Dewasa ini menjadi penulis barangkali menjadi cita-cita semua orang. Sebab, menulis adalah bekerja untuk keabadian, begitu kata Pram. Sudah barang tentu cita-cita untuk keabadian itu seringkali menghiasi lintasan ide yang melekat pada setiap insan di muka bumi yang membawa pada gairah untuk berlomba-lomba menulis, membuat karya dan lain sebagainya tanpa memperhatikan aspek lain dari tulisan atau karya itu misalnya aspek kualitas, ketajaman argumentasi, dan kebaruan.
Konstruk yang berkembang bahwa manusia yang telah menerbitkan karya adalah manusia yang hebat dan langka seringkali bertebaran di sekeliling kita tak terkecuali para terpelajar, mahasiswa hingga orang-orang tua. Karya yang dimaksud barangkali tidak hanya buku ilmiah maupun fiksi, tapi bisa jadi juga semacam jurnal atau tulisan lepas yang disebar diberbagai kolom media. Nyatanya hasrat emosional untuk mengejar itu masih banyak dijumpai dewasa ini.
Di satu sisi nyatanya perlu diapresiasi, namun di sisi lain juga perlu dikuliti khususnya pada aspek kualitas yang masing-masing tentu memiliki ukuran tersendiri. Ukuran ini yang barangkali masih menjadi diskusi hangat akhir-akhir ini, lantaran masing-masing individu memiliki ukuran tersendiri. Namun yang menjadi menarik justru pada posisi itu, dimana ukuran masing-masing individu hendaknya dipertarungkan hingga menjadi diskursus yang mengarah pada kebenaran dan keabsahan.
Selain itu, karya hendaknya juga memunculkan kebaruan, tidak hanya saduran atau bahkan jiplakan dari karya lain yang kemudian dilegitimasi dengan serampangan. Karya yang tidak memunculkan kebaruan ini cenderung banyak berkeliaran disekeliling kita, bahkan dengan gagahnya mengatakan bahwa telah bekerja untuk keabadian.
Dalam banyak hal, barangkali ini juga menjadi catatan penting pada dunia akademik hari ini, dimana terjadi banyak praktik-praktik pembegalan akademik yang berserakan di dunia akademik itu sendiri. Praktik jual beli jabatan, praktik transaksional karya ilmiah, praktik transaksi gelar (Baca: misalnya gelar kehormatan akademik) maupun praktik penciptaan karya secara tiba-tiba (Baca: untuk sebagian penulis yang merasa saja).
Jika ditelaah lebih jauh nyatanya praktik ini juga menjadi bagian dari adanya indikasi komersialisasi terstruktul yang dalam sejarah panjang pendidikan merupakan hal yang niscaya. Pernyataan ini tentu tidak berlebihan mengingat secara historis sejak tahun 900 sebelum masehi sejak pendidikan mulai dilembagakan di kota Sparta, pendidikan tidak pernah diarahkan untuk dirinya sendiri atau dalam bahasa lain pendidikan sebagai wahana sekaligus sebagai alat. Alat untuk meningkatkan kreativitas seseorang, alat untuk menyalurkan ilmu pengetahuan, alat untuk meningkatkan taraf ekonomi dan sebagainya.
Sebagai sebuah alat pendidikan tentunya memiliki tujuan yang tertuang dalam visi dan misi pendidikan itu sendiri. Pada bagian ini nyatanya ruang dilematis pendidikan tercipta yang bermuara pada dua perkara yaitu posisi dan hakikat pendidikan harus tetap berpatokan pada nilai kemanusiaan dan kerakyatan. Selanjutnya, alur pendidikan mengikuti alur sistem ekonomi kependidikan yang berorientasi pada peningkatan taraf ekonomi dan sebagai wahana investasi pada proses industrialisasi liberal-kapitalistik.
Pada aspek di atas nyatanya ada temuan menarik bahwa ketidaknetralan pendidikan dipengaruh sistem ekonomi pendidikan yang tidak menafikan perebutan pengaruh. Dalam arti lain barangkali lebih kepada eksistensi heroik individu.
Dari uraian itu, nyatanya bermuara pada dua hal yaitu pertama, perebutan pengaruh yang niscaya dalam implimentasi pendidikan, kedua, kebutuhan ekonomi yang juga niscaya bagi kehidupan. Dua hal ini menjadi menarik yang disatu sisi barangkali perlu dipahami dan diapresiasi, namun disisi lain juga disayangkan terjadi, mengingat prinsip pendidikan nyatanya tidak demikian. Oleh karena itu, kesadaran menjadi penting untuk dipupuk bahkan dari aspek terdalam manusia, sadar bahwa tidak memiliki kemampuan, juga sadar bahwa praktik penghianatan terhadap pendidikan tak perlu dilakukan sehingga individu bisa mengukur kelayakan dirinya untuk bicara dalam aspek apapun yang berbau nilai-nilai pendidikan.









