Beranda / Esai / Opini / Menjadi Manusia Bersama Al-Qur’an

Menjadi Manusia Bersama Al-Qur’an

Berangkat dari kritik atas lingkungan lama dan diri sendiri, tentang eksistensi Al-Qur’an yang dewasa ini mengalami degradasi makna. Bahkan tak jarang usaha untuk menghafal Al-Qur’an kerap kali ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan layaknya prasyarat untuk melanjutkan pendidikan di kampus bergengsi. Sehingga naasnya hafalan tak berguna apa-apa bagi diri si penghafal lebih-lebih sekitarnya. Dilihat dar maraknya penghafal yang tak terketuk hatinya ketika melihat sesamanya berada dalam kesusahan.

Lingkungan lama penulis merupakan lingkungan yang sedikit demi sedikit mulai abai terhadap makna Al-Qur’an dan hanya berorientasi melancarkan hafalan. Dilihat dari sedikitnya minat untuk mempelajari tata bahasa Al-Qur’an dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya digantikan dengan arogansi ‘naik tingkat’ ke lembaga menghafal Al-Qur’an. Sementara keinginan untuk mempelajari Uluumul Qur’an dikubur hidup-hidup.

Ketika seorang teman ditanya, “sebagai seorang manusia seorang penghafal apakah perlu untuk membuka mata terhadap problematika kemanusiaan ?”, namun jawabannya yang membuat penulis tidak puas, “aku biasanya jarang peduli masalah sekitar, kecuali saudara kandung saja”. Maka kemudian hal inilah yang melatarbelakangi keinginan untuk menulis tentang penghafal dan kemanusiaan.

Perlu kiranya kita mengulas kembali apa itu Al Qur’an. Orang muslim –bahkan orang non muslim pun paham bahwa Al-Qur’an adalah kitab terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw yang diturunkan secara berangsur-angsur melalui melalui Malaikat Jibril. Kitab ini diturunkan guna sebagai tuntunan hidup manusia dan penjelasan dari petunjuk itu sekaligus sebagai pembeda antara yang baik dan buruk (hudan linnaas wa bayyinatin minal huda a wal furqon) yang tiada keraguan sedikitpun di dalamnya (laa raiba fiihi).

Al-Qur’an turun sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Dengan adanya realita tersebut maka jelaslah bahwa tuntunan hidup manusia seiring waktu membutuhkan pembaharuan. Layaknya aplikasi pada handphone yang kita pakai sehari-harinya dan setiap periodenya selalu membutuhkan updating, maka tuntunan kehidupan manusia demikian juga.

Iqra’ bismi rabbikalladzi kholaq. Perintah untuk membaca kepada Nabi Muhammad dalam surah Al-Alaq merupakan landasan yang memperkuat mengapa manusia harus membaca Al-Qur’an. Meskipun pada dasarnya membaca dalam konteks ini tidaklah hanya merujuk pada membaca Al-Qur’an, tetapi juga pada membaca realita dan menuntut ilmu-ilmu pada umumnya. Dikuatkan lagi dengan ayat yang menganjurkan untuk menjaganya (inna nahnu nazzalna dzikra, wa inna lahuu lahaafidzun).

Jamaknya, tujuan dari menghafal Al-Qur’an adalah untuk menjaga eksistensi, mendapatkan syafaat Al-Qur’an dan memberikan mahkota kepada orangtua ada juga yang berpendapat bahwa dengan hafal Al-Qur’an orang akan mendapatkan ‘surganya Allah’ sehingga dengan menghafal membuat orang menjadi tenang. Hal ini bermuara kepada hadis nabi yang mengatakan “Barangsiapa yang belajar Al-Qur’an lalu menghafalkannya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga dan Allah akan menerima permohonan syafaat yang diajukannya kepada sepuluh orang keluarganya yang telah diputuskan masuk neraka”.

Melihat kepada macam-macam tujuannya, seringkali kita kemudian berpikir praktis dan menjadikan orientasi atas pemahaman atas apa yang dibaca sehari-harinya merupakan opsi kedua setelah hafal. Namun seringkali dilupakan oleh sebagian penghafal, bahwa pemahaman itu penting untuk tujuan Al-Qur’an itu sendiri yaitu sebagai tuntunan umat.

Seorang kawan berkata, bahwa bagi seorang penghafal kelancaran dan pemahaman sama pentingnya. Jikalau ada yang hanya fokus hafal Al-Qur’an tanpa mengetahui hukum syar’i, maka seakan orang tersebut bagaikan ksatria penjaga Al-Qur’an yang anti Tuhan. Maksudnya adalah, Al-Qur’an adalah kitab penuntun umat, maka bagi kita orang Indonesia yang notabene tidak terlalu pandai tentang bahasa Arab, maka setidaknya menghafal AlQur’an juga seiras dengan usaha untuk mempelajari dan memahami maknanya. Karena tanpa usaha tersebut, hafalan tidak akan berguna apa-apa. Mungkin saja suatu kali bermanfaat meski hanya sebagai pra-syarat lolos seleksi masuk perguruan tinggi jalur hafalan Al-Qur’an.

Niat awal menjadi sangat penting disini. Karena jika seorang penghafal terlanjur lalai dalam hafalannya –dalam artian pemahaman, maka akan berdampak kepada kehidupan sosialnya. Seorang penghafal yang tepat tidak akan mengkambinghitamkan Al-Qur’annya, dengan dalih fokus menjaga hafalan tak lantas membuat mereka tidak ingin berbaur dengan masyarakat. Jika penghafal Al-Qur’an tidak turun dari status quo sebagai ‘orang-orang pilihan’ menjadi ‘manusia’, maka betapa akan banyak ayat-ayat yang dicekoki dalam otak namun sia-sia dalam prakteknya.

Realita yang demikian memunculkan pertanyaan di kemudian hari, apakah status quo penghafal Al-Qur’an ini adalah bentukan atau sistem yang telah mapan? Apakah lembagalembaga yang mengkomersilkan Al-Qur’an telah membentuk doktrin kesadaran naif sedemikian rupa tentang betapa terhormatnya seorang penghafal sehingga kemudian saleh secara ritual namun masa bodoh dengan sosial?

Litaarafuu. Kita memahami konsep ini sebagai metode kemanusiaan yang menunjukkan betapa Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda tujuannya untuk saling mengenal satu sama lain. Hubungan ini sejatinya membentuk segitiga relasi antar manusia dan penciptanya. Penghafal Al-Qur’an hendaknya menyadari tanggung jawabnya untuk menyampaikan apa yang ia ketahui. Hal ini tidak lain karena penghafal adalah manusia, dan seorang manusia memiliki tanggung jawab untuk peduli terhadap manusia lainnya.

Jika kita pernah mendengar kalimat ‘Jika pilihanmu menjadi penghafal Al-Qur’an, maka murajaah adalah pekerjaan seumur hidupmu’, wacana itu mestinya tidak dipahami bahwa tugas seorang penghafal Al-Qur’an adalah terus-menerus mengaji. Murajaah dewasa ini hanya dipahami sebagai pengulangan hafalan, bukan sebagai sarana mengkaji kembali kekayaan makna-makna Al-Qur’an. Imbasnya jika tak paham dengan tujuan murajaah akan membuat sisi kemanusiaan seseorang menjadi sempit. Karena seketika murajaah menjadi sesuatu yang sangat praktis dan dan Al-Qur’an mengalami degradasi makna.

Katakanlah Tan Malaka, tokoh penting dalam sejarah Indonesia yang juga seorang penghafal Al-Qur’an justru merupakan salah satu pemikir dan pejuang kemerdekaan yang aktif dalam pergerakan nasional. Menghafal Al-Qur’an tak lantas membuat seseorang anti sosial sebagaimana yang saat ini dibentuk dari lembaga-lembaga eksklusif yang terlampau jauh ‘memuliakan’ seorang penghafal. Karena pada kenyataannya seorang penghafal jugalah seorang manusia sama seperti manusia lainnya. Tidak ada yang membedakan seseorang dari manusia yang lainnya kecuali ketaqwaannya (inna akromakum ‘indallahi atqookum). Kemanusiaan merupakan imlementasi atas isi kandungan Al-Qur’an. Lalu masihkan penting kelancaran hafalanmu jika sisi kemanusiaanmu tidak terbangun seiring waktu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *