Kawasan Indochina dan Nusantara termasuk wilayah tropis yang dihembusi oleh angin-angin musim, keduanya itu saling berkorelasi dengan India, entah lewat jalur darat maupun laut. Dengan melihat musim yang seperti itu, komunikasi antar masyarakat di berbagai daerah yang jauh itu sangat memungkinkan lewat kapal layar. Tidak hanya itu, jalur pelayaran yang dibangun di zaman dulu lebih luas, misalnya yang ditulis oleh Sylvain Levi[1]:
“Daur arus dan daur angin berkala yang menentukan pelayaran sudah cukup lama menopang suatu sistem niaga antara pesisir Afrika, Semenanjung Arab, Teluk Persia, India, Indochina, dan di belakangnya negeri China, yang masing-masing tidak henti-hentinya memberi sumbangan dan menerima bagiannya.”
Masyarakat yang tinggal di pesisir, sudah berhasil menjalin kontrak budaya, termasuk agama, dengan berbagai daerah lain, lebih-lebih mengandalkan perdagangan sebagai mata penceharian. Sementara itu, masyarakat yang bermata penceharian sebagai petani hanya punya dua pilihan, untuk mengikuti arus budaya masyarakat pesisir, atau masuk ke pedalaman dan membentuk budaya sendiri. Khusus yang terakhir itu, Jules Sion[2] menyebutnya sebagai masyarakat yang kurang beradab.
“Orang yang beradab pada pokoknya hanya orang yang berada di dataran rendah. Tanah berbukit, yang tidak selalu miskin, mereka berikan kepada orang pribumi (pedalaman), padahal mereka sendiri sudah lama punya cara untuk mengolahnya.”
Wilayah pedalaman dan pegunungan menjadi basis utama orang pedalaman, mereka berpindah-pindah, berburu, meramu, berladang dengan tebang bakar. Bahkan, hal itu masih dijalankan oleh suku-suku pedalaman di berbagai daerah.
Karakter masyarakat pedalaman, dimana pun tempatnya, memiliki kesamaan. Seperti teknologi yang jauh dari kata modern, tidak ada kemajuan budaya, orientasinya hanya untuk mencari makan dan beregenerasi keturunan, tidak ada kontak dengan masyarakat lain, tidak memiliki struktur pemerintahan yang mapan, serta tidak memiliki atau mengambil budaya (termasuk agama) yang dipegang oleh masyarakat lainnya.
Kenyataan seperti ini yang dalam berbagai suku-suku pedalaman di Nusantara tidak mendapat pengaruh dari India. Adapun Indianisasi, yakni tersebarnya kebudayaan India secara terorganisir, yang berdasarkan konsep India tentang kerajaan, yang ciri khasnya adalah agama Hindu atau agama Budha, mitologi purana, kepatuhan kepada dharmasustra, serta menggunakan bahasa Sansekerta. Masyarakat Nusantara yang mengalami indianisasi bisa dilihat dari tempat tinggalnya, mereka yang terpengaruh tersebut adalah masyarakat pesisir. Misal pun di pedalaman suatu pulau, mereka memiliki jalur darat yang bisa diakses atau membuat sungai sebagai jalur pelayaran sehingga bisa berkomunikasi dengan masyarakat lain.
Dalam catatan China, ada sebutan K’un-lun dan Dvipantara yang disematkan untuk menyebut orang Melayu pesisir. Definisi Melayu sebenarnya tidak hanya pada orang Sumatera, beberapa bagian di Kalimantan, serta di Malaysia saja. Tetapi termasuk pula orang Sunda, Jawa, Madura, dan Bali. Mereka itu yang di kemudian hari menjadi pihak yang menerima dan menyebarluaskan indianisasi. Catatan dari China menyebut daerah semenanjung Melayu mengalami indianisasi mulai pada abad 2 Masehi.
Sementara prasasti-prasasti yang ditemukan di wilayah itu tidak lebih tua dari abad ke-4 M. Prasasti berbahasa Sanskerta dari Mulawarman di daerah Kutei, di Kalimantan, berasal dari awal abad ke-5 M, dan yang dari Purnawarman di bagian barat Jawa pada pertengahan abad yang sama. Tetapi beberapa area Buddha malah lebih tua, terutama yang ditemukan di Sulawesi, yang paling tua dan yang sesuai dengan tradisi dari Amaravati dari Sri Lanka (abad ke-4/5 M), lalu area Buddha yang ditemukan di selatan daerah Jember (Jawa Timur) yang menunjukkan pengaruh Sri Lanka (abad ke-4 sampai abad ke-6 M), dan akhimya area Buddha dari Bukit Seguntang di Palembang (Sumatera).
Pendeknya, dari semua itu tidak ada yang berasal dari masa sebelum Ptolemaeus (abad ke-2 M) yang daftar nama tempat untuk kawasan di seberang Sungai Gangga sudah penuh dengan nama tempat yang berbunyi Sanskerta.
Dengan begitu, maka sudah jelas penyebaran indianisasi ini lewat arus dagang oleh para imigran yang juga diikuti oleh agamawan terpelajar. Besar kemungkinan, para golongan ksatria ikut melakukan pelayaran, yang mereka ini kemudian menikahi dengan orang-orang pribumi, sehingga mempercepat berdirinya kerajaan-kerajaan Hindu/Budha.
Indianisasi, pada abad ke-7 M sudah cukup massif dan memiliki pengaruh yang luas. Seperti catatan China yang ditulis oleh Ma Tuan-lin[3] yang dalam beberapa babnya menerangkan Chih-t’u atau negeri Tanah Merah yang diasosiasikan sebagai tanah di Sumatera. Ia menggambarkan budaya perawatan orang meninggal di Sumatera waktu itu seperti yang dilakukan oleh pemeluk Hindu India.
“Mereka yang kehilangan ayah, ibu, atau saudara lelaki mencukur kepala dan mengenakan pakaian putih. Di alas air mereka membuat sebuah pondok dari bambu yang ditempati mayatnya dan diisi dengan kayu-kayu kecil. Bendera-bendera dikibarkan, wewangian dibakar, sangkakala ditiupi dan genderang dipukuli, sedangkan api disulutkan ke tumpukan kayu yang habis dilalap lidah-lidab api. Pada akhirnya, semuanya menghilang ke dalam air. Upacara ini tidak pernah berubah. Tak ada perbedaan sama sekali antara upacara kematian seorang pejabat tinggi dan orang biasa. Hanya untuk raja, perabuan dilaksanakan sedemikian rupa hingga abu dapat dikumpulkan, lalu disimpan ke dalam suatu jambangan emas dan ditempatkan ke dalam sebuah monumen.”
Lalu ada catatan dari China yang menyebut utusan negeri Ho-lo-tan atau Ho-ling yang berkirim surat ke Dinasti China pada 452 M, 640 M, 648 M, dan 666 M. Beberapa peninggalan dari masa itu belum ditemukan. Malahan, beberapa ditemukan seperti Prasasti Tuk Mas yang berangka 7 M yang ditemukan di dataran tinggi Dieng.
Negeri Ho-ling, dalam catatan sejarah Dinasti Tang[4] dipuja-puja atas kekayaannya. Disebutkan, pada abad ke-7 M daerah tersebut menjadi pusat dari agama Budhis. Di negeri itu, ada agamawan yang bernama Ji’ianabhadra yang menjadi tour guide para pelancong China, Hui-ning, yang datang pada pada tahun 664-665 M dan menerjemahkan teks-teks Sanskerta dari aliran Theravada ke dalam bahasa China. Hampir bersamaan waktu dengan utusan pertama Ho-ling tahun 640 M, Sejarah Baru Dinasti Tang mencatat pada tahun 644-645 M utusan pertama dari Mo-lo-yu. Negeri yang dimaksudkan adalah negeri Melayu yang terletak di pantai timur Sumatra dan yang pusatnya di daerah Jambi. Peziarah I-ching pemah singgah dan tinggal di sana pada tahun 671 M5. Kita tahu dari karya-karyanya bahwa antara tahun 689 dan 692 M, Melayu diserap oleh Shih-li-fo-shih (Sriwijaya) (Bersambung).
Bacaan:
[1] George Coedes, Asia Tenggara Masa Hindu-Budha (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2010), hlm 28.
[2] Coedes, hlm 29.
[3] Coedes, hlm 120.
[4] Coedes, hlm 121.
[5] Ivan Taniputra, Ensiklopedia Kerajaan-Kerajaan Nusantara: Hikayat Dan Sejarah (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2017), hlm 1-2.
[6] M. C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2007).









