Yogyakarta (14/11/23) – Acara seremonial Seminar Nasional Filsafat 2023 dibuka tepat pukul 09.12 WIB. Kegiatan Seminar ini merupakan salah satu program kerja tahunan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Kegiatan ini mengundang dua narasumber dari latar belakang berbeda dengan tujuan meninjau antara dua sudut pandang. Narasumber pertama yang dihadirkan ialah Drs. Abdul Malik Usman, M. Ag., M. Si., salah satu dosen Fakultas Filsafat di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Beliau merupakan dosen yang fokus dalam bidang sains. Narasumber kedua yaitu Dr. Waryani Fajar Riyanto, S. H. I., M. Ag., seorang dosen yang konsentrasi pada bidang tasawuf falsafi. Pemaparan kedua narasumber dimoderatori oleh dosen Aqidah dan Filsafat Islam sendiri, yaitu Bapak Muhammad Arif S. Fil. I., M. Ag.
“Tujuan dari diselenggarakannya kegiatan ini adalah, kita ingin melihat bagaimana konsep integrasi-interkoneksi diterapkan dalam ruang dialog antara sains dan nalar agama serta bagaimana kedua hal tersebut bekerja dalam kerumitan era post-truth saat ini.” Ujar Fairuz Abror selaku ketua panitia dalam kegiatan ini saat ditemui redaksi di sela-sela aktivitasnya.

Kegiatan dengan tajuk Seminar Nasional Filsafat 2023 dengan tema Meninjau Nalar Agama dan Sains di Era Post-Truth ini berlokasi di Convention Hall dan dihadiri oleh peserta dan undangan yang lumayan banyak mencapai 183 peserta yang terdiri dari Mahasiswa AFI semester 1 sampai 5, dan beberapa khalayak umum. Selain itu terlihat pula kehadiran beberapa perwakilan himpunan dari instansi lain seperti HIMAFIL IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan HMPS AFI UIN SATU Tulungagung. Seminar terlihat aktif dengan peserta yang responsif menanggapi pemaparan narasumber.
Dalam seminar tersebut, Dr. Waryani Fajar mengatakan bahwasanya Di era saat ini, kebenaran adalah keberpihakan massa. Kebenaran dapat dimunculkan dari seberapa banyak orang yang mengutarakan kebenaran itu. Maka seorang mahasiswa filsafat punya pikiran yang radikal, bisa berpikir apa saja. Lalu beliau menghimbau kepada para mahasiswa AFI agar terus fokus belajar filsafat, karena konsep pembelajaran tertinggi adalah filsafat. Dan perlu diperhatikan pula era post-truth mengandaikan the real truth.

Sedang dari sudut pandang sains Drs. Abdul Malik menyangkal bahwa sains dan agama bisa disatukan, melainkan hanya berdampingan. Wahyu ditujukan untuk manusia, sedangkan wahyu diperoleh dari akal. Filsafat lah yang dapat mempertemukan antara nalar agama dan sains. Menurut Umar Kayam, Ilmu modern tidak lagi dapat berdiri sendiri. Pengkotak-kotakan dalam berbagai bidang ilmu, hanya membuat ilmu itu sendiri tidak berkembang. Sayangnya, pengkotak-kotakkan ilmu ini langgeng terjadi pada ekosistem akademik kita. Sehingga seluruh akademisi yang dilahirkan dari pendidikan akademik kita, hanyalah produk dari pengkotakkan ilmu tersebut. Maka dari itu perlu adanya ventilasi yang dapat melubangi kotak-kotak itu. Perlu ada upaya menembus horizon keilmuan, yang dapat mengintegrasi dan menginterkoneksikan berbagai bidang ilmu.
Maka menurut beliau, saat ini kita naik satu tingkat karena dulu kita ‘berpikir maka aku ada’ maka beda lagi dengan saat ini karena “kita berpikir untuk memaknai yang ada’. Akal dan wahyu mestinya diposisikan “setara”. Hal ini tidak lain karena kesetaraan fungsi yang dimiliki oleh keduanya. Wahyu bisa turun karena akal. Tanpa keberadaan akal, tidak akan ada jembatan antara wahyu dengan manusia yang menerimanya.
Salah satu undangan dari HIMAFIL IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Wahil Hamdi berpendapat, “Untuk Pemateri keduanya sangat berkualitas dan sesuai juga dengan tema seminar, dan untuk pemateri pertama selalu di tarik ke tasawufnya kurang tepat secara dasar agama di era post-truth, dan saya harus ada lanjut sih tentang seminar kemarin tentang bagaimana etika sains dan agama menghadapi lingkungan. Dan untuk kepanitiaan, mungkin sedikit sih yaa, harus ada yang mengarahkan tamu-tamu untuk mengisi kursi yang kosong. Mungkin itu saja, selebihnya cukup baik dan ramah.” (15/11/2023)
Demikianlah seminar nasional yang diadakan satu tahun sekali ini memberikan khalayak pengenalan tentang post-truth era -saat ambiguitas dan kebohongan menjadi samar, serta memberikan pandangan bagaimana kemudian era ini mengandaikan keselarasan antara nalar agama dan sains. (Red: Hana Rusmalia)









