Beranda / Seni dan Sastra / Lepasnya Luka

Lepasnya Luka

Bising alarm memenuhi setiap sudut kamar kosku, berbunyi nyaring tanpa memedulikan aku yang baru tidur tiga jam lalu. Lagi-lagi aku tersadar bahwa siklus menyebalkan itu selalu berputar dan sulit dihentikan. Rasanya begitu melelahkan. Aku ingin sekali menikmati hari libur yang kata orang-orang sangat menyenangkan. Faktanya, hari libur di kamus kehidupanku hanyalah mitos belaka.

Aku mulai bergegas dan bersiap dengan terpaksa, menghadapi kembali rutinitasku sebagai mahasiswa semester tiga sekaligus pekerja paruh waktu. Apa boleh buat? Memangnya siapa lagi yang peduli perasaan serta luka anak tengah selain dirinya sendiri? Bangun pagi-pagi, kuliah beserta tugas yang dihiasi drama klasik, lalu bekerja dengan ratusan tuntutan maupun target yang tak manusiawi. Belum lagi isi kepala yang selalu dibayang-bayangi keluh kesah Ibu. Muak.

”Kalau bisa, coba deh kamu sambil kerja paruh waktu.”

”Kakakmu itu susah banget dibilangin, disuruh kerja ngga mau, apa-apa masih minta orang tua padahal di umurnya udah seharusnya dia cari uang sendiri.”

”Ayahmu cuma peduli ke kakak dan adikmu, Anne nggak apa-apa kan?”

”Jangan kayak Kakakmu ya, An?”

”Kakakmu kekanakan, Adikmu keras kepala dan nakal, jangan sampai kamu kayak mereka!”

Lihat, betapa terbunuhnya aku di tengah keluarga hancur itu. Harus menjadi tumpuan di tengah kegaduhan, sementara diri ini rapuh berserakan. Baiklah, aku tau aku kuat. Selagi masih ada seporsi mie ayam dan segelas matcha, bukankah hidup akan baik-baik saja?

Sembari menyiapkan apa yang akan kubawa ke kelas, aku juga menyiapkan sepasang baju ganti untuk bekerja sepulangnya nanti. Jadwalku sehari-hari terbilang sangat padat, sehingga waktu jeda hanya bisa kutemui di sela-sela sholat dan makan siang—setidaknya cukup memberiku ruang untuk bernapas lega. Namanya hidup, ada saatnya kita bercanda dengan dunia, ada pula waktunya kita yang dijadikan candaan olehnya. Tapi, aku selalu menikmati setiap rasa di baliknya. Di balik Tuhan merencanakan segalanya namun tetap teriring cinta kasih-Nya. Bukankah apa yang kujalani hari ini akan berbalik pada diri sendiri di kemudian hari?

•••

Renungan itu buyar seketika ketika langkahku menapaki ruang kelas. Selama aku mengikuti perkuliahan hari ini, aku tak melihat sedikit pun semangat dalam diriku. Bagaimana tidak? Begitu mataku menangkap pesan di grup kerja, aku kembali melihat target mematikan itu. Ditambah lagi teman shift-ku hanya empat orang, membuat pikiranku kian resah. Fokusku tercerai entah ke mana perginya. Bukannya memperhatikan dosen di depan, kepalaku justru gaduh merancang strategi agar pekerjaanku cepat berakhir dan bisa segera pulang untuk beristirahat. Belum sempat bernapas lega, dosen memberikan ’kejutan indah’ sebelum kelas berakhir—tugas presentasi, dan aku tercatat di kelompok pertama.

“Oke, Anne, bisa kok. Pasti bisa. Pelan-pelan saja,” gumamku lirih, berusaha mengais sisa semangat yang hampir hilang seluruhnya.

Kelas akhirnya usai tepat di tengah hari yang membara. Aku bergegas keluar ruangan, tapi langkahku terasa seperti dilempar langsung ke tungku panas matahari. Teriknya menusuk kulit, membuat keringat segera mengalir deras. Sebelum melewati gerbang kampus, aku menarik napas sebentar untuk mengenakan masker—bukan hanya agar terlindung dari debu jalanan, tapi juga supaya tak ada yang mengenaliku di tengah perjalanan menuju tempat kerja. Ada semacam gengsi yang entah sejak kapan tumbuh, membuatku ingin menyembunyikan arah langkahku dari teman-teman kampus.

Dengan tubuh letih, aku menyeret kaki menyusuri jalanan. Perutku hanya terisi sepotong roti dan seteguk air putih sejak pagi, membuat tenagaku cepat terkuras. Lima belas menit berjalan terasa seperti perjalanan berjam-jam, seolah setiap detik adalah ujian kesabaran. Di sepanjang langkah, pikiranku tak henti dipenuhi hitungan target yang menanti di tempat kerja, membebani pundakku bahkan sebelum sampai di sana.

Sesampainya di tempat kerja, aku kembali menyiapkan alat dan bahan seperti biasa, meski kali ini jumlahnya terasa mencekik, seolah tak memberi napas bagi para karyawannya. Untungnya rekan kerjaku cukup tanggap dan cekatan dalam membantu, sebab target harian hari ini sungguh tak masuk akal—lebih besar daripada hari-hari sebelumnya. Tak ada pilihan selain menundukkan kepala dan menyelesaikannya. Karena di dunia kerja, lelah bukan hanya alasan klasik—ia merupakan harga yang harus dibayar demi sejumlah rupiah.

Tak dapat dipungkiri, hari ini lelah hinggap di sekujur tubuhku dihiasi jejak yang sulit terhapus oleh waktu. Kakiku seolah hampir patah setelah berdiri terlalu lama, bahuku berat seperti memikul beban tak kasat mata, leherku menegang seperti dirantai usia, dan hatiku gosong terbakar amarah yang kutahan sepanjang drama kerja tadi. Namun biarlah—yang terpenting waktu pulang akhirnya tiba. Seusai berpamitan dengan manajer dan rekan-rekanku, aku melangkah pulang dengan kaki yang sedikit pincang, menghitung setiap langkah sebagai cara lain untuk menekan pengeluaran, meski rasanya tubuhku tak lebih kokoh dari sepotong jelly.

Dengan tubuh yang nyaris remuk, akhirnya aku sampai di kamar kos. Baru saja kakiku menjejak lantai kamar, ponselku berdering nyaring. Saat kulirik layarnya, terpampang nama Ibu. Dengan cepat kuusap layarnya, menerima panggilan itu. “Pas sekali, baru pulang langsung ditelpon,” batinku.

”Assalamu’alaikum Anne, gimana kabarnya?” sapa ibu lembut dari seberang telepon.

”Wa’alaikumsalam baik bu, ini baru banget pulang kerja hehe. Ibu gimana kabarnya? Sudah makan, kan?” jawabku sambil tersenyum tipis, mencoba terdengar ceria.

”Alhamdulillah, Ibu baik kabarnya, udah makan juga. Gimana kuliah sama kerjaannya, lancar?” tanya ibu dengan nada penuh perhatian.

“Lancarnya sih lancar, Bu. Cuma capek aja, karena susah bagi waktu buat ngerjain tugas. Pulang kerja harusnya bisa istirahat, tapi malah nugas,” jawabku sambil menghela napas berat.

“Terus, maunya gimana, An? Tetap lanjut kerja atau berhenti aja?” suara ibu terdengar datar, mencari kepastian. “Kalau memang nggak kuat, ya berhenti saja. Cari jalan lain yang sekiranya kamu sanggup jalani.”

”Ibu bisa nggak sih, kalo aku lagi ngeluh gini didengerin aja? Aku cerita gini tuh biar lega dan lebih enteng aja,” ucapku kesal, nadaku mulai meninggi.  ”Dari awal aku kayak gini kan juga karena Ibu yang berharap aku bisa kuliah sambil kerja? Pas aku dapet kerja dan jalanin apa maunya Ibu, Ibu malah gitu tanggapannya tiap aku ngeluh.”

Aku menarik napas dalam, dadaku terasa sesak, berusaha menahan air mata yang mendesak keluar. ”Cari kerja paruh waktu buat mahasiswa tuh susah Bu apalagi di sini banyak juga yang butuh, pas aku bisa dapetin itu, bisa nggak sih Ibu menghargai kerja kerasku kali ini aja? Aku juga bisa capek Bu! Aku tahu Ibu berharap besar banget ke aku karena kakak udah nggak bisa diandalkan, adik juga susah diarahin, ayah juga sering ilang-ilangan tiap aku butuh uang. Aku tau Ibu punya luka, tapi jangan lupa sama lukaku juga!” ucapku lagi, kali ini dengan nada pecah di ujung kata-kata. Aku benar-benar lelah hingga dengan spontan mengungkapkan semua perasaan yang kupendam rapat selama ini.

Sejenak, telepon itu tenggelam dalam hening. Hanya tersisa helaan napas Ibu di seberang, terdengar rapuh, seakan menahan sesuatu. Lalu, lirih suaranya pecah, “Anne…”

Dengan spontan, aku memutus telepon itu sepihak tanpa memberi ruang untuk ibu menjawabnya. Aku tahu ini salah—sangat salah! Apalagi aku sampai kehilangan kendali hingga meninggikan suara pada Ibu. Aku lelah, aku geram, Ibu bersikap demikian tak hanya sekali dua kali saja.

Mungkin dulu aku masih sanggup menahan emosi, tapi hari ini tidak. Aku juga ingin dipahami lukanya. Aku pun sama terlukanya dengan Ibu. Meski luka yang kupikul tak sebesar milik Ibu, bukankah rasa sakitku tetap layak divalidasi? Haruskah aku meledak seperti tadi, baru perihku dianggap nyata dan eranganku didengar?

Ah, ternyata luka yang dibungkam paksa ini memang begitu menyesakkan, ya?

Notifikasi di ponselku berdering tanpa henti. Setelah kemarahanku tadi, Ibu tak henti mengirimiku pesan berulang kali. Entahlah, aku ingin mengabaikannya sejenak— aku perlu ketenangan! Aku tak ingin kehilangan kendali lagi dan melukai perasaan Ibu.

“Aku tuh capek! Capek banget! Kenapa sih dari dulu selalu aku yang jadi tumpuan? Kenapa selalu aku yang harus ngalah sama Kakak dan Adik? Aku ini sebenarnya anaknya atau bukan sih? Rasanya kayak numpang hidup doang di tengah keluarga itu! Sikap Ayah sama Ibu pun selalu beda ke aku. Sebenernya Tuhan tuh adil nggak sih sama aku? Kenapa di hidup yang cuma sekali ini nasibku menyedihkan banget? Orang-orang bohong! Mereka bilang bakal ada pelangi setelah badai buat orang yang kuat. Tapi harus sekuat apa lagi aku ini? Memangnya semua usahaku buat bertahan hidup ini nggak kelihatan ya sama Tuhan? Masih kurang? Pelangiku bakal muncul kapan? Atau jangan-jangan aku memang selamanya terjebak di tengah badai? Tuhan… Tuhan dengerin aku nggak sih sebenarnya!”

Aku terisak. Nafasku tersengal-sengal. Ponsel di tanganku bergetar karena keringatku sendiri. Dada ini sesak. tangisanku kutahan dalam-dalam, meredamnya di balik bantal agar penghuni kos lain tak ada yang mendengarnya. Tubuhku bergetar hebat, ruang dada menyempit seperti ditekan benda berat di atasnya. Air mataku mengalir deras hingga membasahi bantal. Dalam keadaan memprihatinkan itu, aku tertidur tanpa sadar dengan pipi yang masih basah dan mata yang sembab, tenggelam dalam rasa lelah dan hampa yang menggantung di hati terdalam.

•••

Sejak malam itu, aku memilih mendiamkan Ibu selama tiga hari penuh. Pesan-pesannya hanya kubaca sekilas tanpa pernah kubalas. Ada lega sekaligus perih yang beriringan. Bukankah sikapku ini terdengar egois, bahkan terkesan durhaka?

Namun, setelah amarah itu reda, yang tersisa hanya keheningan dan rasa hampa. Tangisku sudah kering, tapi hatiku tetap terasa berat. Malam-malamku sunyi, bukan lagi karena bising notifikasi, melainkan karena suara Ibu yang tak lagi kudengar. Dalam diam itu, perlahan aku mulai menyadari: marah tak membuatku lebih tenang, justru membuatku semakin sepi.

Haruskah aku membalas pesannya lalu meminta maaf? Tapi… siapa sebenarnya yang salah di sini? Aku, atau Ibu? Atau mungkin kami sama-sama salah? Bagaimana aku harus memulai percakapan setelah apa yang terjadi malam itu? Sungguh, bising di kepalaku ini tak kunjung reda!

Setelah berpikir cukup lama, akhirnya kuputuskan untuk meruntuhkan egoku dan membalas pesan Ibu dengan permintaan maaf. Siapa pun yang salah, aku tak lagi memedulikannya. Aku sadar, aku masih membutuhkan Ibu—kapan pun dan di mana pun. Bukankah mustahil aku bisa melangkah sejauh ini, berdiri dengan mental sekuat baja, tanpa doa-doanya?

Aku menghela napas panjang, lalu meraih ponselku. Jempolku sempat ragu menekan layar. Chat saja, atau langsung menelepon? Tapi jika telepon… bagaimana jika suaraku pecah dan tangis itu tak terbendung?

”Telepon aja nggak sih biar lega?” pikirku.

Tanganku sempat gemetar saat menekan tombol panggil. Jantungku berdegup kencang, pikiranku berkelana ke berbagai kemungkinan yang belum tentu terjadi. Setelah beberapa detik menunggu, suara yang sejak tadi kutakuti akhirnya terdengar sayup di seberang sana.

“Assalamu’alaikum, Bu… ini Anne,” ucapku pelan, hampir berbisik.

“Wa’alaikumsalam, Anne. Kamu baik-baik saja di sana, Nak?” suara Ibu terdengar penuh kekhawatiran.

“Baik, Bu. Ibu… Maafin Anne ya? Kemarin Anne ngomong pakai nada tinggi… Anne nggak bisa kontrol emosi, terus malah diemin Ibu berhari-hari. Anne banyak salah sama Ibu,” pintaku bertubi-tubi, penuh penyesalan.

“Anne, jangan begitu. Dari awal yang salah itu Ibu. Harusnya Ibu yang minta maaf. Maaf ya, Ibu terlalu keras sama Anne. Maaf bikin Anne tertekan sama harapan-harapan Ibu, dan maaf karena belum bisa sepenuhnya memahami perasaan Anne. Dimaafkan kan, Nak?”

“Ih, Ibu mah… jangan bilang gitu. Ibu nggak salah apa-apa,” ucapku terbata-bata, menahan tangis. “Justru Anne yang kelewatan, cuma mikirin capeknya sendiri padahal Ibu lebih capek dari Anne. Ibu udah banyak berkorban buat aku, Kakak, sama Adik. Jadi… jangan pernah nyalahin diri Ibu lagi, ya?”

Dengan cepat kuusap sudut mataku yang mulai basah. Aku takut Ibu mendengar tangisku.

“Baiklah, kalau Anne maunya begitu. Tapi janji ya? Setelah ini, kalau ada apa-apa jangan dipendam lagi. Anne harus cerita sama Ibu dan Ibu juga akan cerita sama Anne, biar sama-sama adil, biar sakitnya bisa kita bagi sama-sama,” pinta Ibu dengan suara bergetar.

Aku menggigit bibir, tak mampu menahan air mata yang jatuh lagi. “Iya, Bu… Anne janji. Anne nggak akan mendem semuanya sendirian. Tapi… Ibu jangan ninggalin Anne sendirian, ya?”

“Ibu nggak akan pernah ninggalin kamu, Nak,” jawabnya tegas, tapi hangat. “Selama Ibu masih ada, Ibu akan selalu jadi tempat pulang kalian. Dari Anne, Ibu belajar banyak hal kecil yang ternyata punya arti besar.”

Aku terisak. Rasanya hangat sekali mendengar kata-kata itu, seakan cahaya akhirnya masuk menembus ruang hatiku yang lama gelap.

“Terima kasih, Bu… Anne sayang Ibu.”

“Ibu juga sayang Anne. Lebih dari apa pun di dunia ini.”

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bisa bernapas lebih lega.

Telepon pun berakhir dengan keheningan yang menenangkan. Malam ini, aku menutup mata dengan senyum kecil di wajahku meski masih tersisa air mata di pipiku. Untuk pertama kalinya, aku merasa luka itu tidak lagi dibungkam paksa. Aku punya tempat untuk berbagi, dan itu sudah lebih dari cukup. Lukaku didengar, dan obat dari luka itu akhirnya datang di saat yang tepat.

 

Oleh : Tazkiyatuz Zahro, Mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *