Gelanggang aksi dan aktivisme di Indonesia memiliki daftar putar lagunya sendiri. Lagu-lagu ini adalah bahan bakar, pengikat solidaritas, sekaligus penanda zaman. Ketika turun ke jalan, ada lagu-lagu tertentu yang hampir pasti akan terdengar, menjadi semacam “lagu wajib” perjuangan.
Kita tentu akrab dengan himne abadi seperti “Darah Juang” yang menggetarkan, “Buruh Tani” (atau “Pembebasan”) yang membakar semangat, atau “Totalitas Perjuangan” (Mars Mahasiswa) yang lantang. Lagu-lagu ini, banyak diantaranya lahir dari rahim gerakan Reformasi 1998 atau bahkan jauh sebelumnya, telah teruji oleh waktu dan terbukti ampuh memompa adrenalin massa.
Namun blantika lagu perjuangan telah lama tidak menumbuhkan lagu perjuangan baru. Bukan hendak mengatakan bahwa lagu-lagu perjuangan yang lama telah usang atau tidak relevan. Hanya saja dinamika perjuangan massa dan rakyat terus mengalir dari waktu ke waktu, entah itu pasang atau surut, lagu perjuangan baru tidak tumbuh. Seakan pergerakan di zaman ini tidak diisi oleh mereka yang piawai yang menggubah chant atau lagu mars. Fakta sebenarnya tentu tidak begitu. Lagu perjuangan atau chants baru tetap hal yang dibutuhkan. Setidaknya sebagai simbol yang mengesankan dinamika perjuangan ini tidak statis. geliat perjuangan rakyat adalah nyata dan kreatif.
Seakan menjawab kebutuhan itu, Rara Sekar (melalui proyek musiknya, Hara) merilis sebuah lagu yang secara eksplisit dimaksudkan sebagai chant untuk aksi massa. Lagu itu dia unggah di akun Instagramnya @musikhara. Di postingannya itu tidak jelas apa judul dari lagu chant ini. Namun Hara memulai captionnya itu dengan tulisan “Rakyat Bersatu, Pasti Menang ”.
Berikut adalah lirik lengkapnya:
Hutan kita kau bakar
Sungai kering kerontang
Gunung ditambang
Pesisir kan tenggelam
Bumi, air dan kekayaan alam
Dikuasai oleh segelintir orang
Rebut ruang
Mari kita berjuang
Rakyat bersatu
Tak bisa dikalahkan
Kita semua manusia
Berhak untuk merdeka
Ibu ibu, orang muda, orang tua
Buruh tani, buruh pabrik, guru dan mahasiswa
Desa, kota, semua harus sejahtera
Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan
Tak ada waktu untuk kalah dan pasrah
Musim semi, benih bermekaran
Pasti menang,
Pasti menang
Fajar merah akan datang
Kita semua manusia
Berani dan percaya
Ibu-ibu, orang muda, orang tua
Buruh tani, buruh pabrik Guru dan mahasiswa
Desa, kota, semua harus sejahtera!
Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan
Tak ada waktu untuk kalah dan pasrah
Musim semi benih bermekaran
Pasti menang,
Pasti menang
Fajar merah akan datang
Fajar merah akan datang
Pesan Persatuan, Bukan Sekadar Kemarahan
Jika kita bedah, banyak lagu perjuangan yang ada saat ini berfokus pada merekam kemarahan kolektif, kemarahan vertikal pada struktur kekuasaan yang disfungsional atau lebih jauh, lalim. Lirik-liriknya menyoroti ketimpangan, kebobrokan aparat, dan penderitaan rakyat dengan nada yang bergelora dan membakar amarah. Penulisan lirik seperti itu penting dan perlu sebagai katarsis kolektif.
Namun, lagu “Rakyat Bersatu Pasti Menang” menawarkan pendekatan yang sedikit berbeda. Meski dibuka dengan rap yang lugas memotret realitas kerusakan (hutan dibakar, gunung ditambang, pesisir tenggelam), inti dari lagu ini, bagian yang diulang-ulang sebagai chant, justru bergeser dari kemarahan ke harapan.
Lagu ini hadir dengan nada yang relatif lebih tenang namun ajeg (stabil). Alih-alih melulu merekam kemarahan, liriknya seakan menjadi pengingat dan imbauan kolektif. Lirik seperti “Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan” dan “Tak ada waktu untuk kalah dan pasrah” adalah afirmasi positif.
Fokusnya adalah pada masa depan (“Musim semi benih bermekaran,” “Fajar merah akan datang”) dan prasyarat untuk mencapainya adalah persatuan (“Ibu-ibu, orang muda, orang tua, Buruh tani, buruh pabrik, guru dan mahasiswa“).
Lagu ini adalah pengingat bahwa perjuangan bukan hanya soal meluapkan murka, tapi juga soal merawat harapan dan keyakinan bahwa kemenangan itu “pasti menang” apabila kita bersatu. Bahwa melebihi marah-marah bersama-sama adalah merawat amarah itu dalam gerakan kolektif yang menyatukan dan bernafas panjang.
Tidak ada gading yang tak retak, lagu ini pun hemat penulis punya sedikit detail yang mengganggu. Yakni lirik “musim semi benih bermekaran”. Sebagai lagu berbahasa Indonesia, penulis lirik tampaknya melupakan fakta geografis di negeri tercinta ini yang hanya memiliki dua musim, hujan dan kemarau. Musim semi di sini hanya ada di fiksi negara Konoha dan jejepangan lainnya. Namun detail ini tentu tidak signifikan (dan tidak memberikan arti bahwa benih-benih di negeri ini tidak dapat mekar hehehe)
“Rakyat Bersatu Pasti Menang” adalah sebuah amunisi baru yang segar. Ini adalah lagu yang sangat patut untuk didengarkan, dihafalkan, dan dibawa bersama-sama ke gelanggang-gelanggang aksi kita.









