Geger.id – Malam Minggu di Yogyakarta adalah usaha mencari-cari kesibukan dan mengeluarkan diri dari imajinasi cecunguk kesepian yang tidak tau cara bersenang-senang.
Saya duduk sendirian di sebuah kafe yang—kata orang-orang—ngetop dan selalu ramai. Di luar, riuh ramai jalan Kotabaru bersumber dari suara mobil-mobil yang mengantre untuk mencapai jalan Malioboro lewat bundaran gor Kridosono. Lalu lintas Jogja selalu padat oleh orang-orang yang sibuk menghabiskan uang di waktu-waktu seperti ini. Di dalam sini, suasananya… bising. Ada live music, suaranya kencang sekali, beradu dengan tawa orang-orang di meja sebelah yang sepertinya sedang merayakan ulang tahun temannya. Kok bisa– pikir saya– orang berulang tahun tepat di malam Minggu. Atau sebenarnya ulang tahunnya tidak benar-benar jatuh di Malam Minggu, namun wadah hidup kita yang tersentral dalam kapitalisme ini hanya membolehkan perayaan-perayaan dilaksanakan di akhir pekan. Sebab roda kapital yang efisien tidak bisa diganggu oleh hari lahir siapa pun, kecuali mungkin, si bos.
Saya, seorang mahasiswa semester akhir, duduk di sudut, sendirian– memeluk meja kayu dingin dan segelas es kopi susu yang harganya mungkin bisa untuk makan tiga kali di warteg. Teman-teman seangkatan saya? Oh, mereka sudah (hampir) tidak ada. Satu per satu, mereka diwisuda, lalu pulang kampung, atau pindah ke Jakarta untuk mencari peruntungan–seperti cerita-cerita yang dinyanyikan Perunggu di lagu “Tapi”. Menyisakan saya di kota ini dengan sisa-sisa keberanian, sisa-sisa teman yang bisa dihitung jari, dan tentu saja, sisa saldo rekening yang tipis tapi berani.
Malam Minggu sendirian di tengah keramaian itu rasanya aneh. Seperti menonton film yang bagus sekali, tapi kamu satu-satunya orang di dalam bioskop. Awalnya seru dan menyebabkan senyum-senyum sendiri, tapi lama-lama… ya, sepi.
Dan dari kesepian inilah pikiran saya mulai jalan-jalan.
Saya jadi berandai-andai. Coba, ya, andai saja saya masih punya banyak teman di sini. Atau andai saja saya orangnya lebih supel, punya circle pertemanan yang lebih luas dan bermacam-macam, yang isinya bukan cuma teman se-fakultas.
Pasti, “hajat pribadi” saya untuk keluar dari kos di malam Minggu bakal beda. Pasti ada saja yang mengajak, “Nongkrong, yuk!” atau “Kafe baru, nih, cobain!”. Dan karena saya tidak mau dicap cecunguk menyedihkan yang tidak tau cara bersenang-senang (meskipun mungkin iya haha), saya akan ikut.
Kalau sudah begitu, konsumsi pribadi saya pasti naik, kan? Saya akan pesan kopi, mungkin snack. Teman saya juga. Lalu kami akan pindah tempat, mungkin makan malam sate atau mengelilingi ruas jalan utama sampai menemukan bakul Mie Ayam yang tampak meyakinkan. Konsumsi kami sebagai satu kelompok kecil—satu circle—akan bertambah.
Saya jadi mikir, kalau begitu, kami ini, pribadi-pribadi yang beraspirasi menjadi orang-orang seru dalam lingkar pertemanan ini, sebenarnya adalah unit ekonomi kecil yang penting. Kami jadi penyumbang pendapatan untuk UMKM atau bisnis-bisnis di kota ini.
Analisis sederhana saya bilang: semakin banyak teman yang dimiliki seseorang di kota ini, semakin tinggi frekuensinya untuk keluar, dan semakin tinggi pula konsumsi individunya. Kalau dikalikan dengan jumlah rombongan, boleh lah dibayangkan bahwa kami adalah pahlawan ekonomi lokal.
Saya, dalam kesendirian saya malam ini, adalah potensi ekonomi yang gagal. Seorang konsumen yang tidak maksimal.
Tapi… tunggu dulu.
Pikiran saya berlanjut. Saya melihat sekeliling kafe ini. Desainnya bagus, entah apa nama konsep bangunan ini, lampunya temaram estetik dan banyak sekali ruang dan meja yang menghasilkan suara ambience dari kerumunan pengunjung. Musiknya juga oke. Tapi, saya jadi bertanya-tanya, tempat sebagus ini… apa benar ini milik “UMKM daerah”? Apa benar ini milik orang masyarakat lokal asli?
Entahlah. Rasanya, kok, seperti bukan, ya.
Tempat-tempat seperti ini, yang menjamur di setiap sudut ramai Yogya, punya bau-bau modal besar. Bau investasi dari orang-orang yang mungkin tinggalnya di Jakarta atau Surabaya. Mereka menanamkan uangnya di sini, membangun gerai FnB yang cantik-cantik, lalu mengambil keuntungannya.
Lalu, di mana posisi masyarakat Yogyakarta yang asli?
Pikiran saya jadi makin tidak enak. Takut terlampau sok tau atau salah sangka. Tapi izinkan saya menyelesaikan perenungan kesepian ini. Mungkin… mereka, masyarakat lokal, adalah yang menadah sisa-sisa berkah dari perputaran uang konsumsi kami ini. Mereka yang bekerja di sini. Mereka yang jadi kasir, jadi pelayan yang clear-up meja saya, jadi barista, atau jadi juru parkir di depan.
Mereka ada di payroll. Itupun, yang sering kita dengar, banyak dari mereka yang statusnya pekerja informal. Soal pendapatan, kita semua pernah mendengar kabar soal UMK di kota ini, kan?
Bahkan, ironi ini jadi makin berlapis. Banyak teman-teman kos saya, yang juga perantau seperti saya, bekerja sambilan di kafe-kafe. Jadi, bahkan para pekerja informal yang diserap oleh denyut nadi hiburan kota ini pun, sering kali adalah pendatang.
Lalu… penduduk aslinya ke mana?
Ini fakta sosiologis yang mudah bikin sedih. Penduduk asli Yogyakarta yang mungkin mata pencahariannya diserap oleh sektor pariwisata ini, yang pendapatannya (mungkin) pas-pasan di bawah UMK itu, kemungkinan besar tidak bisa berinteraksi dengan kotanya sendiri.
Maksud saya, berinteraksi dengan cara saya berinteraksi dengan kota ini.
Mereka mungkin tidak pernah duduk di kafe tempat saya duduk ini, memesan kopi seharga dua porsi makan. Mereka mungkin tidak pernah mengunjungi tempat-tempat hiburan yang review-nya bintang lima di Google Maps. Bukan karena tidak mau, tapi karena—sederhana saja—itu kemewahan yang tidak terjangkau.
Mereka melayani, tapi tidak ikut menikmati. Mereka ada di dalam pesta, tapi sebagai tangan-tangan yang sibuk di belakang tembok dapur, bukan di ruangan utama pesta.
Astaga. Pikiran saya jadi jauh sekali.
Padahal, semua analisis rumit tentang modal ventura, dislokasi sosial, dan ketimpangan ekonomi di kota pariwisata ini… semuanya dimulai dari satu hal yang sangat sepele.
Semua ini datang karena saya kesepian di Malam Minggu. Karena saya tidak punya teman untuk diajak menghabiskan Malam Minggu ini bersama-sama.
Hiks.









