Beranda / Seni dan Sastra / Kirab Pengamen ~Puisi Ruhan Wahyudi~

Kirab Pengamen ~Puisi Ruhan Wahyudi~

[1]Kepada siapa anak belulang jalan menumpuk remuk peraduan? Perihal perut yang mengasuh cacing-cacing pita. Kepada neraca libra yang buta menimbang-nimbang kebaikan? Ah, tidak mungkin. Bahkan mereka seperti medusa. Ia Terikat tali rafia di pusar perut tak pernah surut dalam hidup yang tak redup.

Sudahkah surga berpindah rumah? Ketika peri gigi terlampau autis dan Dwi Kwan Im. Enggan memberkati memunguti nyeri yang bertanggal mengisi kalender Masehi. Anak-anak jalanan yang melekat di pinggiran jalan. Melengkapkan tangis serupa arus menuju raya.

Sementara bunga padma di dada, masih belum sempat memekarkan doa-doa lirih saujana, bahkan anak-anak itu seperti keroncong tak pernah pulang. Sebelum epigram semesta dinyanyikan, “manusia diciptakan untuk saling tolong menolong. Sesempit inikah alam mereka yang serakah. Apakah mereka memang seperti neraca libra? bangkai matahari terbelam di antara desahan air mata dalam dada.

[2] Amboy! Anak belulang menumpuk peraduan di atas bongkahan batu “Bapak, Ibu, tolong kami. Kami belum makan dari pagi” orang-orang lain menoleh ke kanan-kiri, sembari menyusuri pematang jalan pulang. Sementara matahari membuntutinya di belakang ibu bertulang belati “Nak, kita harus bersyukur meski keadaan tersungkur” ibu paruh baya, mengusap rembulan di dahinya. Di antara hakikat hidup tak pernah redup, tak perlu risau kita tidak makan hari ini, Nak, sebab takdir tidak akan melupakan orang yang hadir dalam zikir.

[3]Setelah cerita ibu paruh baya, di kamar kumuh, sekelompok anak-anak kecil memikul gentong, menari-nari di pinggul musim. Ia menyibak angin, terdengar pecah dari 4 penjuru, Seperti teriakan pengemis di jalanan terlantar, tangannya menadah secuil batu. Menata perut-perut kerontang terlempar di keping trotoar. Adakah orang-orang yang ingin memberi satu bungkus nasi?

Tangis mereka pecah, binar irisan air mata. Ia tak sanggup menata puing-puing kehidupan, entah bagaimana lagi mereka menuntaskan perjalanan masa depan? Bahkan mereka seperti batu terlempar. Orang miskin bergumam, meski hatinya sebatas embun rekah di waktu serakah. Apakah hidup ini bagian dari waktu yang tertunda? perihal takdir yang mengetuk pintu nasibnya.

[4]Hari yang asing, kalender berlumur darah. ketika tanah ini seperti mayat, sepi, berlumut dan bangkai waktu yang menyimpan keresahan orang-orang tamak. Tanpa memberi ruang bagi mereka yang ingin berjuang Bahkan dunia ini hanya sebatas dongeng yang berlarat di jalanan, orang-orang menenun jalan dengan kemewahan di tubuh aspal, daun-daun berceceran layu, keringat membakar tubuhnya. Ia hanya bisa mengusap dada “Seandainya mereka adalah kita dan kita adalah mereka, dunia ini tak akan berbeda kasta” pengemis jalanan hampir tertidur di sandaran pohon itu.

Yogyakarta, 2022

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *