Beranda / Seni dan Sastra / Sebuah Sumpah | Puisi Amelia Monica Rizi

Sebuah Sumpah | Puisi Amelia Monica Rizi

Sumpah yang Tak Berjenis Kelamin

Siapa bilang pemuda hanya laki-laki?
Apakah sejarah hanya ditulis oleh tangan yang berotot,
dan suara yang berat?
Kami di sini,
dengan suara yang lembut tapi lantang,
dengan tubuh yang tak selalu perkasa,
tapi hati yang tak pernah tunduk.

Sumpah Pemuda bukan milik satu jenis kelamin,
ia milik semua yang berani bersumpah,
untuk tanah air yang adil,
untuk bangsa yang setara,
untuk bahasa yang tak membungkam.

Kami perempuan,
kami non-biner,
kami semua yang tak disebut dalam teks sejarah,
tapi hidup dalam denyut perjuangan.
Kami yang merawat luka,
menyusun strategi,
dan berdiri di barisan depan
meski dunia menyuruh kami diam.

Pemuda bukan hanya mereka yang gagah,
tapi mereka yang sadar.
Dan kesadaran tak punya kelamin.
Ia tumbuh di dada siapa pun
yang berani melawan ketidakadilan.

Jadi jangan panggil kami pelengkap,
kami bukan bayangan.
Kami adalah cahaya,
yang menyinari sumpah
agar tak lagi bias,
agar tak lagi maskulin semata.

Karena sumpah sejati
adalah milik semua yang berani,
dan kami pun bersumpah:
untuk tanah air yang tak patriarkis,
untuk bangsa yang tak diskriminatif,
untuk bahasa yang menyebut semua nama
tanpa kecuali.

 

Sumpah yang Tak Tercetak di Buku Teks

Kami bukan pemuda yang lahir dari pidato,
kami lahir dari derit mesin dan antrean panjang,
dari tanah yang dijual murah,
dan bahasa yang dipakai untuk membungkam.

Kami bersumpah,
bukan di aula megah,
tapi di bawah atap bocor,
di tengah upah yang tak cukup untuk hidup,
di antara mimpi yang dipaksa tunduk pada pasar.

Satu tanah air,
bukan milik investor,
tapi milik mereka yang mencangkul dan memeras keringat.
Satu bangsa,
bukan yang tunduk pada elit,
tapi yang berdiri di barisan buruh dan petani.
Satu bahasa,
bukan yang dipakai untuk menipu,
tapi yang jujur, lantang, dan berpihak.

Kami pemuda,
yang tak punya panggung,
tapi punya kesadaran:
bahwa negeri ini tak akan berubah
tanpa perlawanan dari bawah.

Kami melawan bukan hanya sistem,
tapi juga ketakutan yang diwariskan,
kemunafikan yang dilestarikan,
dan keheningan yang dijadikan budaya.

Kami tidak menunggu sejarah menulis nama kami,
kami menulisnya sendiri
dengan peluh, dengan luka, dengan keberanian.
Di jalanan, di rumah, di hati yang tak mau tunduk,
kami nyalakan api sumpah
yang tak akan padam
hingga negeri ini tahu:
Sumpah Pemuda bukan milik masa lalu,
ia adalah senjata hari ini.

4 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *