Suara ketikan komputer bersahutan. Sesekali telepon berdering. Hari itu tim redaksi mendapat proyek berita yang sangat penting dengan isu-isu bencana alam di kota Sukarimba. Berita berfokus antara bencana alam dan penyakit yang diderita masyarakat pasca bencana. Semuanya sibuk dengan deadline yang menumpuk, kecuali pemuda magang yang saat ini duduk di sudut ruangan itu. Ia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi dan tindakan serupa. Ia lebih asyik memainkan keyboard sembari memperhatikan monitor di depannya.
“Gem, Lu ngapain sih?” celetuk remaja sebaya yang saat ini duduk di sebelahnya, yang ditanya hanya bergumam pelan. “Dari tadi gua liat Lu serius banget mainin tuh komputer. Emangnya tugas dari Pak Lukas udah Lu kerjain apa?” lanjutnya bertanya agak sedikit sebal. Tempo hari Pak Lukas memang memberi tugas khusus untuk Gema. Namun, tidak seorang pun yang mengetahuinya, kecuali Raka yang sepertinya juga tak begitu peduli.
Raka menelengkan kepalanya, ikut memperhatikan monitor di depan Gema. Setelah memperhatikan seperkian detik, ia terpaku, matanya membelalak melihat hasil kerja salah satu rekannya tersebut. “Buset dah! Keren banget Lu, Gem!” pekiknya lantang sampai terdengar oleh seluruh karyawan dalam ruangan. Sontak Gema melotot, menyuruhnya diam.
“What’s wrong, Dude?! Come on … gilak banget dah!” mendengar kalimat itu salah satu karyawan mendekat. “Ada apa?” celetuknya.
“Kagak … ini loh, Bang– si Gema. Dia buat situs website keren banget, visualnya menarik, kagak jadul kayak punya kita!” jawab Raka, rekan yang duduk di sebelah Gema. “Eh eh enggak, aku cuma modifikasi website kita dulu, Bang. Aku nggak buat, cuman modif aja dikit.” Sela Gema sedikit menyangkal omongan Raka.
Penasaran, akhirnya karyawan tadi memperhatikan langsung monitor di depan Gema, sesekali menekan beberapa tombol di keyboard, klik-klik-klik– enter. “Keren, Bro. Nggak nyangka sih Gua. Kirain Lu cupu ternyata suhu,” ujarnya sambil terkekeh, sesekali menepuk-nepuk bahu Gema. “Bener tuh kata si Raka, tampilannya modern kayak website startup gede. Tapi yang paling Gua salut sih dashboard visual-nya. Jadi, kita udah kagak perlu lagi nih perhatiin angka-angka sama tabel segala macem buat ngecek tren berita, ntar datanya langsung berbentuk grafik.”
Seketika para karyawan kembali ke bangku masing-masing untuk mengecek website mereka. Sontak Mereka semua mengangguk-angguk kagum. Website yang awalnya kusam, mendadak berubah kece. Adanya fitur tambahan yang tidak pernah terpikirkan oleh mereka sebelumnya– dashboard visual dan integrasi data otomatis. Dengan navigasi yang rapi, tampilan modern, hingga tingkat loading-nya yang sangat cepat.
Selang beberapa waktu kemudian, sebelum pulang dari kantor, Gema menyempatkan diri untuk menemui Pak Lukas. Ada beberapa hal yang ingin ia bahas. Tempo hari Pak Lukas memberi tugas di luar kontrak kepada Gema untuk memodifikasi website mereka, karena ia tahu pemuda itu sangat lihai dalam dunia digital, terutama tentang website. Sebagai imbalan, Gema akan diperbolehkan mengangkat isu tentang penambangan ilegal. Satu nama yang ada di benaknya– keluarga Arnanta, sosok di balik perusahaan tambang emas terkenal di provinsi itu.
“Sudahlah, Gem. Kau itu masih muda! Ada begitu banyak jalan yang harus kau pilih. Itu bukan ranah kita. Jangan terlalu naif, Anak Muda!” Ujar Pak Lukas tidak setuju dengan yang dipinta Gema.
“Tapi Pak, itu juga termasuk isu lingkungan, bukan?” tanyanya sedikit menekan, sedang yang ditanya hanya bergeming. “Coba Anda pertimbangkan lagi, Pak. Wilayah itu mungkin sangat berpotensi menjadi penghasil emas yang sangat di luar nalar, tetapi di balik semua kemegahan itu Pak … masih ada destinasi alam kota ini yang perlu kita jaga. Tanah ini bagaikan akar yang menopang seluruh kekayaan alam, yang tidak semena-mena bisa kita manfaatkan. Semua ada batasannya, Pak.”
“Sttt ada banyak hal yang lebih utama dari hal itu. Lagi pun … kau sudah aku tempatkan di Digital Team. Jadi, untuk hari berikutnya kau tidak akan ada urusan lagi dengan pengambilan isu, penentuan tema berita, atau segala macam yang berhubungan dengan tim redaksi.” Pernyataan itu sudah memperjelas semua pertanyaan yang ada di kepala Gema. “Paham, Kau?!” Tanpa basa-basi, Gema meninggalkan tempat dengan wajah kaku dan langkah terburu-buru.
“Suatu hari kau akan paham dengan yang saat ini kukatakan, Anak Muda.”
***
Sore itu, Gema duduk di atas bukit sambil memandangi bentangan rimba yang kini gundul tak serindang dulu. Dua hari setelah memodifikasi website, ia memutuskan mengambil cuti dua minggu untuk menemani ibunya yang sedang sakit di rumah. Setelah melihat ibunya tidur, sesekali ia akan pergi ke tempat ini dengan menyeruput kopi sembari merenungkan segala kecamuk di kepalanya. Di sisi lain terdengar sayup-sayup nyanyian lagu dengan musik bergenre post-metal. “Relate banget nih lagu,” celetuknya.
Bangun anak muda!
Bumimu lagi resah …
Pajak menjuntai, kebijakan makin lemah …
Sontak Gema bangun dari duduknya, mengikuti nalurinya untuk menemukan asal alunan musik itu. Tak butuh tiga puluh menit untuk menemukannya, rupanya alunan itu berasal dari konser band SUMBA (Suara Rimba).
TANAH KEBUN OLIGARKI …!
Ya iya iya iya …
Selepas konser itu, Ia langsung menemui manager band yang saat ini juga sedang berkumpul bersama anggota band. Diskusi sedang berlangsung, awalnya ada sorot kejanggalan di mata mereka. Namun, setelah mendengar maksud dan tujuan dari Gema yang sangat rinci dan benar-benar tulus, keraguan mereka mulai memudar. Alhasil, diskusi itu ditutup dengan kesepakatan di antara kedua belah pihak dengan saling berjabat tangan.
Malam itu juga Gema segera menyelesaikan proyeknya. Gerakan tangannya gesit memainkan keyboard, bola matanya bergerak menelisik setiap detail yang muncul di monitor komputernya.
Setelah membuat situs website, lanjut membuat artikel. Memilah diksi yang paling popular dan sangat relate, mencari informasi lebih detail, dan merangkai kalimat semenarik dan seaktual mungkin. Beberapa jam kemudian, artikel itu siap untuk diunggah ke website dengan judul situs RakyatRimba.id. Tak lupa dengan beberapa konten ia unggah ke Instagram, Facebook, serta YouTube dengan username Rakyat_Rimba. Tuntas sudah misi awal Gema, tinggal menunggu kabar selanjutnya.
***
Akhir tahun 2018, warga desa di Kota Sukarimba terkena musibah besar. Air sungai yang dulunya jernih, yang menjadi sumber mineral bagi penduduk, kini tak lagi layak untuk dikonsumsi. Muncul bau solar dan warna keruh sebab terkontaminasi oleh zat-zat kimia berbahaya. Tanah yang dulunya subur, kini tak lagi bisa ditanami padi.
Beberapa minggu selanjutnya, warga menyadari kemunculan proyek-proyek pertambangan yang telah melubangi tanah di kota mereka. Sempat suatu hari mereka lapor ke kepala desa untuk segera mengusut kasus tersebut. Namun, kepala desa menyatakan bahwa tambang tersebut sudah mendapat izin resmi dari pemerintah, sehingga para warga tidak bisa menolak. Bahkan saat ini beberapa warga terpaksa harus pindah karena tanahnya ambles, beberapa rumah retak akibat dari lubang-lubang tambang tersebut. Dampak yang begitu kompleks harusnya cukup menjadi alasan diberhentikannya pertambangan itu, tetapi pemerintah tetap abai terhadap nasib masyarakat.
Tanggal 20 Februari 2019, gedung DPRD Sukarimba kedatangan tamu besar. Tamu yang penuh dengan amarah, siap merobohkan bangunan itu jika perlu. Ribuan mahasiswa serta pemuda-pemudi lainnya serentak menggaungkan perubahan.
Beberapa spanduk, poster, dan plakat dipasang bertuliskan STOP TAMBANG ILEGAL atau SELAMATKAN RAKYAT DARI TAMBANG PARA BEDEBAH memenuhi area gedung DPRD. Mereka menuntut pemerintah agar segera menghentikan penambangan besar itu. Kasus tersebut menuai kecaman dari beberapa pihak penting, mereka mengkritik bahwa penambangan itu telah dilakukan secara ilegal dan tidak menaati prosedur.
Kepulan asap membumbung hasil bakaran ban-ban karet besar. Bukan untuk membakar gedung, tetapi sebagai ungkapan perlawanan. Orasi dilakukan silih berganti antara mahasiswa satu dengan mahasiswa lainnya. Ingar bingar perlawanan terjadi beberapa jam setelah berita menggelegar.
Berita kasus penambangan ilegal telah tersebar ke seluruh penjuru negeri, bahkan sampai ke negara-negara tetangga. Website RakyatRimba.id berhasil membangkitkan gaungan keras yang selama ini terbelenggu. Video yang telah diunggah di Instagram, Facebook, serta YouTube menuai banyak komentar dan dukungan, terlebih dari para pelajar.
***
27 Februari, demo masih berlangsung.
“Dul, udah seminggu si Gema ngga ada kabar, Lu udah telepon dia?” celetuk Ratih, salah satu vokalis band SUMBA itu bertanya kepada rekannya yang saat ini berdiri di sebelahnya sembari memegang plakat.
“Gua udah telepon dia berkali-kali, kagak aktif. Kemaren gua mampir ke rumahnya juga katanya udah pergi Rabu kemaren.”
“Lu gila apa?! Dia pamit ke ibunya udah Rabu lalu?! Itu terakhir kali kita ketemu sama dia.”
“Lah berarti sampai saat ini dia ngga di rumah? HP-nya juga kagak aktif?!” mereka berdua seketika terbelalak. Perasaan keduanya berkecamuk, situasi ini sangat janggal di tengah ratusan demonstran.
Di balik kejadian menggemparkan seluruh kota. Hanya mereka berdua yang menyadarinya. Terlepas dari semuanya, tersudut seseorang jauh dari keramaian. Dalam ruangan kedap suara berukuran 5 x 6 m2, nampak seorang pemuda duduk terikat di sebuah kursi kayu dengan lebam dan bercak darah di pelipis dan sudut bibirnya. Ditemani seutas cahaya dari lampu neon yang sangat redup dan dikelilingi barang-barang rongsokan. Pemuda itu sudah tak berdaya kehabisan oksigen.
Tiba-tiba pintu terbuka memperlihatkan seorang lelaki kekar dengan setelan jas rapi. Kemudian lelaki itu melangkah masuk mendekati pemuda yang saat ini terikat di kursi. “Gema Mahadika … selamat ya atas keberhasilanmu…” kata lelaki itu tajam sembari menepuk-nepuk kedua tangannya. Dengan napas yang tersengal-sengal dan penglihatan yang agak kabur, Gema berusaha memastikan apa ia tidak salah mendengar suara itu.
“Keberhasilanmu yang sedikit menggagalkan rencanaku,” suaranya terdengar familiar– kini terdengar sangat berat. “Padahal si pejabat-pejabat rakus itu udah gua sumpel. Tapi, karena website dan konten-konten sialan itu, semua rencanaku jadi berantakan!” pekik lelaki itu tepat di depan wajah Gema yang saat ini lunglai tak berdaya. “Eh ternyata gua lupa ada orang-orang kayak lu yang harusnya gua sumpel juga. Sebenernya Gua udah notice, sejak Lu ada kesepakatan sama Pak Tuah tolol itu, yeah Gua pikir itu akal-akalan anak magang yang haus akan validasi, yang berlagak sok pahlawan bagi rakyat. Biasanya orang-orang kayak gitu ujung-ujungnya bakal mingkem kalo udah dapet gaji atau jabatan yang mereka inginkan. Hahaha … ternyata Gua keliru. Berani juga Lu, heh?!” terlepas dari semua kecaman itu, Gema berusaha memandangi lawan bicaranya dengan penglihatan yang samar-samar.
“Jadi selama ini … orang yang aku kira pemalas itu adalah anak tunggal keluarga Arnanta? Anak dari Surya Arnanta? Yang hanya berlagak menjadi karyawan pemalas, tetapi sejatinya mengawasi gerak-gerik berita untuk kepentingan mereka sendiri? Jadi, selama ini … Aku berada di jaringan segelintir orang yang bekerja sama untuk memuat berita terkait lingkungan sebagai pengalihan isu? Dan dia … partner kerja yang selama ini duduk di samping-ku adalah … Rakabuming Arnanta?”
Walau kepalanya sudah berkali-kali terkena pukulan, tak membatasinya untuk selalu berpikir. Walau tak ingin mempercayai dugaannya, tetapi realita telah berada di depan matanya.
“Sekarang lu mau gua kasih apa, Gem? Duit? Oh ya … Emak lu kan lagi sakit tuh, gua bisa kasih nih. Butuh berapa … 5 juta, 10 juta, atau 25 juta, hah?” mendengar celetukan itu, seketika Gema menegakkan kepalanya, berteriak sekencang-kencangnya …
“DASAR BEDEBAH KAU, RAKA!”
***
Oleh: Miftachul Jannah, kelahiran abad 21 di tanah Semeru. Mahasiswa prodi Bahasa dan Sastra Arab Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.










Satu Komentar
Bagusss bangettttt gk ekspekkk bagusss poll, ditunggu karya2 lainnyaa