Yogyakarta adalah kanvas besar yang dilukis dengan warisan pluralisme dan spiritualitas. Dari keraton yang membuka ruang ritual bagi beragam kepercayaan, hingga komunitas-komunitas lintas iman yang tak pernah lelah merawat dialog. Namun, di tengah kekayaan interaksi sosial ini, ada sebuah ironi yang nyata: modal sosial yang besar ini belum optimal menjawab darurat lingkungan yang mengancam di depan mata, seperti krisis pengelolaan sampah dan pencemaran air sungai yang kian parah.
Di sinilah Simpul Iman Community (SIM-C) mengambil peran penting. Mereka tidak hanya hadir sebagai fasilitator ruang dialog, tetapi juga sebagai aktor lingkungan yang membawa spiritualitas ekologis ke ranah aksi. Gerakan mereka melampaui seruan “Tanam Pohon atau Bersih Sungai”; mereka mendorong agar spiritualitas menjadi bahan bakar untuk mendesak sektor pemerintah agar bertindak lebih tegas terhadap para perusak lingkungan.
Titik Temu Tiga Perjuangan: Interfaith, Gender, dan Lingkungan
SIM-C lahir dari semangat pluralisme dan toleransi antarumat beragama. Kegiatan seperti dialog, doa bersama, dan aksi sosial kolaboratif telah menjadi DNA mereka, mempererat solidaritas dan membongkar prasangka. Namun, SIM-C menyadari bahwa gerakan lintas iman yang berhenti pada toleransi saja tidaklah cukup. Hari ini, kita membutuhkan aliansi yang menyuarakan keadilan secara utuh, di mana isu interfaith, gender, dan lingkungan menjadi titik temu perjuangan bersama.
Advokasi Keadilan Gender: Kolaborasi dengan Religious of the Good Shepherd (RGS)
Krisis, termasuk krisis lingkungan, tidak pernah berdampak setara. Perempuan, terutama di komunitas miskin dan termarjinalkan, sering kali menanggung beban terberat—mulai dari kesulitan akses air bersih hingga dampak kesehatan dari sampah yang tak terkelola. Ironisnya, merekalah yang sering kali menjadi penjaga kearifan lokal yang berkelanjutan. Sayangnya, narasi lingkungan kerap didominasi oleh suara maskulin.
Menyadari hal ini, SIM-C menjalin kolaborasi strategis dengan Biara Susteran Gembala Baik atau Religious of the Good Shepherd (RGS) di Bantul, sebuah tarekat yang dikenal atas dedikasinya dalam pemberdayaan perempuan dan anak. Kolaborasi ini memperkuat komitmen SIM-C terhadap isu gender dengan pendekatan spiritual, sosial, dan struktural. RGS membawa semangat belas kasih dan advokasi yang kuat bagi perempuan korban kekerasan, perdagangan manusia, dan anak-anak yang terpinggirkan. Melalui kerja sama ini, kesetaraan gender bukan lagi sekadar wacana, melainkan tindakan nyata yang memulihkan martabat dan membuka masa depan yang lebih adil.
Ibadah di Tepi Sungai: Merawat Bumi sebagai Panggilan Iman
SIM-C memandang krisis ekologi berakar pada krisis spiritual dan moral. Iman yang hidup harus diwujudkan dalam tindakan nyata merawat bumi sebagai rumah kita bersama. Salah satu aksi konkret mereka adalah gerakan “Bersih-Bersih Sungai Gajah Wong”, sebuah inisiatif kolaboratif lintas iman yang mengajak berbagai komunitas untuk memulihkan ekosistem sungai.
Sungai yang dulunya sakral dan menjadi sumber kehidupan, kini tercemar oleh sampah dan limbah. Melalui aksi ini, SIM-C tidak hanya mengajak masyarakat membersihkan fisik sungai, tetapi juga merenungkan kembali relasi spiritual antara manusia dan alam. Kegiatan ini ditutup dengan doa bersama lintas iman di tepi sungai, sebuah momen simbolis yang merepresentasikan pertobatan ekologis dan komitmen untuk keberlanjutan.
Bagi SIM-C, merawat sungai adalah bentuk ibadah dan wujud iman yang terlibat langsung dalam persoalan sosial. Harapannya jelas: agar kita semua semakin sadar bahwa merawat ciptaan bukanlah tugas individu, melainkan panggilan suci bersama yang melintasi batas-batas iman dan identitas.









