Beranda / Esai / Opini / Berdiri di Atas Bahu Raksasa Bagi Thomas Kuhn

Berdiri di Atas Bahu Raksasa Bagi Thomas Kuhn

Tulisan ini merupakan tugas esai dari mata kuliah filsafat ilmu tentang revolusi saintifik, yang dimana isinya adalah upaya penulis untuk meng-simplifikasi pemikiran kuhn agar terasa lebih dekat dan tersampaikan melalui bingkai problem yang akrab sehari-hari.

***

Sejak kecil saya selalu dibimbing agar senatiasa membuang sampah pada tempatnya, yah, tempat sampah itu sendiri. Hal ini tentu terjadi karena orang tua saya ingin anak-anaknya bertanggung jawab dengan sampah yang mereka hasilkan agar tidak mengotori dan merusak keseimbangan alam. Pada prosesnya beberapa hal diajarkan kepada saya, dari cara memilah sampah, mengurangi penggunaan sampah yang kurang ramah lingkungan, dan cara mendaur ulang sampah sehingga memiliki daya guna.

Semua hal tadi diajarkan pada saya sebagai kerangka refleksi dan bertindak yang berpusat pada diri pribadi. Lambat laun saya lantas menemui berbagai macam pengalaman dan dampak langsung dari krisis lingkungan, sebuah pandangan baru mulai berdatangan di kepala saya, yang semula mengacu pada kesadaran pribadi secara keseluruhan, sekarang mulai ingin tahu bagaimana proses produksi sampah oleh kapitalis yang berjalan secara tidak sehat dan tanpa disadari sudah mendarah daging pada kesadaran masyarakat luas hingga terhitung saat ini fenomena tersebut masih dianggap sebagai hal normal.

Namun pertanyaanya adalah, apakah proses pencapaian pengetahuan pada diri saya merupakan proses akumulasi dari sekian banyak pengalaman atau malah dari proses pemilahan suatu pengetahuan yang di tinjau dari relevansinya? Apakah dia berkembang dari ulat mejadi kepongpong lantas bersayap menjadi kupu-kupu atau proses saling makan memakan antara ulat oleh murai, murai oleh ular, ular oleh elang dan seterusnya?.

Dalam anggapan umum perkembangan ilmu pengetahuan berjalan memalui proses akumulatif evolusioner, bagaimana pengetahuan yang lama berkembang dengan disokong oleh pengetahuan-pengatahuan yang baru. Maka muncullah metafora yang begitu masyhur yang dikutip dari Issac Newton “berdiri di bahu raksasa”, bahkan istilah ini akan menyambutmu pertama kali saat mengakses google scholar. Hal ini terus disepakati dan dijadikan kenormalan sampai setidaknya tahun 1962, saat seorang pemikir muda bernama Thomas Samuel Kuhn menulis esainya yang berjudul The Stucture of Scientific. Menurut George Ritzer dalam buku sosiologi paradigma ganda Khun memang menulis esainya dengan tujuan meruntuhkan pandangan umum tadi.

Dalam esai itu Kuhn menganggap bahwasanya perkembangan ilmu pengetahuan berjalan secara nonakumulatif refolusioner yang artinya dia berjalan dan berkembang melaui proses penyingkiran suatu pengetahuan demi kehidupan pengetahuan yang lain. Sebagai tanggapan atas pandangan neo positisme dan Karl Popper yakni mekanisme verifikasi yang merupakan konfirmasi eksperimental dan falsifikasi yang merupakan penyangkalan kembali atas teori, yang memang pada kelihatannya keduanya seakan-akan berada pada kutub yang berbeda, namun bagi Kuhn keduanya memiliki aspek kesamaan yang cukup fundamental yang mana keduanya sama-sama memisahkan (distingsi) antara ilmu dan unsur subjektifitas dari para ilmuan. Oleh karenanya untuk menjelaskan gagasannya, kuhn melahirkan konsepnya sendiri, yang kemudian dia beri nama “paradigma”.

Kuhn sebenarnya tidak pernah menjelaskan secara eksplisit definisi dari paradigma itu sendiri. Menurut Margaret Masterman dalam buku filsafat ilmu karya Zaprulkhan, Kuhn menggunakan konsep paradigma tersebut sekurang-kurangnya dalam dua puluh satu cara yang berbeda-beda. Dalam modul PKD Pembebasan 2022, Masterman membagi paradigma yang digunakan oleh khun menjadi tiga pengertian :

Pengertian dalam arti metafisik (metaphysical paradigm) yang berarti bahwa suatu paradigma berkaitan dengan suatu pandangan mengenai pokok persoalan tertentu yang menjadi pusat perhatian komunitas ilmuwan atau pencarian ilmuwan mengenai kelompok persoalan.

Pengertian dalam arti sosilogis (sosiological paradigm) yang berarti bahwa paradigma merupakan sebutan bagi pola kehidupan sosial atau penemuan teori secara umum.

Pengertian dalam arti konstruksi (construct paradigm) yang berarti bahwa paradigma digunakan untuk menunjukkan aktifitas teknis sebuah ilmu.

Maka paradigma bisa dikatakan sebagai penyedia suatu cara pandang atau kacamata baru. Paradigma sendiri memberi bantuan tentang apa yang harus di pelajari, persoalan-persoalan apa yang harus diajukan, bagaimana cara mengajukannya, dan aturan apa saja yang boleh diikuti dalam menginterpretasikan jawaban yang diperoleh.

Jika suatu objek bisa dinilai melalui beberapa kacamata maka akan sangat sulit untuk objek tersebut menyandang kebenaran secara objektif. Proses pemilahan terhadap nilai selalu terjadi, yang mana penelitian bukan hanya ditentukan atas apa yang akan diteliti namun juga metode dan pendekatan teoritis apa akan yang digunakan. Dalam prosesnya pilihan-pilihan ini selalu dilakukan dalam konteks sosial yang sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial politik dan subjektifitas ilmuan pada saat itu.

Lantas bagaimana paradigma memainkan perannya di dalam proses terjadinya revolusi saintifik?

Jika dijabarkan proses perkembangan ilmu harus melalui beberapa fase terlebih dahulu. Sebelum terbentuk nya suatu paradigma ada fase yang disebut sebagai praparadigma, fase tersebut adalah pencarian dari beberapa kandidat nilai yang terseleksi dan akhirnya menjadi seperangkat keyakinan dan nilai, dan pada fase tersebut praparadigma sudah berevolusi menjadi paradigma.

Dalam konteks di atas maka sebelum saya menyimpulkan tujuan orang tua saya menyuruh saya membuang sampah pada tempatnya, terjadi cekcok kecil antar beberapa spekulasi yang akhirnya menarik kesimpulan bahwa membuang sampah pada tempatnya berarti mencegah kerusakan alam. Maka dalam artian sempit hal tersebut telah menjadi paradigma dalam kehidupan saya.

Setelah melalui proses pembuktian dan penelitan yang komprehensif maka suatu ide yang menduduki kasta tertinggi dalam beberapa kurun waktu telah berubah mejadi paradigma. Walau sudah menjadi ketentuan umum bukan berarti paradigma imun terhadap kritik dan perubahan, pada perkembangannya waktu selalu membawa anomali-anomali yang menyebabkan krisis. Ketika hal tersebut terjadi artinya paradigma lama sudah sempoyongan dalam menahan beban nilai saat ini, oleh karenanya harus ada paradigma baru yang berani memerangi sang paradigma lama untuk menggantikannya menduduki kasta tertinggi.

Ketika saya senantiasa memilah dan membuang sampah dengan baik, ternyata perubahan yang signifikan tidak pernah terjadi. Pada dasarnya ujung nasib sampah yang saya buang di tempat sampah akan pergi ke Tempat Pembuangan Akhir (TPS) yang akhirnya juga memiliki batas maksimal dalam penampungannya, metode daur ulangpun nyatanya tidak se-efektif itu, hanya beberapa jenis sampah plastik saja yang bisa diolah, itupun maksimal pengelohannya hanya sampai tiga kali saja. Maka paradigma lama bahwa untuk menjaga alam dengan memilah, membuang sampah pada tempatnya dan daur ulang tidak lagi relevan, sehingga diperlukan paradigma baru.

Masalah-masalah tadi atau yang disebut sebagai anomali, menimbulkan adanya krisis. Yang mana krisis inilah yang memberikan celah bagi paradigma baru untuk mengibarkan bendera perang melawan paradigma lama. Siklus ini terjadi selama terus menerus, tidak sedikit paradigma baru yang gagal dalam meruntuhkan paradigma lama namun krisis selalu tahu kapan saat yang tepat untuk datang menyapa

Ketika dirasa metode lama kurang bisa diandalkan maka ide-ide baru berdatangan, maka paradigma menuntun saya pada pertanyaan : apa penyebab utama banyaknya sampah?, mengapa tidak di hentikan saja produksi sampah (plastik)?, siapa yang bertanggung jawab?, apa yang harus kita lakukan?.

Saya memahami bahwa paradigma yang dibawa oleh Kuhn merupakan persoalan universal dalam dunia ilmu pengetahuan, namun untuk memberi contoh, sekaligus ruang refleksi saya mencoba menarik kedalam area yang lebih kecil sehingga terasa dekat dan berdampingan dengan kehidupan sekitar.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *