Beranda / Esai / Opini / Surat Dari Pinggir – Sebuah Monolog

Surat Dari Pinggir – Sebuah Monolog

Bismillah kami ingin menulis untuk redaksi yang katanya didirikan untuk membela dan mendukung tujuan daripada aspirasi-perjuangan rakyat.

Oleh sebab hegemoni para kapitalis dan sebangsanya yang tak mengaku yang telah menggunakan beragam cara yang berhasil mendukung tindakan marginalisasi, pembohongan, dan pembodohan. Sependek pemahaman kami, kapitalis tak sekedar pemilik modal.

Kami tak ingin dibela, sungguh tak ingin. Kami hanya ingin setiap yang membaca tahu. Bahwa kami masih ada disini -dengan segala ketidakterimaan, kesulitan, dan ketidaktulusan dalam menjalani hari-hari. Karena apa yang sedang kami lakukan, tidak sesuai dengan yang harus kami lakukan.

Kami berterimakasih. Kami hari ini menyadari dengan sesungguh-sungguhnya, perbedaan antara tanggungjawab dan kebutuhan hidup. Bahwa kebutuhan hidup tidak ada apa-apanya dengan tanggungjawab yang datang tiba-tiba.

Kami merasa kami sangat berusaha untuk totalitas dalam setiap pekerjaan. Bahkan pekerjaan yang kami lakukan dengan tanpa adanya cinta.

Dulu kami belajar tentang cinta yang sangat fundamental, yang dengannya segala pekerjaan tak terasa berat dipikul. Hari ini, cinta bagi kami tak sesakral dulunya. Yang tumbuh dengan sendirinya dan tanpa paksaan. Hari ini cinta bahkan dalam bisa ditekan dan dibuat-buat. Cinta tak lagi merupakan hal yang fundamental.

Kami sebagai manusia tak terdengar merasa harus memaksakan senyum saban harinya. Untuk menunjukkan pada sekeliling kami, bahwa kami baik-baik saja. Semua masih sesuai dengan yang mereka inginkan. Selain daripada itu -entah bisa terwujud atau tidak, kami hanya ingin apa yang terjadi pada kami tak terjadi pada orang-orang setelah kami.

Kami tak ingin nyinyir, ataupun mengutuk siapapun. Karena kami melihat bahwa setiap orang yang kami temui adalah tumbal zaman pada masanya. Semuanya seakan menerima itu sebagai suatu proses pembelajaran dan pendidikan. Mengapa pendidikan hari ini berat sekali, gusti.

Kami hanya bisa berharap semua yang kami lakukan tidak sia-sia -bahkan untuk hal yang utopis sekalipun. Sejauh ini kami hanya bisa berharap.

Apalagi setelah beberapa langkah berjalan, kami menemukan. Bahwa ekspektasi kami ternyata terlalu mulia. Nilai-nilai yang kami jadikan bekal dan kami sandang setiap harinya ternyata belum bisa terealisasi dan rasanya masih lama waktu untuk mewujudkannya.

Selamat menjadi manusia mekanis, selamat memperbaiki dan diperbaiki.

 

 

Oleh : Anonim

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *