Sebuah pepatah mengatakan, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”. Tangan di bawah merepresentasikan perilaku meminta-minta. Perilaku meminta-minta menunjukkan kelemahan di peminta. Pertanyaannya, apakah doa juga serupa dengan itu? Pertanyaan ini timbul saat saya membaca salah satu argumen Hassan Hanafi dalam mukadimah bukunya, Minal ‘Aqidah ila al-Thaurah (Dari Akidah Menuju Revolusi) terbitan Paramadina. Ia mengatakan, doa adalah sebuah manifestasi penerimaan. Sebab sejatinya, doa tidak akan mengubah apapun. Baginya, doa yang hanya berupa permohonan pasif justru dapat melanggengkan keadaan tertindas.
Menurut Hanafi, struktur kejiwaan manusia yang terbiasa berdoa dengan memohon dan meminta-minta akan terformat menjadi pasif dan ketergantungan akan harapan. Hal ini tentu bakal mematikan sifat proaktif dan kehendak untuk melakukan aksi. Ia menulis:
“Padahal realitas itu tidak akan pernah berubah dengan doa, seorang yang kelaparan tidak akan pernah kenyang dengan memohon belas kasihan, dan seorang yang tertindas tidak akan pernah tertolong dengan tangisan. Doa itu merupakan ekspresi dari rasa aman dan perasaan penuh harap, bukan usaha untuk merealisasikan apa yang diharapkan itu. Doa hanyalah cara orang yang lemah, tindakan seorang yang duduk-duduk santai, ungkapan seorang yang lumpuh, jalan seorang yang kesepian, dan metoda seorang yang tenteram.”
Kritik tajam Hanafi ini disinyalir bermula dari kegelisahannya terhadap cara-cara doa yang diajarkan dan dipraktekkan dalam kitab-kitab turats. Baginya, doa-doa tersebut seringkali terjebak dalam ratapan yang ‘mendayu-dayu’ dan sikap ‘mengemis’. Model doa semacam ini secara tidak langsung memposisikan manusia seakan lebih tahu apa yang terbaik untuknya daripada Tuhan, dan seolah-olah Tuhan tidak memahami penderitaan hamba-Nya sehingga perlu ‘dilapori’ dan diingatkan secara detail.
Karena itulah bagi Hassan Hanafi, doa tidak boleh menjadi pengganti tindakan. Ia mengkritik pemahaman doa yang terpisah dari realitas sosial dan perjuangan. Doa yang hanya menjadi ritual permohonan pribadi akan menciptakan individu yang fatalistik, menerima nasib tanpa berusaha mengubahnya, serta mengakui apa yang terjadi adalah kehendak Tuhan yang harus ditelan mentah-mentah.
Doa harus ditempatkan sebagai energi penggerak, bukan sebagai tujuan. Doa Hassan Hanafi bukanlah penyerahan diri pada takdir, melainkan peneguhan komitmen untuk mengubah takdir. Doa adalah momentum reflektif untuk memperkuat kesadaran dan membakar semangat perjuangan, bukan pelarian dari kenyataan pahit yang dirasakan. Hemat penulis, doa yang sesungguhnya adalah kerja dan aksi itu sendiri. Menggubah gagasan pembebasan menjadi realitas dunia adalah wujud doa yang paling tinggi.
Gagasan Hassan Hanafi adalah sentrum dari Teologi Pembebasan Kiri Islam (al-yasar al-islami). Gagasan ini lahir sebagai kritik terhadap pemahaman agama yang terlalu tekstual, pasif, dan berjarak dari problem-problem konkret umat, seperti kemiskinan, penindasan, dan ketidakadilan.
Dalam konteks ini, ‘berdoa’ bagi seorang aktivis pembebasan berarti sebuah praxis—aksi nyata membela kaum tertindas (mustad’afun), mengorganisir buruh, mendampingi orang yang tanahnya dirampas, dan melawan kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat adalah doa yang paling didengar Tuhan. Berdoa juga berarti usaha untuk transformasi kesadaran dan analisis kritis—membedah akar masalah ketidakadilan sebab bagi Hanafi memisahkan ritual keagamaan dengan kajian ilmiah adalah sebuah kekeliruan.
Pada akhirnya, bagi seorang akivis teologi pembebasan doa bukan kalimat yang diucapkan dalam kesendirian. Doa adalah pekik perjuangan yang diteriakkan dalam solidaritas bersama kaum tertindas. Doa mereka adalah keringat dan kerja keras untuk mewujudkan keadilan Tuhan di muka bumi.










Satu Komentar
Alright, time to try 22winphlogin! The games look awesome. Fingers crossed for some big wins! Feeling lucky! Give it a shot 22winphlogin