Serupa tanah, unsur awal mula.
Serupa air, membawa percikan ketenangan
Api, mengobarkan setiap ruas semangat
Tanah, air dan api, bersatu merias tubuh yang terluka.
Terluka, luka-luka, menganga akibat ulah manusia.
Aku seorang pemuda yang berapi-api
Menyematkan nama sebagai Santri
Menghidupi mimpi dari kibasan sarung pak Kiai.
Datang dari daerah antah-berantah
Mengurai segala usaha demi barokah
Berjuang, berperang, dan tertatih-tatih memerangi kebodohan.
Bulan Oktober 1945
Tanah Air yang kucinta
Telah menyatakan secara de jure dan de facto kemerdekaannya.
Waktu yang sangat muda
Bagi berdirinya sebuah negara
Berlambang Garuda
Berlandaskan nilai-nilai luhur pancasila
Waktu yang sangat singkat
Bagi garuda mengepakkan sayapnya
Mempertahankan kemerdekaan
Memperkuat negara
Kolonialisme cum imperialism dihapuskan!
Penyerahan negara oleh para penjajah
Dibungkus dalam nuansa kemerdekaan
Tak pula menghadirkan ketentraman yang nyata.
Sekutu, dengan bala tentaranya
Ingin kembali mengambil kuasa.
Memporak-porandakan bangsa
Yang sedang belajar merangkak
Bahkan baru sekedar tahu,
Arti sebuah negara.
Hari itu, 22 Oktober 1945.
Kiai kami, Hasyim Asy’ari.
Berkumpul bersama ulama-ulama lain
Bermusyawarah,
Menyerukan perlawanan atas penjajahan.
Mempertahankan kemerdekaan.
Resolusi Jihad!
diserukan
Adzan dikumandangkan
Takbir dilantangkan
AllahuAkbar!
AllahuAkbar!
AllahuAkbar!
Di waktu lain,
Pak Kyai memanggil kami
Turun ke jalan,
Bersama
Menumpas, berperang dan mengusir mereka dari tanah kami.
10 November 1945.
Surabaya, jadi replika padang kurukshetra.
Darah menjadi selimut
Dentuman tembakan menjadi nada
Selongsong peluru menjadi makanan
Dan keberanian, menjadi pakaian tak tergantikan.
Banyak tangisan
Pekikkan Takbir.
Tembakan Tembakan dilayangkan,
‘Dor’ di mulut
‘Dor’ di kepala
Tembakan meriam terbang tepat diatas nyawa.
Di ujung jalan jembatan
Datang seorang Hamzah
Tertatih,
berlari menggandeng luka-luka yang menganga.
“Kuat Harun…”
“Angkat lagi bambu mu!…”
“Kita akan menang…”
“Kita usir mereka,
Yang bertahun-tahun telah mendzolimi bangsa…”
Kami tak berhenti
Walau nyawa kami
Jadi bayaran atas kemerdekaan
Kami tak pernah letih
Seperti dalam, tulusnya samudera doa Kyai kami.
Tapi hari ini pak Kiai.
Perjuanganmu seolah dilupakan
Serupa goresan tinta
Dalam buku sejarah
Yang dibakar habis tak tersisa.
Mereka lupa
Siapa yang telah mendidik kita semua
Mereka lupa
Siapa yang selalu berlutut, menengadahkan tangan dan berdoa untuk kita semua
Mereka lupa
Mereka lupa
Orang-orang itu, berlindung atas malaria kritis
Hatinya penuh rasa egois
Mereka yang seolah bersuara dengan kritis
Tapi jua berselimut Fasis.
Hari ini, Pak Kyai
Disaat cahaya pengetahuan mulai bermunculan
Kita justru sibuk
Memadamkan cahaya adab dan akhlak.
Kita lupa
Kita lupa
Bahwa kebebasan berpendapat
Tanpa sebuah penghormatan
Adalah bentuk baru daripada kesombongan!
Sakit hati kami, Pak Kyai…
Kami rela mengorbankan segalanya
Kami rela
Kami rela.
Rabbana laa taj’alna fitnatallil qoumidzolimin
Wanajjina birohmatika
Wa Anta Arhamurrohimin
Selamat Hari Santri,
Tanpa santri, tidakLah lengkap rajutan merah putih yang menyelimuti Pertiwi.
Tanpa santri, Tanah yang kita injak ini tak akan pernah bernama Indonesia.









