Geger.id – Bagi kami, para mahasiswa di ambang pintu kelulusan, ada satu kata yang lebih sakral daripada “diskon” atau “liburan”: Skripsi. Sejak semester awal, kata ini sudah didengungkan di telinga kami bak mantra suci. Kita diajarkan bahwa skripsi adalah sebuah mahakarya intelektual, puncak pengabdian kita pada Tri Dharma Perguruan Tinggi yang luhur, sebuah warisan pemikiran yang akan dikutip oleh generasi mendatang dan (siapa tahu) mengubah dunia.
Namun, dalam praktiknya, skripsi yang (katanya) harus berkualitas penelitian ini, sering kali malah lebih efektif menimbulkan depresi akut ketimbang pencerahan intelektual.
Inilah letak kekeliruan pertama kita. Kita terjerat dalam “romantisme penderitaan”. Kita merasa harus ikut dalam perlombaan global membanjiri media sosial dengan foto laptop yang menyala di jam 3 pagi. Kita pamerkan cangkir kopi yang sudah entah keberapa liternya. Kita pasang wajah lelah paling artsy dengan caption, “Pejuang revisi, Bismillah sidang.”
Semua drama ini kita ciptakan untuk menyiratkan satu kesan: kita sedang mengerjakan sesuatu yang sangat fundamental, sebuah topik penelitian yang berbobot dan akan mengguncang peradaban. Kita sedang menjadi Intelektual.
Akan tetapi, setelah melalui perenungan mendalam (di sela-sela scrolling meme skripsi dan mencari template jurnal gratisan), kami menemukan sebuah fakta yang luar biasa melegakan: ternyata topik kita biasa saja. Bahkan, maaf, beberapa skripsi yang kami ketahui—dan mungkin yang sedang kami kerjakan—adalah sampah.
Tunggu, jangan tersinggung dulu. Ini bukan hinaan. Ini adalah pencerahan. Epiphany.
Kami akhirnya sadar bahwa kami telah salah memahami tujuan skripsi selama ini. Kami terlalu serius. Kami mengira kami harus menjadi penemu hebat, padahal yang diminta hanyalah menjadi pengarsip yang rapi. Lantas, untuk apa menulis skripsi dengan begitu serius? Apalagi jika kita melihat dengan mata kepala sendiri, proposal dan skripsi yang “biasa saja” (baca: seadanya) sudah jelas-jelas diloloskan oleh kampus.
Inilah letak kebahagiaan kita yang tersembunyi. Kita harus berterima kasih kepada para senior dan kolega yang telah menjadi pelopor “efisiensi akademik”. Merekalah pahlawan tanpa tanda jasa.
Mereka menemukan bahwa skripsi bisa diselesaikan dengan subjek yang datanya sengaja diambil dari sumber paling mudah, dan itu pun—demi mengejar tenggat waktu—masih dipalsukan sedikit. Sungguh sebuah optimalisasi waktu dan manajemen stres yang jenius.
Kita juga melihat inovasi brilian pada skripsi yang subjeknya adalah hanya mengenai perencanaan. Ini sungguh aneh sekaligus menakjubkan. Apa yang bisa dianalisis dari sesuatu yang bahkan belum terjadi? Apa yang mau diuji dari sekadar rencana? Jawabannya: tidak ada. Dan itulah intinya! Ini bukan penelitian, ini peramalan. Ini fiksi ilmiah berkedok karya akademik. Minim analisis, minim stres, nilai aman.
Kreativitas ini tak terbatas. Saking santainya, bahkan ada yang berani (secara guyon, atau mungkin serius?) mengajukan judul seperti “Analisis Daya Tahan Jomblo terhadap Gaya Tikung Lawan pada Gebetan Setarget“. Dan kita semua tertawa, padahal dalam hati kita berkata, “eh bisa beneran ya?”.
Kami sadar, kami telah salah fokus. Kami sibuk memikirkan metodologi kuantitatif, kualitatif, atau mixed-method. Kami pusing mencari grand theory. Sementara itu, kampus dan seluruh sistem di dalamnya jelas-jelas memberi sinyal bahwa semua ini hanya formalitas! Kita berterima kasih pada dosen pembimbing yang review-nya hanya, “Tolong rapikan layout,” atau “Ini typo-nya banyak.” Mereka tidak peduli dengan substansi kita yang rapuh; mereka peduli pada kerapian sampul. Mereka adalah fasilitator kebahagiaan kita.
Pencerahan ini mengubah segalanya. Depresi kami berganti menjadi strategi. Kami akhirnya paham bahwa pencapaian sesungguhnya dalam skripsi adalah: segera selesai.
Tujuan akhirnya bukanlah kontribusi ilmiah yang akan dipajang di jurnal Scopus Q1. Bukan! Tujuan akhirnya adalah presentasi sidang yang cool, sinematik, dan instagramable!
Buat apa pusing memikirkan isi Bab 4 yang datanya meragukan itu? Toh, sidangnya mungkin hanya berlangsung 7 menit—lebih singkat dari durasi iklan di YouTube. Kita tak perlu khawatir. Dosen penguji pun tampaknya sudah maklum. Mereka sudah terlalu lelah membaca puluhan “sampah” serupa. Mereka akan mengangguk-angguk paham, melontarkan satu-dua pertanyaan standar yang jawabannya sudah ada di slide kita, dan bersedia ikut standar sampah mahasiswanya.
Maka, kawan-kawan seperjuangan, mari kita becandain aja. Mari kita tertawakan romantisme penderitaan yang kita ciptakan sendiri. Skripsi ini toh memang sudah direncanakan oleh takdir untuk dilupakan segera setelah kita mendapat izin kelulusan.
Jangan lagi depresi. Sambutlah kenyataan bahwa skripsi adalah formalitas agung. Sebuah ritual administrasi. Selesaikan secepatnya, pakai jas terbaikmu, desain PowerPoint-mu lebih cantik dari isimu, berfoto dengan cool saat dinyatakan lulus, unggah di media sosial, dan lupakan semuanya.
Inilah “sampah” yang menjadi sumber kebahagiaan kita. Inilah mahakarya efisiensi kita.









