Berbicara tentang etika dan norma, apa yang bisa menembus dan mengetahui hati dan pikiran seseorang seutuhnya? Pertanyaan itu barangkali terkesan sederhana, namun nyatanya hingga kini pertanyaan itu tak pernah terpecahkan. Biar bagaimanapun pengetahuan manusia itu terbatas dan barangkali itu niscaya. Karena itu tak ada yang lebih layak dipercaya selain diri sendiri.
Tentu bukan ingin menampakkan idealisme di muka umum, namun ini nyata bahwa menjelang konstelasi politik pemilihan presiden dan wakil presiden 2024 sulit kita membedakan mana yang murni atas kehendak hati dan mana yang berorientasi pada kejanggalan terselubung yang bernaung di bawah tabir normalisasi hukum.
Bicara politik tentu ada aturan mainnya tak melulu politik dimaknai sebagai suatu praktik perebutan kekuasaan yang secara serampangan dikonsumsi menjadi bentuk negosiasi. Di satu sisi barangkali betul bahwa dalam politik ada proses negosiasi, namun di sisi lain ada cita-cita mulia yang bisa kita ukur melalui berbagai macam cara. Politik adalah sarana bukan tujuan bahkan politik harus menciptakan kesejahteraan, keadilan, dan kebijaksanaan bukan semata-mata merebut kekuasaan.
Akhir-akhir ini kita dipertontonkan betapa kerasnya kehidupan tanah air menjelang pesta demokrasi lima tahunan. Hingga yang idealis sekalipun tertunduk rapuh pada kekuasaan. Betapa hukum dipermainkan, aturan dibuat secara serampangan dengan tujuan melanggengkan kekuasaan. Nyatanya sebagian dari kita tidak menutup mata bahwa kejahatan tersusun secara sistematis dan terindikasi akan menjadi pintu masuk kehancuran demokrasi.
Sebagian dari mereka (penguasa) berdalih bahwa karena demokrasi setiap orang terbebas dari jerat hukum yang menghantui tindak-tanduk lawannya. Namun lebih dari itu, dengan demokrasi pula mereka merebut hak orang-orang yang hendaknya diperlakukan sama baik dalam kontestasi maupun praktik kenegaraan lainnya. Tentu yang barangkali dilupa oleh mereka adalah demokrasi itu tidak dirancang demi efisiensi namun ada pertanggungjawaban yang tentu tak hanya berupa administrasi tetapi pertanggungjawaban moral yang akan dicatat oleh semua orang.
Tetap dalam persoalan demokrasi, saya ingin ingatkan karena barangkali lupa bahwa ada beberapa prinsip dasar yang perlu diketahui dan diterapkan yaitu prinsip berdasarkan konstitusi, pemilu yang demokratis, desentralisasi, keterbukaan, dan beberapa prinsip dasar lainnya.
Etika itu penting bahkan politik tanpa etika akan bias tak terarah dan nyatanya kemaslahatan, keselamatan, keadilan, dan kesejahteraan harus ada di atas segala-galanya. Tak ada negosiasi yang ditujukan untuk kehancuran, tak ada yang layak dipercaya selain diri sendiri, tak ada politik yang menciptakan kesenjangan, ketidakadilan dan keserakahan. Karena itu yang bisa dilakukan adalah memunculkan kesadaran agar pikiran rasional betul-betul membawa pada pilihan yang tepat, hati yang tenang tanpa represi dari apapun di luar dari diri sendiri.
Oleh : Sahabat Kirwan









