Sebagaimana disebutkan pada tulisan sebelumnya, proses indianisasi yang membawa dampak besar dalam penyebaran agama Hindu-Budha hanya terbatas kepada masyarakat yang mendiami daerah dengan akses jalan yang baik. Entah akses daratan maupun perairan berupa sungai dan laut. Sementara bagi masyarakat pedalaman, mereka tidak terpengaruh dari dua agama besar itu.[1]
Bisa dilihat di Sumatera, seperti Suku Gayo, Suku Anak Dalam, Suku Kubu, Sakai, dll. Atau di Pulau Jawa bagian barat, ada Suku Baduy yang menganut kepercayaan Sunda Wiwitan. Hal yang sama juga berlaku di daerah lain, misalnya Suku Asmat, Suku Dani, Suku Lani, dll. suku-suku tersebut bisa dikatakan masih asli, artinya, belum banyak terpengaruh oleh budaya luar.
Bahkan, hingga hari ini mereka masih turun-temurun menggunakan hukum adat yang ada, kepemimpinan dipegang oleh kepala suku, serta memeluk kepercayaan diwariskan oleh leluhurnya. Dalam hal politik, tidak ada struktur resmi sebagaimana di kerajaan-kerajaan pada umumnya. Oleh sebab itu, mereka tidak memiliki kemajuan budaya, serta hanya berorientasi dalam pemenuhan kebutuhan biologis.
Sementara itu, di masyarakat yang menjalin kontak dengan budaya luar, memiliki transformasi yang lengkap dalam arus perkembangan budaya. Mereka lalu membentuk hal-hal baru, entah lewat sinkretisasi, akulturasi, asimilasi, hingga peniruan budaya. Semua itu dilakukan karena adanya kontak sosial sehingga menimbulkan transfer ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, di era kerajaan Hindu-Budha di Nusantara, rata-rata peninggalan dari pemerintahan itu menggunakan bahasa Sansekerta, aksara Pallawa, termasuk peniruan dalam beberapa bentuk relief, patung, stupa, cerita rakyat, hingga candi.
Bahasa Jawa dan Bahasa Melayu yang menjadi bahasa dengan penutur terbanyak di Indonesia, tidak bisa menafikan adanya kosa kata dari bahasa tersebut yang diambil dari bahasa Sansekerta. Artinya, kebudayaan India yang dibawa lewat penyebaran agama Hindu-Budha benar-benar memberi pengaruh yang kuat. Jika demikian, mengapa saat ini masyarakat Indonesia tidak menggunakan bahasa Sansekerta?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka harus paham dengan peta masyarakat. Adanya beragam peninggalan dari era kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Indonesia, memang menunjukkan penggunaan bahasa Sansekerta. Tapi, hal itu tidak menjadi bukti kuat bagaimana bahasa yang berasal dari India itu digunakan oleh semua lapisan masyarakat. Besar kemungkinan, karena beragam peninggalan era Hindu-Budha itu berbahasa Sansekerta, maka penutur atau pengguna bahasa Sansekerta terbatas kepada anggota elit kerajaan dan semua pihak yang berhubungan dengannya. Apalagi benda-benda peninggalan itu menyimbolkan dari budaya kerajaan.
Orang-orang yang bukan elit kerajaan tetapi memiliki kontak komunikasi dengan masyarakat lainnya, tetap menggunakan bahasa aslinya, termasuk dalam hal-hal budaya. Atau, misal pun terpengaruhi indianisasi, hanya dalam jumlah yang kecil ketimbang elit kerajaan. Mereka ini yang terus menerus menjaga budaya dari leluhur mereka.
Dari semua di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa di Nusantara ini ada tiga kelompok besar, pertama, elit kerajaan yang terpengaruh budaya (termasuk agama) dari India. Kedua, masyarakat bukan elit kerajaan tetapi memiliki kontak komunikasi dengan masyarakat lain. Mereka menjaga warisan leluhur, tidak terlalu terpengaruh oleh budaya India. Ketiga, suku pedalaman yang sama sekali tidak terpengaruh indianisasi karena tidak pernah menjalin komunikasi dengan masyarakat lain.









