Beranda / Seni dan Sastra / Cerpen / Selamat Hari Raya Untukmu Ahmad

Selamat Hari Raya Untukmu Ahmad

Jam kini menunjuk Pukul 02.30 WIB, terdengar suara takbir berkumandang dari arah masjid, tak jauh dari rumah.

Allahu akbar…..Allahu akbar…..Allahu akbar. La ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar wa lillahil hamdu.

Mengapa setiap malam takbiran, malam terasa begitu lama bagiku. Malam ini aku hanya tidur beberapa jam saja lalu terjaga sampai subuh. Tepat Pukul 05.00 WIB ibuku mulai sibuk menata-nata makanan di meja, mulai dari astor, nastar, wafer dan permen. Hingga menyediakan air mineral gelas bagi yang tidak minum teh.

Dorrr…dorrr….dorrr

Ah ternyata perbuatan ibuku ketika kakak laki-lakiku susah dibangunkan. Biasanya suara itu terdengar saat weekend saja. Tapi kali ini tanggal merah pun ia harus berkelahi dengan suara gedor pintu ala ibuku. Sementara aku, selesai salat subuh langsung bersiap ingin segera menggunakan pakaian baru yang sudah tidak sabar ingin aku pakai.

 

“Ayok! Segera berangkat! Nanti ketinggalan”,

ucap ibuku dengan nada terburu-buru.

Aku yang bangun pagi artinya bersiap lebih awal tapi kenapa kakakku yang beres duluan.

“Ehh dik, ayo dandannya jangan lama-lama.” Sambil menuju ke arahku yang sedang finishing memakai parfum.

Pukul 06.30 WIB keluargaku bergegas menuju masjid. Orang-orang juga sudah mulai berdatangan untuk melaksanakan salat eid. Terlihat beberapa memakai baju kembaran sekeluarga atau ada juga yang memakai baju lebaran tahun lalu. Tidak papa! Lebaran tidak harus mengenakan baju baru.

Namun yang menarik perhatian, aku melihat anak usia sekitar 13 tahun itu berjalan kaki menuju masjid sendirian, namanya Ahmad. Ia mengenakan kemeja batik kedodoran, aku menebak itu baju barunya. Ahh, pasti ibunya tidak sempat membawa pakaian itu ke tukang jahit. mungkin, karena ibunya memang sudah tua dan sakit-sakitan. Dia memang hanya tinggal dengan ibu angkatnya sejak orang tua kandung menitipkannya untuk dirawat.

Ahmad. Hari ini aku melihat wajahmu tampak lebih bersinar dari hari biasanya. Anak kecil yang lusuh nan kusam itu harus merelakan berhenti sekolah pada tingkat menengah pertama.

Selepas salat ied, seperti ritual tahun-tahun lalu. Aku dan keluarga menuju rumah nenek berkumpul dengan keluarga besar. Ketika aku hendak makan opor buatan nenek. Tiba-tiba muncul di benakku seorang anak bernama Ahmad.

“Dengan siapakah dia merayakan hari ini?” Ibunya sakit sedangkan ia harus merawatnya. Tidak ada opor, tidak ada thr, tidak ada astor di rumahnya. Bahkan tidak ada yang menggedor-gedor pintu kamarnya ketika ia belum bangun. Mungkin ibunya hanya menitipkan doa pada anak semata wayang, semoga ia lekas sembuh dari penyakit kankernya.

Ahmad. Namamu bagus, kalau dalam bahasa arab artinya sangat terpuji. Tapi orang-orang sering memanggilmu amat, begitu lidah orang jawa ketika menyebut nama Ahmad. Kalau ditelisik dalam bahasa arab ‘amat’ ini artinya budak perempuan.

Namun, biarlah kamu menjadi budak perempuan. tidak, budak seorang perempuan yaitu ibumu. Hatimu sangat mulia saat memiliki kesempatan tinggal kembali bersama ibu kandung, yang kemungkinan jauh lebih mapan. Kamu tetap memilih ibu yang merawat mu sejak kecil.

Suri tauladan dan nama Ahmad sendiri berasal dari habibana Muhammad SAW yang merupakan figur yang sangat memuliakan ibunya, begitu kata Ahmad lain yang aku kenal.

Ahmad. Perjuanganmu mengingatkanku pada Ahmad lain yang aku kenal. Ahmad lain yang ku kenal mempunyai ceritanya sendiri. Mulai dari Ahmad yang harus merawat ibunya. Lalu Ahmad yang dibully temannya ketika sepatu yang dikenakan jebol.

Ahh, hari itu juga aku ingin menemui Ahmad dan mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri untukmu, Ahmad.

 

Oleh : Nurul Anisa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *