GAWAT … otak mereka semakin keriput!
Owh, Mr. Potato Head, tell me …
Bagaimana menghilangkan kebobrokan ini?
Apakah dengan berandai saja cukup?
Atau mataku saja yang masih terkatup?
Baiklah Anak Muda, aku akan menjawabnya dengan sebuah cerita. Mungkin aku bukanlah seorang pujangga yang pandai berhikayat. Mungkin juga bukan seorang tauladan yang dapat memotivasi dunia.
Aku hanyalah sebuah kentang, yang memiliki wajah sekaligus badan, dua pasang telinga, tangan, serta kaki. Tak lupa dengan topi bowler hitam-ku yang takkan pernah kulepas. Dan kau mungkin melihatku semacam makhluk aneh yang bisa berbicara karena sihir.
Namun, kau harus ingat bahwa di negeri ini apa pun bisa terjadi, siapa pun bisa berbicara dengan bebas. Semua punya hak dan kewajiban yang berbeda-beda. Untung saja Ratu kami baik hati dan sangat adil. Jika tidak, maka negeri ini akan hancur dengan segala kebobrokan.
Oh ya kembali ke pembahasan. Kuharap cerita ini akan dapat memotivasimu walau sedikit, mungkin.
Kala itu …
Sang surya sudah berada tepat di atas kepala. Tidak ada angin, yang ada hanya bau keringat bercampuran. Dan aku masih berdiri di tengah kerumunan penduduk. Sang Ratu telah memberi titah kepadaku untuk mendata hobi setiap penduduk. Cukup tidak realistis, tapi inilah Aksamita.
“Nama? Hobi?”
“Wortel, hobiku bertanam.”
Sudah kuduga. Aku sering melihatnya, ia selalu membawa cangkul ke mana-mana dengan memakai caping, layaknya seorang petani biasanya. Baunya senantiasa seperti bau rerumputan yang telah dipotong, mungkin karena saking seringnya bergelut dengan rerumputan.
Rupanya ia memiliki sawah yang begitu luas. Cukup memperlihatkan sikap kerja keras, sekaligus payah. Hari gini masih pakai cangkul? Buat apa kultivator? Rotavator? Atau apalah itu … Kerja keras itu memang penting, tetapi kerja cerdas itu juga perlu. Camkan itu!
“Berikutnya …
“Nama? Hobi?”
“Kentang, hobiku berdandan.”
Yah, sudah kelihatan dari busananya yang nyentrik. Nona kentang ini satu spesies denganku, bedanya dia adalah wanita yang boros dan aku tidak. Bagaimana kutahu? Yah itu asumsi kasar-ku saja, terlihat dari caranya bergaya dan berbicara. Namun, aku sedikit tersanjung dengan sikap percaya diri-nya yang sangat tinggi, itu sesuatu yang kini mulai langka. Kau harus belajar hal itu darinya.
Meski aku adalah seorang yang sarkas untuk menilai seseorang dari penampilan, tetapi aku selalu ingat dengan nasihat Mr. Dickens “No one is useless in this world who lightens of another.” Kalimat itu selalu membuatku tertegun dan mendorongku untuk mencari titik positif dari sikap dan penampilan yang orang lain tunjukkan. Aku yakin ada jawaban di balik semua itu. Ada sebuah plot wist yang terkadang tak bisa kuterka.
“Berikutnya …
“Nama? Hobi?”
“Apel, hobiku membaca”
Hmm … dari sepuluh orang sebelumnya, akhirnya aku menemukan seseorang yang mempunyai hobi sama denganku. Lainnya ada yang hobi belanja, scroll tiktok, nonton film, dan hal-hal yang biasa dilakukan orang-orang saat malas. Yah, memang hobi itu adalah sesuatu yang disukai dan dilakukan ketika malas, bukan begitu?
Sampai pada penduduk terakhir.
“Nama? Hobi?” badanku mulai lunglai, energiku mulai terkikis.
Semangat? Memangnya sejak kapan diriku pernah bersemangat? Rasanya hal itu sudah lenyap dariku sejak … entahlah, sepertinya memang lenyap begitu saja tanpa aba-aba. Saat ini aku hanya memainkan keyboard laptop dan sesekali memutar-mutar mataku.
“Namaku Tikus, aku suka mengarang, tapi aku tidak suka membaca.” Mataku terbelalak mendengar jawabannya.
“Hah? Bagaimana bisa kau mengarang tanpa perlu membaca?”
“Yah tentu saja. Bukankah itu hebat? Imajinasiku liar tanpa harus membaca.”
Aku bergeming, tidak tahu apakah itu sebuah kehebatan atau kebobrokan. Masa bodoh, aku akan segera melaporkan pendataan ini kepada perdana menteri. Dan setelah ini para penduduk akan diberi kebebasan untuk melakukan hobi mereka.
~***~
Suatu hari setelah kebebasan hobi ditetapkan, terjadi peristiwa yang sangat mengerikan. Tujuh dari sepuluh penduduk Aksamita mengalami pengerutan otak. Kebobrokan terjadi di mana-mana. Pencurian, pencabulan, hingga pembunuhan terjadi begitu brutal. Mendengar hal itu, Ratu kami mendatangkan dokter-dokter terkemuka di seluruh penjuru negeri.
Masih ingat dengan saudara bernama Tikus? Dia paling parah, selain otaknya yang mengerut, hatinya pun mengeras seperti batu, badan tiap hari semakin membesar, dan kini bicaranya semakin melantur.
Paman Pohon, salah satu dokter terkemuka telah mendiagnosanya, bahwa ia sejatinya kurang asupan pengetahuan. Otak Tikus mengerut karena ia memaksa otaknya berimajinasi tanpa ada dasar pengetahuan. Hatinya mengeras karena ia tidak percaya dengan fakta, ia hanya membenarkan dirinya saja. Badannya membesar karena ia selalu menuruti hawa nafsunya. Paman Pohon juga mengatakan semua kebobrokan itu berasal dari ‘kurangnya asupan pengetahuan’.
Dan asal kau tahu, dia juga menjadi penyebab dari berbagai kebobrokan yang dilakukan khalayak. Melalu pemikirannya, ia menulis banyak syair bahkan buku-buku yang isinya hanya berlandas imajinasinya, tanpa didasari fakta dan sejarah, sungguh menyesatkan.
Kasus kurangnya asupan ini juga terjadi pada orang-orang yang aku kenal, seperti Tuan Wortel dan Nona Kentang. Bedanya mereka tidak separah saudara Tikus. Namun, tetap saja itu adalah berita buruk, buruk sekali malah.
Tempo hari aku sempat berpikir, mengapa Tuan Wortel begitu payah dalam mengelola sawahnya? Dan yup akhirnya terjawab jua. Karena pada dasarnya ia hanya mempraktekkan apa yang diajarkan orang-orang terdahulunya. Ia hanya meneruskan, tanpa memikirkan sebuah inovasi, tanpa mencari informasi, pantas saja dia tidak tahu alat-alat zaman sekarang sudah di tingkat mutakhir.
Selain itu, satu hal mengenaskan yang kini membuatku malu atas kelakuan orang-orang terhadap Nona Kentang. Catcalling dan hal-hal keji serupa sering kali terjadi padanya. Para pelakunya adalah sekumpulan bedebah tidak berpengetahuan. Alih-alih meminta maaf atas kelakuannya, mereka malah mengecam Nona Kentang yang berpenampilan seperti itu. What the hell, Man?! You think I’m a dork?? Tentu saja para pelaku itu tak akan lepas dari jeratan bui. Tak ada satu pun!
Kalau aku pikir-pikir kembali, sejatinya bukan salah Nona Kentang yang berpenampilan nyentrik dan berdandan sangat cantik. Itu memang haknya, bukan? Namun, setelah kurenungkan lebih lama, akhirnya aku tersadar, bahwa segala hal selalu ada batasan. Bahkan hal sebaik apa pun jika berlebihan tetap saja akan mengundang mara bahaya.
~***~
Setelah selesai mendiagnosa seluruh pasien yang mengalami pengerutan otak, Paman Pohon memberikan solusi untuk menyelesaikan permasalahan ini.
“Penawar segala kebobrokan ini adalah ‘membaca’ karena otak mereka sedang mengalami kelaparan akut.”
Ia juga mengatakan bahwa bacaan itu bagaikan makanan. Kita harus memilih mana makanan yang bermutu, mana makanan yang sesuai dengan kebutuhan kita. Jika kau ingin meluaskan wawasan, bacalah ensiklopedia, buku ilmiah, artikel, dan lain semacamnya. Jika kau ingin meningkatkan imajinasi, bacalah karya sastra, karena di sanalah kau banyak menemukan jejak kehidupan serta pemikiran yang harus dieksplor dan dievaluasi. Sementara jika kau ingin isi otakmu berkembang dan hatimu segera melunak, maka bacalah kitab suci dan kitab-kitab kehidupan.
Malam itu juga seluruh jajaran petinggi istana berkumpul untuk membuat sebuah keputusan. Tok! palu telah dipukul, putusan dewan istana telah disahkan.
Keesokan harinya, aku mendapat mandat dari Sang Ratu melalui Perdana Menteri, untuk menyampaikan putusan-putusan yang mufakat kepada rakyat. Di tengah kerumunan, tepat di bawah terik matahari yang menyengat. Jangan bertanya mengapa aku tidak memakai payung, pelindung, atau apa pun itu …
Kau harus tahu jika kulitku sangat kuat, bak perisai yang senantiasa menjaga badanku tetap bugar. Kau harus tahu jika …
“Hari ini, aku, Patriot dari Aksamita mengumumkan titah dari Sang Mulia Ratu. Bahwasanya MEMBACA telah dinobatkan sebagai KEBUTUHAN. BUKAN lagi sebagai HOBI. Rakyat Aksamita wajib membaca setiap hari. Dan bagi siapa pun yang menulis hasil bacaannya, maka ia akan mendapat pemberian dari istana berupa satu koin emas untuk setiap karyanya …”
Oleh: Miftachul Jannah, kelahiran abad 21 di tanah Semeru. Mahasiswa prodi Bahasa dan Sastra Arab Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.









