Ahahahahaha, gelak tawa Takicuk dipermukaan waktu sepertiga malam. Keheningan malam dirusak oleh berisiknya konten-konten media sosial yang membutakan rasa penat dan tegang Takicuk. Ia menikmati konten demi konten hanya untuk memuaskan birahi akan kenikmatan dan penglipur lara. Ketika Takicuk sudah mulai bosan dengan media sosial, ia akan bermain game dengan penuh penjiwaan.
Takicuk adalah seorang mahasiswa semester dua di perguruan tinggi Yogyakarta dengan jurusan Aqidah dan Filsafat islam. Takicuk lalai akan kewajibannya sebagai mahasiswa, sering kali dia hanya scroll aplikasi tiktok dan bermain game sepuasnya. Sampai-sampai buku yang ada di atas lemarinya mulai diselimuti jaring laba-laba. Tak hanya itu, kini kamarnya penuh dengan debu yang menggumpal menjadi saksi akan betapa malasnya Takicuk.
“Uhuk… uhukk”, suara batuk Takicuk terdengar nyaring nan serak. Ia tak merespon apapun, bahkan tak terbesit sepenggal kalimat “aku kenapa,” madia sosial telah membelenggu diri Takicuk untuk sadar dan merasakan akan sesuatu yang salah dalam dirinya. Hingga pada suatu ketika Takicuk melaksakan ujian akhir semester.
“Loh kok aku dapet nilai D”, ujar Takicuk dalam batinnya sembari memegangi kertas laporan hasil ujian akhir semester. Ia terheran-heran mengapa ia bisa mendapatkan nilai serendah itu, padahal pada semester satu ia tidak mendapat nilai serendah ini. Ia berfikir, bagaimana nanti bilang ke orang tuanya bahwa ia mendapatkan nilai D dalam ujian akhir semester kali ini. Pikiran buruk menghantui diri takicuk.
Overthinking dengan keadaan dirinya yang sekarang, sunyinya malam semakin membuat Takicuk semakin gundah gulana memikirkan apa yang telah terjadi. Perubahan yang lebih mengarah pada hal negatif membuatnya mengalami tekanan mental ringan. Tentunya hal ini membuat kondisi fisik Takicuk melemah sehingga jatuh sakit. Dia meringkuk merasakan panas di sekujur tubuhnya, matanya yang sayu dan wajahnya yang pucat menghambat segala aktivitasnya.
Pikiran Takicuk melebar kemana-mana, ia bergulat dengan pikiran yang selalu menimbulkan pertanyaan ‘kok bisa seperti ini’ membuat Takicuk semakin meriang. Sampai pada akhirnya Takicuk berinisiatif membuat peraturan dalam hidupnya. Ia membuat rutinitas baru akan berolahraga dan memanfaatkan waktu untuk hal-hal positif dan akan lebih rajin menjaga kebersihan. Ia sadar bahwa dirinya terlalu malas untuk beraktivitas.
Esok harinya Takicuk memulai rutinitas barunya dengan bangun pagi dilanjut dengan olahraga ringan seperti push up, sit up, dan senam lantai. Kemudian ia bersih-bersih kamar dengan melihat setiap sudut kotoran yang menempel di dinding, lemari, buku, dll. Ia juga mulai membaca lagi buku-buku yang sudah terkoleksi dengan rapih di rak lemarinya. Ia juga mencatat segala hal-hal penting dalam hidupnya. Sampai suatu ketika “Capek ah, rebahan dulu asik sih”, Takicuk kemudian tidur dengan ditemani gadget yang memutar kisah horor pendakian.
Hari mulai gelap, Takicuk tak kunjung bangun. Ia masih terlelap dalam bunga tidur. Tepat pukul sembilan malam Takicuk terbangun. Ia lanjut dengan scrol tiktok kembali, tanpa disadarinya ia sudah larut dalam kemanjaan dunia digital. Mulai dari malam itu, Takicuk bermalas-malasan lagi, ia melupakan segala peraturan dan jadwal yang telah ia buat.
Satu minggu kemudian, Takicuk tak kunjung sadar bahwa rutinitasnya sudah terhapuskan dengan kenikmatan sosial media. Ia bangun di jam sembilan malam kemudian bermain game online, dilanjut scroll tiktok, menonton video youtube sampai pagi hari. Di pagi hari itulah Takicuk kemudian tidur sampai siang. Lalu ia bermain game dan bermain sosial media lagi. Rutinitas inilah yang dilakukaan selama ini.
Sampai suatu ketika ia tiba-tiba merasa gelisah. Ia mencoba berhenti untuk bermain gadget. Perasaan yang membuatnya gundah gulana tidak tahu pasti apa penyebabnya. Ia seakan-akan tertekan dan bosan dengan kehidupannya. Pikirannya bergulat kembali, “seburuk itukah aku?” dan kumudian ia berargumen kembali pada dirinya sehingga memunculkan perdebatan yang kian memanas.
Karena tak kunjung usai tepat jam 12 malam ia memutuskan untuk keluar kamar dan berjalan-jalan ditengah sepinya kota Yogyakarta. Ia berpikir sembari berharap dengan jalan-jalan kali ini dapat membuat pikirannya tenang. Setengah jam kemudia ia merasa lelah, ia pun membeli makanan di salah satu warung yang masih buka.
Pada saat di warung takicuk melihat seorang ibu-ibu yang sedang memungut sampah. Ia mengamati dan berpikir bagaimana dan apa yang dirasakan ibu tersebut. Muncullah rasa simpati dan empati takicuk, ia pun bergegas membungkus makanan dan membeli satu porsi lagi untuk ibu tersebut.
Takicukpun menghampiri ibu itu “Permisi ibu, ibu tadi sudah makan? Ini saya ada nasi mari kita makan dulu ibu” Ajak takicuk sembari menyodorkan sebungkus nasi. “iya nak makasih banyak yaa. tapi ibuk seperti ini, gapapa kalau mau makan bareng?” jawab ibu itu sambil terheran-heran. Takicuk menjawabnya dengan rasa rendah hati “gapapa buk, mari makan dulu.” Kesunyian malam itu seakan memberikan energi positif untuk takicuk.
“Ibu namanya siapa?” tanya takicuk sembari mengepalkan nasi. Ibu itu menjawab serta menjelakan bahwa namanya Sutinah, ia tinggal disekitar kota. Rumahnya tertutup oleh besarnya mall yang ada di sana. Memungut sampah adalah profesi yang dijalani oleh ibu sutinah dan penduduka lainnya. Ia menjelaskan bahwa dulunya Yogyakarta tidaklah seperti itu, jalan yang asri, ramahnya penduduk asli, perekonomian penduduk yang stabil. Kini sudah penuh dengaan besarnya mall, ramainya pengunjung yang datang, sehingga warga lokal tergusur dengan adanya hal demikian.
Ibu sutinah bercerita bahwa dulu ia anak muda yang suka bersenang-senang. Ia bermain- main dengan anak sepantarannya. Dulu rasanya sangatlah asik bisa bercanda gurau denga orang-orang. Tak hanya itu, ia masih bisa melihat turis berjalan-jalan disekitar malioboro. Sampai saat ia beranjak remaja, krisis ekonomi mulai melanda, ia pun terpaksa harus ikut bekerja dengan orang tuanya. Di ruko kecil penjual baju, menjadi pundi-pundi uang keluarga ibu sutinah. Sampai beranjak dewasa, karena sudah terbangun mall kini usaha milik ibu sutinah sekeluarga bangkrut. Ia hanya bisa mengais rezeki lewat sampah yang bertebaran di sudut kota Yogyakarta.
Ibu sutinah juga berpesan kepada takicuk “mumpung masih muda nak, hal terpenting di dunia ini adalah ilmu. Carilah ilmu dan manfaatkan apa yang sekarang ini kamu miliki, jangan sampai lalai dengan hal terdekatmu, banyak-banyaklah interaksi, tak semua yang terlihat indah itu indah.” Pesan ibu dengan penuh kasih sayang. Takicuk pun mengangguk, mengiyakan nasihat ibu sutinah.
Tak terasa sudah hampir dua jam takicuk bercengkrama dengan ibu sutinah. Kini ia berpamitan untuk pulang. Diperjalan pulang takicuk merasa lebih tenang dari pada yang sebelumnya. Ia sudah bisa berpikir positif dan merefleksiakan kejadian yang selama ini telah dilakukannya. Sampainya dikamar ia langsung bergegas meregangkan badan dan tidur.
Keesokan harinya takicuk terbangun dengan semangat penuh. ia kembali melakukan olahraga dan membaca buku. ia bertekad untuk merubah segala kebiasaan buruknya. Siang harinya takicuk mulai pergi ke cafe untuk berinteraksi dengan teman-temannya. Rutinitas takicuk kali ini dapat dilaksnakan dalam jangka waktu yang lama, bahkan ia bisa mengembangkan segala potensi yang ada di dirinya.
Sampai suatu ketika, ia menemukan video youtube berjudulkan “permasalahan anak muda zaman sekarang” di dalam video itu menjelaskan tantangan di era societi 5.0. Teknologi kini kian berkembang, namun perkembangan teknologi ini menjadikan generasi penerus bangsa bergantung pada perkembangan teknologi. Takicuk menggali informasi lagi tentang tantangan yang diberikan oleh perkembangan teknologi. Sampai ketika ia menemukan video yang menjelaskan bahwa perkembangan teknologi ini dapat membuat seseorang mengalami gangguan psikologi akibat dari kecanduan teknologi. Seperti anti sosial, nomophobia, megalomania, dan lain-lain.
Ternyata tanpa disadari, takicuk sudah mengalami gangguan psikis semacam itu. Iapun akhirnya sadar, betapa buruknya pengaruh teknologibagi dirinya. Selain itu, ia juga sadar bahwa segala perubahan apabila tidak kuatkan dengan tekad tentu hal ini akan menjadi halusinasi semata. Perlu kerja keras untuk melakukan perubahan. Mulai dari sinilah hidup takicuk bernjak lebih sehat dari sebelumnya. Kamarnya senantiasa bersih, buku-buku bacaan kian bertambah, teknologi yang biasanya hanya untuk hiburan kini menjadi sumber pengetahuan.
****
Aku terlalu nyaman dengan dunia digital waktu itu, aku hanya menggunakan kenikmatan itu untuk memanjakan diriku. hal itu telah merubahku, aku hancur, tubuhku mulai sakit-sakitan, pengetahuanku mulai terbatasi, aku menjadi bodoh. Meskipun aku mencoba untuk berubah namun aku tetap saja gagal. Ternyata aku tidaklah memiliki tekad untuk berubah. Gulat pikiran senantiasa menghantuiku, diriku seakan berdialog dengan seratus diriku yang lainnya. Kini aku sadar, penting sekali untuk mengatur hidupku. Aku memiliki sesuatu yang belum tentu orang lain miliki. Maka dengan segala kemampuanku aku harus tetap berkembang. Ibu sutinah telah berpesan padaku bahwa janganlah diriku menyia-nyiakan segala yang kupunya, termasuk waktu. Itulah aku, Segala pergulatan yang terjadi dalam kisahku.










2 Komentar
Top
Semangat takicuk