Kita sebenarnya sudah mati, hanya belum dikuburkan.
Kalian pernah gak, saat sedang asyik scroll di tengah malam, tiba-tiba berhenti karena sebuah postingan dengan kalimat yang begitu menohok?. Kalimat itu kira-kira berbunyi:
“Kebanyakan pria mati di umur 27, kita hanya menguburkan mereka di umur 72.”
Seketika, riuh-ramainya dunia terasa senyap, dan kita dipaksa menatap layar dengan mata kosong dan nafas panjang.
Quotes atau kata-kata di atas sempat selintas terbaca di beranda media sosial pribadi saya pada beberapa kesempatan yang lalu. Kalimat yang entah dari mana namun sering dikaitkan dengan Mark Twain itu memang punya kekuatan lebih untuk membuat pikiran dan hati pembacanya bergejolak. Kematian yang ia maksud sepertinya bukan soal denyut nadi atau detak jantung yang berhenti, namun memiliki makna yang lebih dalam. Tapi apa!?
Daripada pusing memikirkan siapa yang pertama kali mengucapkan kalimat itu, mari kita ajukan pertanyaan yang lebih penting: kenapa kalimat itu terasa begitu relate? Lihat tanggal lahir kita, sudah berapa umur kita? Apa saja yang telah kita lakukan? Apa saja yang sudah kita hasilkan? Apakah kita merasakan kehampaan dalam menjalani rutinitas? Sudahkah kita berdamai dengan diri kita sendiri? Lalu apa yang harus kita lakukan?. Biar saya tidak pusing sendiri, jadi mari kita bahas dan renungkan makna dari kalimat tersebut bersama.
Pertama, mari kita coba perluas cakupan makna kalimat tersebut dengan mengubahnya menjadi “Kita telah mati di umur 17 tahun, tetapi baru dimakamkan di umur 71”. Karena bisa jadi, perenungan ini bukan hanya akan dirasakan oleh satu golongan gender saja; laki-laki, akan tetapi semua dari kita pernah merasakannya. Sebab sebagai seorang pria, saya telah jadi konkret dalam memahami makna kalimat tersebut. Dengan menyebutkan laki-laki sebagai objek tujuan kalimat, menunjukkan begitu peliknya urusan hidup menjadi seorang laki-laki.
Meskipun bukan ahli dalam penafsiran makna dan belum terlalu banyak belajar, dalam segi teks saya bisa merasakan betapa perihnya kalimat tersebut diucapkan. Sebab, kematian mungkin merupakan hal paling mengerikan dan tragis bagi beberapa orang. Kalimat itu tak lantas menyebutkan kematian secara biologis, tetapi ideologis. Yang mati bukanlah tubuh fisik kita, tapi akal, pikiran, semangat dan jiwa kita. Secara fisik, kita mungkin masih dapat melakukan berbagai kegiatan yang tampaknya masih biasa-biasa saja. Bekerja, berkarya, olahraga dan lain sebagainya. Menjalani rutinitas sehari-hari dengan baik, yang mungkin bagi sebagian orang terasa monoton. Hingga pada akhirnya dengan tak terasa kita telah mati; jiwa, semangat dan pikiran kita. Hambar, dan tak lebih hanya menjalankan rutinitas yang beku dan dingin. Memberi makan jasad fisik saja, lupa mengasihi jiwa.
Dari segi konteks, mungkin sedikit agak melebar ya hehe, terbesit dalam pikiran saya tentang betapa kompleksnya kehidupan kita sebagai manusia. Kehidupan yang penuh dengan tekanan, baik secara eksternal maupun internal. Yang pada gilirannya, lambat laun membunuh nurani kejiwaan manusia. Oleh karena itu saya mengubah angka 27 dan 72 menjadi 17 dan 71, bukan tanpa alasan. Sebab, saya kira 27 tahun itu terlalu lama, ketika melihat realitas yang terjadi; terkhusus di lingkungan sekitar saya, 17 tahun saja sudah cukup untuk melihat kematian jiwa seseorang.
Kenapa bisa begitu? 17 tahun bukankah terlalu muda? Mati jiwa yang seperti apa sih?. Atas pertanyaan-pertanyaan ini, perenungan saya akhirnya sampai kepada beberapa faktor, eksternal dan internal, yang kemudian menyebabkan kita mati jiwa. Selayaknya istilah ekonomi “kemiskinan terstruktur”, dalam hal ini kita juga sama saja “kematian terstruktur”. Kita telah dibunuh sebelum sempat bertumbuh, kita telah mati sebelum sempat mengenal diri. Bahkan jauh sebelum ada di usia 17 tahun pun, yang notabene merupakan usia emas seseorang dalam mencari kesejatian diri.
Kematian jiwa-jiwa kita banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, kita telah terbunuh dengan terstruktur oleh lingkungan sekitar kita sendiri. Lingkungan tersebut mencakup berbagai aspek; sosial, ekonomi, budaya, adat istiadat, sampai aspek terkecil yaitu circle tongkrongan. Terlebih dalam aspek sosial dan ekonomi, aspek ini akhir-akhir ini menjadi poin utama perbincangan di kalangan sosial media, terlebih kaum muda. Hingga muncul istilah quarter-life crisis, yang merupakan fase di mana ketidakpastian menyelimuti kehidupan manusia sepanjang umur 20-an. Kaitannya dengan faktor eksternal tadi, betapa faktor-faktor tersebut sebegitunya dapat mengendalikan tujuan hidup seseorang, bahkan banyak orang. Penyebabnya adalah tekanan sosial dan ekonomi. Akibatnya, kita tidak bisa untuk lebih leluasa memilih jalan kehidupan kita sendiri, dengan tenaga dan pikiran kita sendiri. Kita dikontrol oleh tekanan kemapanan ekonomi, bisik-bisik tetangga hingga algoritma media sosial sehingga secara tak sadar hidup ini hanya untuk memenuhi hasrat mereka. Banting tulang bekerja tanpa mengindahkan diri sendiri, disetir omongan tetangga hingga mengemis engagement di media sosial. Kita lupa cara berbicara dan mengenal diri sendiri, cara berekspresi dan akhirnya lupa diri.
Faktor eksternal tersebut memiliki hubungan yang sangat erat dengan faktor internal dalam diri kita. Banyaknya tekanan yang kita alami membuat kita bingung bagaimana cara untuk berkembang secara mandiri. Hal ini menyebabkan kita merasa terasing dari diri sendiri. Satu-satunya faktor internal yang bisa muncul dari dalam diri kita tanpa pengaruh dari luar adalah kemauan. Tanpa kemauan, kita akan terus berada di bawah tekanan orang lain. Kita mungkin merasa akrab dengan keramaian, tetapi merasa asing dengan diri kita sendiri. Kemauan inilah yang mendorong kita untuk membuka pintu yang selama ini tertutup oleh tekanan dari lingkungan sekitar. Namun, tantangan yang kita hadapi juga berasal dari luar, yaitu akses. Akses yang paling utama dan penting adalah dalam hal pendidikan, diikuti oleh fasilitas dan hal-hal lainnya. Terkadang, banyak di antara kita yang memiliki kemauan yang besar, tetapi terhambat oleh akses-akses ini. Akibatnya, kemauan tersebut terpaksa terkubur kembali.
Namun di sisi lain, saya juga bukan menyarankan untuk menjauhi faktor-faktor eksternal dari diri kita dan hanya fokus pada faktor-faktor internal. Tidak sedikit juga pengaruh aspek-aspek eksternal dari kita yang membawa kita kepada kebahagiaan, tetapi juga dibarengi dengan aspek ke-diri-an kita yang telah selesai. Dengan kata lain, kita tidak bisa terlalu fokus pada diri sendiri saja, aspek sosial seperti contoh pergaulan, teman tongkrongan, lingkungan yang baik juga dapat membuat diri kita berkembang.
Pertanyaan setelahnya adalah, apakah setelah “mati jiwa” itu kita dapat hidup kembali? Sebelum jasad kita akhirnya dimakamkan. Hmmm, pertanyaan ini sebenarnya menimbulkan pertanyaan lagi. Apakah kita sudah mengenal dan berbicara dengan diri kita sendiri?. Kesimpulannya adalah jangan mau dan mudah untuk mengikuti arus. Kenali dan bicaralah dengan diri kita masing-masing, apa yang kita mau dan seperti apa kita akan melakukannya. Sebab dari banyaknya aspek tadi, yang bisa kendalikan hanyalah diri kita sendiri. Kejar dan usahakan semua yang kita inginkan, terlepas nanti akan terbentur atau tidak, serahkan pada semesta (dih, sok Stoik!). Seperti disebutkan dalam salah satu lagu dari band favorit saya Fourtwenty;
Dahulukan Hatimu,
Baru Mereka.
Itulah Kata Kuncinya.
Jadi, mari rayakan dan kasihi diri kita masing-masing. Seburuk apa pun itu, sebodoh apa pun itu, semengerikan apa pun kondisi kita, mari bersama rayakan. Hanya sekarang waktunya, bukan besok atau lusa.
HONG!









