengenai pendidikan dan negara ideal memadukan dan menjawab akan problematika yang terjadi.

“Saya Tidak Menemukan Pendidikan Tapi Pendiktean”

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *