YOGYAKARTA- “Saduluran Saklawase”, tema yang diangkat dalam festival Jazz Kotabaru 2023. Dalam bahasa indonesia tema tersebut berartikan “Bersaudara Selamanya”. Tema ini dianggkat sebagai bentuk simbol toleransi. Nilai yang ada dalam penampilan menuai makna tersirat dari toleransi.
Sabtu, 11 November 2023 acara ini dimulai dengan sambutan kepala RRI dan dilanjutkan dengan penampilan Sanggar Sekar Widoro, Sanggar Kerikil KAPMI, Sanggar Tari Lestari Budoyo, Padz Band, Tari Rampoe UGM, UKM Band UNY (Lost In Eden), Jazz Mben Senen (Groub 1), dan Jazz Mben Senen (Groub 2), dan ditutup dengan penapilan Taksu.

Acara ini diselenggarakan oleh gabungan tiga pemuda rumah ibadah: Masjid Syuhada, Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), dan Gereja Katholik Antonius Padua. “80 orang delegasi dari masing-masing rumah ibadah turut andil menjadi panitia Jazz Kotabaru.” Ujar Mukhsin selaku ketua panitia.
Jazz Kotabaru diselenggarakan didepan Gedung RRI Yogyakarta. Panggung minimalis dengan banyaknya aksesoris membuat panggung kurang apik, namun dengan dibalut sorot lampu yang meriah membuat acara ini terlihat lebih hidup. Meskipun acara ini meriah namun penonton kurang ramai. “Dibanding tahun kemarin tahun ini lebih sepi penontonnya, padahal dari segi acara yang diadakan sudah cukup meriah.” Ujar Nanang salah satu pengunjung Jazz Kotabaru.

Acara ini memang sudah ada sejak 2019, namun dalam penyebutannya bukanlah Jazz Kotabaru melainkan Jazz Syuhada. Acara ini merupakan festival yang ke-5. Perubahan nama ditujukan agar acara ini lebih dikenal sebagai acara di Kotabaru.
Tak jauh dari temanya, Jazz Kotabaru memuat semangat toleransi yang digaungkan oleh tiga Rumah Ibadah di Kotabaru. Harapannya adalah dengan diadakannya acara ini, semoga persatuan dan kesatuan antar umat beragama dapat terjaga. (Arya P A)









