BANTUL– Aliansi Jaga Demokrasi bersama BEM ISI Yogyakarta selenggarakan Mimbar Demokrasi. “Mahasiswa Bersama Rakyat Tolak Politik Dinasti dan Pelanggar HAM” menjadi tajuk aksi ini.
Kegiatan ini digelar sebagai respon dari isu-isu politik dinasti di pemerintah pusat yang sedang ramai diperbincangkan. Acara bertempat di depan Gedung Concert Hall Institut Seni Indonesia. Ratusan mahasiswa dari berbagai kampus hadir dalam acara ini.

Mimbar Demokrasi diisi dengan orasi politik dari banyak tokoh. Widihasto Wasana Putra, Hendro Plered, SS.n., MBA., Arya Dewi Prayetno, Muhammad Suhud, DR. Aditya Her Nurmoko, S.I.P., M.M. dan Diasma Sandi Swandaru S.Sos., M.H.
Panggung besar menjadi mimbar orasi. Para mahasiswa mendengarkan dengan seksama. Terlihat banyak yang menggunakan topeng Jokowi dan Anwar Usman, sebagian lain membawa spanduk berisikan tuntutan.

Diasma Sandi menjelaskan bahwa politik dinasti dapat diartikan sebagai sebuah kekuasaan politik yang dijalankan oleh sekelompok orang yang masih memiliki kaitan dalam hubungan keluarga. Menurutnya ini telah dilarang dalam Undang-undang nomor 8 tahun 2015.

“Kita semua harus bersama mengawal perkembangan demokrasi di republik ini. Negara ini berdiri dengan asas kerakyatan, semua harus terlibat dalam agenda pembangunan, bukan hanya segelintir elit saja,” Teriak Diasma saat orasi, 23 November 2023.

Orasi ditutup oleh Muhammad Suhud, Kordinator Aliansi Jaga Demokrasi. Ia menyampaikan beberapa tuntutan aliansi. Pertama, Usut Tuntas Pelanggaran HAM. Kedua, Tolak Politik Dinasti. Ketiga, Tolak Komersialisasi Pendidikan di kampus-kampus.

Kegiatan ditutup dengan konser yang didendangkan oleh Grup Band Metfora. Ratusan mahasiswa yang membanjiri halaman terlihat asik berjoget. Beberapa menikmati snack dan air mineral yang disediakan panitia. Konser dipungkasi tepat pukul lima sore. (Yuniar Avicenna)









