Desa Moroasri merupakan desa yang indah tempat bersantai yang nyaman, udaranya sejuk, serta masyarakatnya ramah. Tanah disini dulu memang sedikit menyedihkan, tempatnya yang dekat dengan pantai sulit untuk ditanami, sehingga banyak sekali lahan kosong tak terpakai. Beberapa dekade lalu warga desa berinisiatif untuk mencoba mengelola sendiri tanah-tanah itu. Berbekal pengetahuan dan biaya seadanya warga bahu-membahu mencari solusi yang ada. Sempat mendapatkan bantuan dari program swasembada pangan milik pemerintah, namun nominalnya yang kecil (entah benar-benar kecil atau terpotong sana-sini) tidak banyak membantu. Usaha tidak menghianati hasil, bunyi pepatah yang kemudian menjadi nyata. Setelah mencoba menanam berbagai tanaman, melewati berpuluh-puluh kali masa gagal panen, lihatlah sekarang, setelah beberapa puluh tahun akhirnya anak cucu mereka mampu menikmati hasil bumi di tanah yang sudah tidak gersang lagi. Mereka tak lagi bergantung pada daerah sekitar. Krisis pangan terjawab, dan masyarakat Moroasri hidup dalam keugaharian, saling menghormati tenang, dan aman; sampai setidaknya dua bulan lalu.
*****
Pagi ini cerah di dalam rumah tak banyak kebisingan terjadi. Di hari libur seperti ini biasanya pemilikku akan pergi ke ladang membantu ibuk menyiram tanaman. Hanya itu yang bisa dia lakukan, bukan karena dia malas dan tidak mau berbuat sesuatu, ibuk tak membiarkan nya bekerja “kita hanya hidup berdua, hasil panen dari ladang sudah lebih dari cukup, lebih baik kamu fokus ke kuliah kamu dulu”. Lagian pemilikku juga sangat bersyukur, tak banyak pemuda desa yang memilih untuk lanjut kuliah. Ketika dirasa mampu mencukupi kebutuhan maka mau SMA atau SMP sekalipun mereka akan berhenti bersekolah, Asal mampu mengelola ladang mereka akan bisa hidup dan menghidupi keluarga dengan tenang, bisa di bilang previlege hidup di desa. Namun naas tujuh Minggu lalu sejak para pendatang itu menghianati desa, beberapa warga harus kehilangan berpetakpetak tanahnya, termasuk ibuk yang kehilangan lebih banyak dari lainnya. Bukan karena lebih luas tergusurnya, namun selain tanah dia adalah peninggalan terakhir bapak, suami tercinta.
Berbeda dari sang ibu, pemilikku masih memilikiku sebagai peninggalan terakhir ayahnya. Mungkin, Hal itu lah yang membuat mengapa aku jarang sekali terpisah darinya.
Pemilikku, gadis remaja berusia 20 tahun berbadan putih bertubuh ramping, tidak terlalu tinggi namun itulah yang membuatnya terlihat begitu gesit dan cekatan dalam mengeksekusi apa saja yang dikerjakannya. Walau di hari libur seperti ini nampaknya dia akan bersiap pergi, tangan kirinya memegangi dua bagian kain jilbab di dagunya lantas mengambil peniti yang ia selipkan diantara bibir tipisnya. Setelah selesai dengan perbedakan seadanya dia pergi menyalami tangan yang ibuk yang mulai mengeriput lalu bergegas bersepatu, namun sebelumnya dia tak lupa menggapai almamater hijau kebanggaannya. Melangkah pergi…
Beberapa kilo meter dari rumah, pemilikku mulai memasuki kerumunan, meluruh menjadi tak dikenal. Suasana disini tak kondusif, wajah-wajah merah marah sedang teriak memaki-maki petugas penjaga.“Penghianattttt bangsatttt” teriak pemuda urakan dengan rambut sepunggung yang entah kapan terakhir kali tersentuh sampo. tak cukup sampai disitu, dia mulai meng-absen seluruh isi kebun binatang, memakai metafora-metafora kasar, bukan tanpa sebab mungkin pemuda itu tau bahwa bahasa manusia tak lagi memadai. Selogis dan sebenar apa pun ucapannya, akan teredam bau busuk kekuasaan. Kemanusiaan merupakan kesepakatan yang murni merugikan kaum fakir dan proletar, sebanding dengan beratnya yang selalu bermain-main di lantai namun enggan menyentuh langit-langit. “saudara, pada dasarnya hukum memang dirancang untuk membatasi kebebasan” terdengar nyaring suara dari mobil komando ”jadi merupakan hal yang salah jika kita menuntutnya untuk memberikan kebebasan pada kita” satirenya pada keadaan negeri tercintanya. Aku tau apa yang sedang berada di benak pemilikku, dia tampak terpukau “bisakah aku sebagai wanita berbuat demikian?” “adakah yang mau mendengarkanku?”. Tak lama setelah lamunan tersebut, tiba-tiba kerumunan menjadi sedikit terkontrol.
disini negeri kami…
tempat padi terhampar…
samuderanya kaya raya…
tanah kami subur tua…
Lagu itu mungkin lembut dan adem, namun mampu membakar semangat perlawanan. Semua tangan terkepal di atas kepala.
Di negeri permai ini…
Berjuta rakyat bersimbah rugah…
Anak buruh tak sekolah…
Pemuda desa tak kerja…
Sempat terhanyut dalam ekspresi-ekspresi khusuk, pemilikku menunduk mencoba menetralisir sirkulasi udara di dadanya, sayangnya sulit, dia memutuskan untuk mundur meliuk diantara badanbadan penuh keringat, mencoba menjauhi kepulan debu yang dihasilkan atraksi saling dorong yang mencoba untuk menerobos pagar badan petugas. Ketika telah berhasil keluar dari gerombolan massa, belum sempat menghirup udara segar, tiba-tiba terdengar sebuah kegaduhan. Para warga berhamburan menjauhi asap yang tiba-tiba terlempar. Para petani yang biasanya berasap-asap ketika membakar tumpukan sekam dan jerami, hari ini terasap oleh petugas berseragam polisi. Sebuah tangan besar tiba-tiba menyekap wajah, menambah kepanikan, hingga tak ada perlawanan, mungkin pemilikku Telah pingsan.
*****
Entah ini dimana, beberapa saat lalu aku tiba di sebuah ruangan kecil berukuran 5×3 m, ruangan ini benar-benar hening sampai beberapa menit lalu, sebelum pemilikku siuman.
“Sudah ku duga, kau sudah sadar manis?”
“Ayo cepet!”, Teriak pria berbadan besar berambut cepak di depan pintu -seperti sedang memanggil orang lain.
Pemilikku mencoba mengumpulkan keberanian, namun sayang tidak sepatah kata pun mampu keluar.
“Sudah kuduga dung lebih oke dari kemarin”.
“Iya jep. dua ratus aku pegang masih segel”.
“Yakin dung? Hari gini mana ada yang masih segel dung, jangan tertipu jilbab dung”
“Berani nggak?”.
“Dua ratus ya?”.
“Gas!”
Mereka mendekat. Pemilikku mundur perlahan hingga langkahnya tertahan tembok.
“Jangan takut cantik. Kami orang baik-baik kok. Iya nggak, dung?” Kawan di sampingnya menyeringai.
Cepat sekali adegan-adegan itu terjadi. Pada gerakan ke sekian kalinya, tangan besar itu menjangkauku kemudian menarik paksa dengan kasar, aku lantas jatuh di lantai berceceran bersama kancingkancing yang ikut terlepas. Pemilikku hanya bisa teriak, mencoba melawan namun percuma tenaga wanita tak sebanding dengan dua monster dihadapannya. Di tengah perlawanannya dia menunduk mencoba menjangkau ku, namun rambut cepak tak membiarkan dan malah mendorongnya, si botak kemudian menendangku menjauh. Si cepak mengangkatnya, membawa ke arah pintu, lantas menempatkannya di atas meja yang tak jauh dari sana.
Tak lagi terdengar percakapan, menyisakan jeritan, lenguhan, tangisan, beserta adegan-adegan yang tak tergambarkan. Rambut yang terjambak terobrak-abrik, buah dada tercabik-cabik, badan tergerayangi terseret kesana kemari, pangkal paha di acak-acak. Tak lagi kutemukan sifat manusia pada dua biadab yang sedang tertawa menganga. Agaknya kucing di rumah lebih tau cara memperlakukan manusia. Pada dasarnya manusia adalah kumpulan nafsu yang menjijikkan, tak cukup dengan merasa menjadi makhluk yang paling berkuasa, manusia mulai memandang rendah sesamanya. Laki-laki menghakimi perempuan, yang kuat menindas yang lemah, yang kaya mengeksploitasi yang miskin, yang punya kekuasaan merampas hak-hak jelata.
Kelam itu aku baru sadar, bahwa selama ini ada yang salah. Tanah bukanlah peninggalan terakhir bapak, melainkan sang anak itu sendiri. Pun sebaliknya, ibuk adalah harta yang tak mungkin bisa di bandingkan denganku. Namun sekarang mereka akan mulai saling meninggalkan. Saat itu tuhan pergi, Tuhan meninggalkan janjinya tuhan tidak pernah menjaga orang-orang yang tertindas. Tuhan mengambil bapak saat dia masih belia, tuhan mengambil harta saat dia butuh untuk pendidikan, tak cukup, tuhan kembali mengambil seluruh dari dirinya. Kesucian, harapan, kewarasan, dan mungkin juga kehidupan.
Aku tau kabar ini tak akan pernah kemana-mana. Kisah ini akan terus tersembunyi di ruangan sempit 5×3 m , dinding-dinding sialan ini akan mengubur semua yang telah terjadi. Cerita ini tak lengkap, masih banyak kepingan yang tertinggal. Aku menyimpan semuanya di ruangan yang kini sudah rata. Jika ingin tau temukan aku yang tertidur di balik tumpukan semen dan pasir yang membeku. Di Pelataran pabrik yang baru berdiri. Berduri.
Bergegas kawan, kebenaran itu rentan sekali menua
Bahkan dibanding manusia.
Aku kalung yang tertinggal.









