1. Siapa dan bagaimana dirimu?
2. Apa tujuanmu di dunia ini?
Pertanyaan di atas adalah bentuk dari suatu pertanyaan eksistensial. Kemudian, apa itu eksistensi/eksistensialisme?
Sepertinya sahabat/i sudah akrab dengan kata “eksis”, yang memiliki arti berada atau keberadaan. Perlu dipahami secara bersama, bahwa “berada atau keberadaan” memiliki perbedaan makna dengan “ada” yang ontis. Karena berada-keberadaan ini menyangkut peranan dalam adanya sesuatu, bukan tentang hakikat atau asal muasal.
Lebih lanjut, eksistensialisme, secara harfiah bisa dipahami dari penjelasan berikut. Kata eksistensi berarti muncul, timbul, dan memiliki wujud eksternal. Sesuatu yang eksis adalah sesuatu yang memiliki aktualitas (memiliki wujud, seperti papan tulis di rayon, juga tulisan “PMII PEMBEBASAN” dari sterofoam, peralatan dapur yang bisa sahabat/i temui bergelimangan dan berantakan di dapur rayon), sesuatu yang identik dengan dirinya sendiri atau wataknya (seperti apel dengan sebagaimana bentuknya yang seperti itu, agak bulat, berwarna merah, rasa khas apel, dan lain sebagainya).
Bila direnangi sembari agak diselami sedikit, eksistensi dengan pemaknaan yang lebih filosofis, memiliki makna kesadaran akan keberadaan dirinya. Sesuatu yang bertindak, kreatif, menciptakan, dan berekspresi. Meminjam pendefinisian dari KBBI, eksistensialisme adalah paham yang berpusat pada manusia sebagai individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar.
Sebenarnya, memang agak buram memahami “eksistensialisme” dalam satu definisi yang umum. Namun, bagi penyusun, rasanya penting untuk mencapai satu kesepahaman yang sama. Dalam hemat pikir penyusun, eksistensialisme adalah filsafat yang membicarakan manusia sebagai subjek yang memiliki kesadaran, dengan kesadarannya, manusia dapat melakukan proses-proses kreatif. Ini adalah poin utama sekaligus yang menjadi pembeda antara manusia dengan sesuatu yang lain.
Sahabat Ilul adalah manusia, Ilul memiliki kesadaran (menyadari—mengetahui) bahwa dirinya manusia. Ilul (yang memiliki kesadaran) dapat mengetahui mukanya yang impresif, Ilul bisa memilih di antara pilihan-pilihan, semisal, datang ke kegiatan rayon atau tidak. Ini dilakukan Ilul secara sadar. Lain Ilul, lain entok. Entok berbeda dengan ilul. Entok tidak memiliki kesadaran, oleh karenanya entok tidak sadar kalau dirinya adalah entok. Ia hanya bergerak berdasarkan insting, bukan kesadaran. Entok yang nguber-nguber Ilul itu digerakkan
oleh insting, sementara Ilul yang berlari didasari oleh kesadaran.
Penjelasan di atas merupakan konsepsi sederhana dari eksistensialisme, tentang manusia dengan subjektivitasnya; kesadaran. Lanjut menyelam lebih dalam, kita akan mencoba memahami eksistensialisme yang digagas oleh Jean Paul Sartre, filsuf ternama dari Perancis.
“Existence precedese essence”, eksistensi mendahului esensi, demikian mengenai manusia yang dimaksud oleh Sartre. Ini adalah pokok dasar pemikiran Jean Paul Sartre.
Sebelum lebih lanjut, sahabat/i perlu memahami apa itu esensi? Esensi adalah hakikat, inti, konsepsi tentang segala sesuatu secara utuh;lengkap mengenai ketentuan-ketentuan, dan final.
Mari pahami mengenai esensi dengan makanan pentol. Sebelum pentol ada (eksis), konsepsi tentang pentol sudah “ditentukan” dan diketahui oleh si pembuat pentol. Baik ketentuan bahan-bahannya, bentuk, dan tujuan dari pentol. Bahwa pentol itu terbuat dari kanji yang diproses sedemikian rupa, bentuknya bulat, dan untuk dimakan adalah esensi dari pentol, ketentuan-ketentuan pentol sudah bisa didefinisikan sebelum pentol itu menjadi ada (eksis). Artinya, esensi dari pentol mendahului dari keberadaan pentol itu sendiri, yang demikian adalah esensi mendahului eksistensi. Pentolnya belum ada, namun esensinya atau “hakikatnya” mendahului keberadaan pentol.
Bagaimana dengan manusia? Sartre tegas, bahwa manusia sama sekali berbeda dengan pentol, kongruen dengan contoh perbedaan antara Ilul dengan Entok. Manusia, jelas sartre secara tegas, adalah sesuatu yang “ada” dahulu, “esensi” kemudian. Manusia adalah sesuatu yang kosong dan memiliki celah, berbeda dengan benda-benda yang dirinya sudah penuh.
Manusia tidak bisa didefinisikan sebelum ia menjadi “ada terlebih dahulu”, ada yang kosong. Tanpa sifat, karakter bawaan, dan tujuan. Manusia menciptakan dirinya sendiri dengan “kebebasan”. Oleh karenanya, Sartre mengatakan, “eksistensialisme membuat hidup manusia menjadi lebih mungkin”. Manusia memiliki “kebebasan absolut atas dirinya” untuk bertindak: menentukan pilihan, menilai, memilih, memproses, dan menciptakan tujuan.
Kita, manusia, tidak ditentukan oleh suatu watak universal (konsepsi yang berlaku secara menyeluruh kepada seluruh manusia) atau pernyataan-pernyataan manusia yang bersifat objektif (proses pengidentifikasian “paksa” manusia). Manusia adalah subjek yang bebas menentukan dirinya, tidak bisa didefnisikan selain dari apa yang ia lakukan. Dalam penjelasan Sartre, manusia adalah apa yang ia cita-citakan, manusia ada sejauh ia merealisasikan dirinya sendiri, dan oleh karena itu ia adalah keseluruhan tindakan-tindakannya.
Bahwa perempuan itu lemah, tidak berdaya, emosional; laki-laki itu kuat, berdaya, rasional; orang Bojong Gede itu jamet, orang Citayem itu norak, atau orang Jaksel itu beradab adalah omong kosong belaka. Karena manusia tidak didasari dan ditentukan oleh esensi-esensi
seperti yang telah disebutkan, melainkan didasari dengan tindakan kreatif yang bebas. Titik berangkat manusia adalah subjektivitas, bukan objektifitas (tunduk, tenggelam, mengikuti pada suatu sistem atau keadaan yang mematikan kebebasan manusia). Artinya, manusia dapat secara bebas memilih di antara banyaknya kemungkinan. Perlu ditekankan, dalam kebebasannya, manusia memiliki “tanggung jawab”, dengan maksud manusia siap menanggung konsekuen atas tindakan yang ia pilih.
Manusia bukanlah pemilik kebebasan, melainkan manusia adalah kebebasan itu sendiri. Sartre menyebut seseorang yang tidak menggunakan kebebasannya (mengobyek); seseorang yang membiarkan dirinya tenggelam, mempersilahkan dirinya ditentukan oleh orang lainadalah orang yang “mauvise voi”, yakni orang yang menipu diri. Mengapa demikian? Karena manusia merupakan subjek yang bebas, ketika ia tidak secara bebas dalam artian menurut pada hal yang “mengobjektifikasi” dirinya. Menjadi pribadi yang manutan, tenggelam, tidak otentik.
Menipu diri sama dengan halnya memainkan peran yang telah ditentukan, jika seseorang bertindak atau mengada dengan peran yang telah ditentukan, berati ia sedang mengobyek. Sartre memberikan contoh mauvise voa dengan contoh yang nyeleneh—setidaknya dalam kebiasaan umum yang kita pahami—dengan seorang pelayan di sebuah kafe. Penyusun akan menjelaskan ini dengan konteks Sahabat Ikhwanuddin, yang biasa dipanggil “Mamed”. Nah, Mamed ini merupakan seorang pelayan di kafe Past el Goweng. Konsepsi tentang pelayan ini sudah ditentukan oleh kafe tersebut: berlaku ramah kepada pelanggan, mengantarkan pesanan, membantu keperluan pelanggan, dan lain sebagainya. Ketika Mamed menjadi pelayan di kafe Past el Goweng, artinya ia memainkan peran pelayan yang sudah ditentukan, Mamed mengobyek kepada esensi dari pelayan. Mamed, kata Sartre adalah mauvise voi.
Sartre “meniadakan Tuhan”, ia menegasikan konsep dan eksistensi Tuhan. Menurutnya, Tuhan itu “mengganggu” kebebasan manusia. Keberadaan Tuhan mendistorsi kebebasan subjektivitas manusia. Mengapa begitu? Karena Tuhan itu maha tau, maha segala. Ia
menentukan definisi kualitas-kualitas manusia, mencipta mana yang baik dan buruk; di antara yang boleh dilakukan dan yang dilarang. Oleh karena itu, tuhan ditiadakan karena membatasi kebebasan manusia. Sehubungan dengan itu—ketiadaan Tuhan—maka manusia menjadi benar-benar “sendirian” di dunia, tidak dibatasi oleh apapun. Sebagai pengetahuan, Sartre ini telah memutuskan menjadi ateis semenjak umur 12 tahun, alasannya? “Ya, karena memang tidak ada”, kata Sartre kecil saat tiba-tiba terbesit bahwa Tuhan itu kalo dipikir-pikir itu tidak ada.
Berhubungan dengan itu (kebebasan dan mauvise voi), sartre menjelaskan klasifikasi ada dan berada. Pertama, etre en soi (being-in-it self), yaitu berada pada dirinya sendiri. Ini adalah ada yang identik dengan dirinya sendiri. Ia tidak bertanggung jawab selain pada dirinya
sendiri. En soi ini merupakan sesuatu yang tidak kosong, penuh, tidak bercela, tertutup, buta. Tidak aktif, namun juga tidak pasif. Ia sebagaimana adanya saja, tidak memiliki kesadaran. Contoh: pintu, ia hanya ada sebagaimana pintu, tidak bertanggung jawab kenapa atas keberadaannya di dunia selain pada fakta-fakta bahwa pintu berbentuk persegi panjang, bahannnya besi atau kayu, warnanya ini itu, dan lain sebagainya. Ringkasnya, en soi tidak memiliki kesadaran.
Kedua, etre pour soi (being-for-it self), yaitu berada untuk dirinya sendiri. Ini merupakan kebalikan dari “en soi”, artinya “pour soi” adalah sesuatu kosong, tidak penuh, memiliki celah—oleh karenanya perlu untuk “diisi”. Pour soi mampu melakukan pembedaan
atau menidak: melakukan peniadaan; neantisation kepada sesuatu yang lain dan untuk dirinya sendiri. Lebih mudah memahami maksud dari menidak (neantisation) dengan contoh seperti ini. Kepada sesuatu yang lain dari dirinya, Ilul dapat membedakan garpu dengan bantal, Ilul dapat melakukan hal tersebut karena meniadakan garpu dari bantal, karena disadari apa yang dimiliki oleh garpu tidak dimiliki oleh bantal, suatu upaya pembedaan. Kepada diri sendiri, Ilul pada hari Selasa ia pergi ke Basa-Basi, Ilul pada hari Rabu ia pergi ke perpustakaan. Dalam hal ini, Ilul di hari Rabu meniadakan Ilul di hari Selasa. Oleh karenanya, Ilul itu disebut sebagai subjek transenden, artinya dia bisa melampaui diri sendiri.
Lalu, bagaimana Sartre melihat relasi antar subjektif (intersubjektifitas)? Hubungan sesama manusia? Ia melihat akan terjadi chaos ketika terjadi hubungan dengan pola subjekobjek, manusia dengan kesadaran “pour soi” meng-en soi-kan manusia yang lain; manusia mengobjektifikasi manusia yang lain sesuai dengan apa yang ia inginkan. Semisal, di dalam
kamar yang tertutup, Ikhwan dapat melakukan apapun secara bebas: goyang pinguin, sit-up kanguru, ataupun rebahan kadal. Kemudian, Ilul mengintip Ikhwan dari bolongan yang terdapat pada pintunya. Ikhwan yang menyadari Ilul yang mengintip membuat ia tidak nyaman; Ikhwan menjadi orang yang Ilul objektifikasi (melihat Ikhwan sebagai yang Ilul mau); Ikhwan tidak lagi bisa secara bebas melakukan hal yang manasuka di dalam kamar, kebebasannya menjadi terbatas. Ini adalah mengapa Sartre mengatakan, “hell is other people” , neraka adalah manusia yang lain.
Karena Tuhan itu tidak ada—dalam konsep eksistensialisme Sartre—maka tidak ada pencipta, causa sui (penyebab utama), causa prima (penyebab tunggal), alhasil keberadaan alam semesta, termasuk di dalamnya keberadaan eksistensialisme, adalah sesuatu yang bersifat “kontingen”, berarti bisa ada, juga dalam sekejap bisa menjadi tidak ada. Kontigen adalah antonim dari niscaya, sesuatu yang pasti, sementara kontigen kepastiannya tidak jelas. Oleh karenanya, menurut Sartre di tengah keadaan yang kontingen, dalam eksistensi ini hanya ada kebebasan. Suatu kebebasan yang “harus” atau “wajib”, karena keberadaan manusia yang tidak diketahui asalnya, begitu saja terlempar ke dalam dunia faktisitas; sendirian di dunia tanpa suatu entitas hakiki dan nilai-nilai yang sakral, maka tidak ada yang lain selain kebebasan manusia itu sendiri.
Dari situlah mengapa Sartre menyatakan manusia itu “terkutuk menjadi bebas”. Mengapa Sartre menggunakan kata “terkutuk”, bukan kata tersebut lebih menyuratkan pada sesuatu yang pesimis? Iya, bisa dibilang seperti itu. Karena, dalam kebebasannya manusia tidak pernah merasa puas. Kesadaran manusia yang mampu untuk menidak (neantisation) selalu membuat celah atau lubang pada dirinya sendiri, ini yang menyebabkan diri manusia selalu tidak penuh; selalu meniadakan. Berhubungan dengan ini, Sartre mengatakan bahwa kebebasan manusia itu selalu berujung pada kegagalan, gagal dalam membuat dirinya yang penuh;cukup, karena dengan kesadarannya manusia selalu melakukan peniadaan; menidak;neantisation. Lebih lanjut, mengapa Sartre menggunakan kata “terkutuk”, karena manusia adalah hasrat yang sia-sia.
Adanya dunia, sekaligus eksistensi, merupakan sesuatu yang “de trop“, berlebihan.
Sederhananya, mau semesta ini ada atau engga. Ya gapapa juga. Tapi kenyataannya sekarang, ini (alam semesta, juga eksistensi) tuh ada. Eksistensi adalah sesuatu yang berlebih, karena kenyataannya ada. Akhirnya, manusia dikutuk untuk menjadi bebas, tidak terlepas dari kebebasan, dan menjadi nausea; perasaan muak, mual, seperti mau muntah. Dalam keadaan yang bebas yang total (wajib) manusia terus menerus melakukan pemilihan, bertindak, yang ujungnya adalah kesia-siaan.
Soal humanisme, Sartre hanya membahas ini secara singkat, bahkan bisa dipahami dengan penjelasan yang sederhana. Humanisme dalam pengertian Sartre adalah memposisikan manusia lebih bermartabat dari selain manusia. Manusia adalah mahluk yang memiliki subjektivitas (kebebasan). Ia tidak menjadikan dirinya sebagai suatu tujuan (sesuatu yang telah ditentukan), tapi manusia adalah mahluk yang selalu dalam proses kreatif, alias menjadi.
Mini Pustaka:
Martin, Vincent. 2003. Filsafat Eksistensialisme, cet. ke-2. Terjemahan: Taufiqurrohman. Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Sartre, Jean. 2018. Eksistensialisme dan Humanisme, cet. ke-2. Terjemahan: Yudhi Murtanto. Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Syukri, Ahmad. 2019. Tema Sentral Dalam Pemikiran Jean Paul Sartre. Jurnal Tajdid, 22 (1).
Tambunan, Sihol Farida. 2016. Kebebasan Individu Manusia Abad Dua Puluh: Filsafat
Eksistensialisme Sartre. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 18 (2)
Rekomendasi Bacaan karya Jean Paul Sartre:
1. Being and Nothingness (sejauh ini penyusun masih belum menemukan versi terjemahan indonesianya)
2. Eksistensi dan Humanisme









