
“Satu hajatan konser dengan 200 kepala telah menghasilkan emisi karbon setara setahun emisi satu orang. Bayangkan konser yang mengumpulkan ribuan orang.”
Geger.id – Jum’at sore lalu, 24 Oktober 2025, didorong rasa pedas yang intens di mata sebab kebiasaan memberikan perhatian yang berlebihan ke layar laptop dan draf skripsi (love u laptop dan skripsi), aku mendatangi satu acara menarik di GIK UGM. Acara tersebut bertajuk “Peluncuran e-zine dan Rembuk Bareng: Musik di Zona Merah”. Penyelenggaranya adalah kolaborasi antara inisiatif jurnalis lingkungan Iklimku.org, Yayasan Visual Bumi Lestari, grup musik Majelis Lidah Berduri (1), dan Masyarakat Indonesia Rendah Karbon (MIRK). Acara ini juga didukung oleh GIK Corner dan GIK UGM sebagai penyedia tempat. Acara ini adalah acara penutup dari rangkaian kegiatan dengan tajuk “Musik di Zona Merah” yang telah dimulai sejak 20 Oktober 2025. (2)

Aku datang dengan maksud mengosongkan beban kepala dari bayang-bayang referensi skripsi, sehingga kedatanganku tanpa ekspektasi apapun, kecuali meletakkan badan di tempat yang bisa mengusir bayangan referensi-referensi skripsi. Setiba disana jam 15.00, peserta masih diajak terlibat dalam pra-acara yang mereka beri judul “Penghormatan pada Kerja Perawatan”, berisi workshop menjahit manual dan demo pengolahan umbi-umbian; ide kegiatan yang seru dan bermakna. Acara “rembuk bareng” baru dimulai pada jam 16.00 kurang lebih. Diskusi sore itu diisi oleh tiga narasumber: Aisyah Hilal (Manajer Eksekutif Iklimku.org), Kurniawan Adi Saputro (MIRK), dan Primi Suharmadhi Putri (Dosen DPP FISIPOL UGM), dipandu oleh moderator Titah AW.
Berharap meringankan kepala, hasil dari usaha pengosongan kepalaku itu ternyata tidak persis menggembirakan. Aku malah pulang membawa beban pikir baru . MZM nyangoni aku dengan seabrek data menyeramkan tentang krisis iklim .
Salah satu panelis bahkan mengklarifikasi bahasa “krisis iklim” yang menurutnya tidak cukup menceritakan kondisi sebenarnya yang lebih kacau dan chaotic. Ia menggunakan istilah “kiamat iklim” (dijelaskan dengan intonasi yang intens dan penuh penekanan, kepalaku terasa sedikit tenggelam ketambahan berat disini hehe).
MZM ingin mengetengahkan fakta bahwa ternyata musik yang kita sukai tidak bersih dari dosa. Dosa yang dimaksud tentu mengenai permasalahan iklim . Dosa musik (atau lebih tepat orang-orang dalam ekosistem musik) adalah kebolehannya menjadikan orang-orang berkumpul untuk ngonser.
Salah satu panelis menjelaskan, konser dengan kerumunan 200 orang saja sudah mengakumulasi emisi karbon yang besar. Seingatku angkanya “1 koma sekian ton” .
Zine Musik di Zona Merah yang diluncurkan hari itu mengkonfirmasi angka tersebut. Salah satu tulisan di dalamnya, “Musik Ekstraktif” oleh Kurniawan Adi Saputro , merinci perhitungan emisi karbon dari acara peluncuran album Majelis Lidah Berduri (HOM) yang dihadiri sekitar 200 orang. (3)
Totalnya? 1,45 ton CO2ek. Angka ini didapat dari emisi transportasi pengunjung (nyaris 500 kg CO2ek) dan emisi pembangkit listrik (diesel) untuk panggung dan suara penopang konser selama 3 jam, yang menghabiskan 351 liter solar (951 kg CO2ek).
Panelis di MZM menyebutkan bahwa emisi sebesar itu setara dengan rata-rata emisi karbon yang dihasilkan oleh satu orang dewasa urban dalam satu tahun penuh. (4)
Satu hajatan konser dengan 200 kepala telah menghasilkan emisi karbon setara setahun emisi satu orang . Bayangkan konseran yang mengumpulkan 2 ribu sampai 10 ribu orang , atau festival yang berlangsung berhari-hari. Sungguh aktivitas menjamak emisi karbon yang luar biasa.
“Musik yang kita sukai ternyata tidak bersih dari dosa—dosa yang berhubungan dengan permasalahan iklim.”
Mengimajinasikan Krisis Iklim: Membuka Gudang Berusia Jutaan Tahun
Apabila narasi di atas kurang nendang kekhawatiranmu, kawan, mari kita ajukan pertanyaan bersama: apa sih emisi karbon itu? Mengapa dia harus membuat kita khawatir?
Mari kita berimajinasi, sebagaimana diajarkan di MZM (dan bantuan jawaban generatif Ai).
Bayangkan Bumi memiliki sebuah gudang bawah tanah yang sudah tertutup rapat selama jutaan tahun. Di dalamnya, tersimpan sisa-sisa makhluk hidup purba yang terkubur. Selama jutaan tahun, panas dan tekanan tinggi di dalam Bumi mengubah sisa-sisa organik ini menjadi senyawa hidrokarbon kaya energi: batu bara, minyak bumi, dan gas alam—inilah bahan bakar fosil . Karbon yang ada di sisa organisme ini menjadi stabil (tersimpan) dalam bentuk padat atau cair.
Manusia, dengan teknologi, menemukan cara membuka “gudang” ini . Kita mengebor, menambang, dan memompanya keluar. Aktivitas yang pertambangan itu bisa digambarkan sebagai mengeluarkan karbon yang sudah aman tersimpan di dalam bumi keluar ke permukaan.
Setelah dikeluarkan, kita membakarnya untuk energi. Pembakaran ini ibarat melepaskan “jiwa” dari fosil tersebut, yaitu karbon yang sudah lama tersimpan. Saat terbakar, karbon ini bereaksi dengan oksigen dan menghasilkan gas karbon dioksida (CO2) atau yang juga disebut dengan gas rumah kaca (GRK).
GRK yang naik ke langit ini tidak pergi begitu saja. Gas-gas ini berkumpul di lapisan terbawah atmosfer (troposfer) dan membentuk semacam “selimut”. Disebut sebagai selimut karena ia terperangkap di troposfer dan menyelimuti permukaan bumi sehingga menjadikannya hangat, atau panas :D.
Atmosfer kita bekerja seperti rumah kaca. Sinar matahari bisa menembus “selimut” GRK ini dan menghangatkan permukaan Bumi. Permukaan Bumi lalu memancarkan kembali panas ini dalam bentuk radiasi inframerah. Radiasi inframerah inilah yang tidak bisa menembus kembali “selimut” GRK, sehingga panasnya terperangkap.
Saat panas terperangkap, suhu di dalam “selimut” ini mulai naik . Penumpukan gas inilah yang menyebabkan pemanasan global yang memicu krisis iklim.
Mengapa ini dianggap krisis atau kiamat? Bayangkan saja kondisi pemanasan global ini seperti demam pada tubuh manusia. Ketika suhu tubuh naik sedikit (demam rendah), kita merasa tidak enak badan. Namun apabila suhu naik terlalu tinggi, sistem dalam tubuh kita mulai gagal berfungsi. Demam tinggi setidaknya menjadikan kita mengigau atau bahkan koma.
Bumi pun demikian. Peningkatan suhu rata-rata global 1,2°C saja sudah cukup mengganggu keseimbangan sistem iklim yang rapuh . Panas yang terperangkap menyebabkan es di kutub mencair sehingga menaikkan permukaan air laut. Itulah yang terjadi pada kota-kota pesisir. Di Indonesia, kita bisa melihatnya di Demak, Pekalongan, dan Semarang, di mana perkampungan telah tergenang . Ruang hidup warga—rumah, sekolah, bahkan makam leluhur—ikut tergenang .
Akar masalahnya? Ya emisi karbon tadi. Namun secara sistemik biang kerok utama emisi karbon adalah sistem ekonomi kita. Kapitalisme mendorong motif keuntungan tanpa henti, ibarat mesin raksasa yang membutuhkan bahan bakar fosil terus menerus. Sistem ini menciptakan budaya konsumerisme supaya produksi dan akumulasi keuntungan bisa terus berjalan. Lewat konsumerisme, kita dikelabui dan dipaksa untuk jadi konsumtif alias “semua-mua beli” dan dibuat menjadi lupa bahkan tidak tahu-menahu soal lingkungan.
Bukan hanya itu, konsumerisme bahkan menciptakan kompetisi di antara produsen; ada produsen sukses dan tidak sukses dalam sistem ini, ada barang yang laku dan tidak laku yang artinya setelah melewati ongkos merusak lingkungan, ternyata tidak bermanfaat pula. Produsen-produsen yang sibuk berkompetisi itu tentu juga dibuat menjadi tidak peduli dengan nasib bumi. Fokus utamanya adalah akumulasi keuntungan sebesar-besarnya dengan modal semurah-murahnya, yang rentan menjadikan mereka memiliki rencana produksi yang paling mencemari alam. Semisal bahan bakunya dari aktivitas hulu yang serba kimia (pupuk kimia, pestisida dan seterusnya), tidak ada mekanisme pengolahan limbah hasil produksi: limbah buang saja ke sungai atau tanah. Dalam persaingan di bawah kapitalisme, kerusakan lingkungan dianggap sebagai efek samping yang yaudah alias bisa ditinggalkan demi profit.
Lebih sial lagi dampak krisis iklim dari sistem kapitalisme ini tidak merata. Mereka yang paling tidak berkontribusi terhadap emisi—komunitas miskin dan terpinggirkan—sering kali yang paling merasakan dampaknya. Sementara itu, perusahaan-perusahaan besar dan orang-orang kaya yang paling banyak menghasilkan emisi bisa berlindung dari konsekuensinya. Kampung orang-orang kelas menengah ke bawah lah yang tenggelam di Demak dan Semarang, bukan pabrik Sinarmas, Freeport ataupun Amazon.
Di bawah sistem kapitalisme, konsumsi menjelma ritual ibadah yang sakral dan dijaga oleh banyak pihak. Produksi kapitalistik berlaku sebagai pra-ritualnya. Katakanlah konsumsi itu sholat dan wudhu adalah produksinya. Semua muslim se-Indonesia bisa ngotot mati-matian kalau soal membela dan menjaga marwah ritual sholat yakan?!. Hanya bayangkan wudhunya tadi boros air banget, sehingga menyebabkan krisis air global. Percaya lah penggambaran seperti itu tidaklah lebay.
“Kapitalisme mendorong motif keuntungan tanpa henti, ibarat mesin raksasa yang membutuhkan bahan bakar fosil terus menerus.”
Refleksi: Eskapisme yang (Juga) Merusak
Imajinasinya kita cukupkan. Mari kembali ke topik pertama. MZM kemarin bagiku benar-benar seperti tendangan ke area vital. Ia menyerang titik berbahaya yang selama ini aku pede dengan keamanannya, dan mengajarkan rasa sakit yang membawa trauma beban pikir baru yang mengkhawatirkan. Selama ini musik bagiku adalah ruang aman dan nyaman. Kini aku jadi tau bahwa musik dan datang ke konser ternyata ikut merusak alam.
Masalahnya lebih runyam ketika aku memikirkannya sekembali dari acara. (5) Bagiku musik adalah banyak hal. Salah satunya adalah eskapisme atau sarana lari dari kenyataan. Diri dan jiwa yang kekuatannya naik turun ini sesekali memerlukan pelarian bahkan dari hal-hal yang adalah tanggung jawab dasar sekali pun. Aku maklum betul bahwa diriku tidak berbeda dengan kebanyakan generasi Z lain menjalani hari-hari dengan setelan pabrik khas generasi ini: kerjakan dengan semangat, meski sambil sambat-sambat .
Aku rasa, kita sebagai satu generasi atau angkatan yang sama berbagi satu pengalaman yang mirip. Kita kaget dengan pendewasaan dan fakta-fakta tentang “dunia orang dewasa”: penyakit struktural yang menjangkiti sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan; menjangkiti semuanya. Dunia menjadi terasa sesak dan kurang nyaman. Musik dan konser adalah pelarian berjamaah dari realita itu.
Di atas pikiran itu aku merenung dengan khawatir yang intens, bahwa ternyata aktivitas lari dari kenyataan ini ternyata menyebabkan bahaya yang tidak kalah besar dari kenyataan itu sendiri. Lantas kemudian bagaimana caraku–dan orang-orang di sekelilingku– harus peduli dan merespon bencana yang seperti hantu ini? Ia mengikuti kita bahkan ketika kita lari darinya. Pie cara ngeruqyah e?
Pertanyaan itu adalah pertanyaan retoris yang aku maksudkan untuk meruncingkan arah tulisan. Bukan tempat dan maksud tulisan ini untuk mendiskusikan jawaban untuk pertanyaan itu. Namun demi melaksanakan spirit satu kaidah ushul fiqh yang aku suka: “adami jawazi takhiril bayan ‘an waqtil hajat” artinya tidak dibolehkan menunda penjelasan hingga melewati waktu ketika penjelasan itu dibutuhkan. Jadi aku akan memanfaatkan tulisan ini sebagai percobaan merumuskan sedikit dari jawaban itu.
Masalah krisis iklim tidak dapat disangkal adalah masalah mendasar bagi kita semua. Namun kendati demikian, masalah ini terasa seperti masalah elit yang eksklusif. Masyarakat kelas bawah yang menjadi pihak kalah-kalahan dalam sistem ekonomi ini tidak bisa relate dan mengambil masalah ini sebagai perhatian utama. Sebab kapitalisme telah menceraikan kita dari alam. Di bawah kapitalisme keberlanjutan hidup kita bergantung kepada gaji, bukan alam. Respon antipati terhadap nasib bumi dan alam adalah konsekuensi dari berlaku dan langgengnya sistem ini.
Disebabkan keterceraian itu kemampuan kita sebagai komunitas masyarakat untuk merespon permasalahan seperti ini telah lumpuh. Bagaimana caranya mengajak orang-orang yang pusing memikirkan cara mengelola gaji bulanan yang minim untuk ambil pusing dengan krisis iklim. Berbeda dengan zaman kakek kita dulu, sekarang iklim sudah tidak secara langsung berhubungan dengan urusan dapur dan kehidupan sehari-hari. Dan kemampuan fokus politik kolektif kita tidak cukup kuat untuk memperdulikan sesuatu yang tidak berhubungan langsung dengan dapur.
Maka rumusan awal jawaban atas persoalan krisis iklim ini– sependek pengetahuanku– adalah memperbaiki kapabilitas kita sebagai masyarakat terlebih dahulu, memperbaiki demokrasi. Salah satu langkah menuju kesana adalah dengan membagikan wawasan dan kesadaran kepada orang-orang di sekeliling kita tentang betapa banyaknya bahaya yang tidak bisa kita atasi kecuali dengan kekuatan komunal yang sehat; bahwa di atas pengrusakan terhadap ekonomi masyarakat dan demokrasi, oligarki sialan itu merusak alam tempat kita dan cucu mama-papa kita nanti hidup.
Dan disinilah Zine Musik di Zona Merah menjadi bacaan yang penting. Di dalam zine itu tidak hanya ada tulisan yang mewartakan “kiamat”, ada juga tulisan yang memberikan tawaran dan wawasan baru yang menarik dan penting. Salah satunya tulisan Kurniawan Adi Saputro yang menawarkan konsep “Musik Regeneratif”. Ini adalah tatanan baru bermusik yang “mengambil dari lingkungan, tetapi memberi kesempatan, mengembalikan, dan merawat lingkungannya untuk memulihkan diri, bahkan berkembang”.
“Salah satu langkah menuju perubahan adalah membagikan kesadaran kepada orang-orang di sekitar kita tentang bahaya yang tak bisa diatasi kecuali dengan kekuatan komunal yang sehat.”

Konsep itu menurutnya menuntut perubahan tiga unsur:
- Orang: Semua pihak (musisi, promotor, penonton) harus mau berubah. Sikap terhadap pertunjukan musik mungkin perlu diubah, “lebih tepat disikapi seperti ritual: jarang, tetapi menjernihkan hati, bukan kompulsi atau konsumsi yang obsesif”.
- Materi: Penggunaan materi dalam pertunjukan perlu direncanakan, diawasi, dan dinilai. Berapa banyak air bersih, bahan bakar fosil, merchandise, spanduk, dan gelang penonton yang dipakai? Mana yang mutlak, mana yang untuk keuntungan belaka?
- Praktik: Praktik bermusik harus dikembalikan menjadi bagian dari hal yang lebih besar: “merawat yang hidup dan yang memungkinkan kehidupan”.
Sementara itu, Ugoran Prasad (dari Majelis Lidah Berduri) dalam tulisannya “Jalan Tikus Keluar dari Musik di Zona Merah” , menawarkan langkah komunal yang lebih konkret. Ia menyebut bahwa krisis ekologi masih belum menjadi agenda utama. Untuk mendorong perubahan struktural, menurut studi statistik, kita “hanya butuh 3,5 persen suara populasi”. Di Indonesia, ini kurang dari 10 juta orang. Ugoran mengusulkan mantra: #kejartigasetengah.
Mungkin itu jawaban dari “pie cara ngeruqyah e?”. Dimulai dari kesadaran personal yang (seharusnya) tidak nyaman setelah tahu data 1,45 ton CO2ek itu, lalu bergerak bersama mencari 3,5 persen itu.
Catatan Kaki
(1) Majelis Lidah Berduri atau Melbi adalah grup musik indie lokal dari Yogyakarta yang sudah berusia 25 tahun, kendati mereka sendiri bilang rentang itu isinya hidup-mati. September tahun lalu mereka merilis Album terakhir mereka “Hujan Orang Mati” yang banyak dibicarakan di acara MZM. Sampul album atau artwork HOM dipajang di MZM. Satu karya foto berjudul “Ziarah Makam Terendam Banjir Rob” oleh Aji Styawan, yang menangkap suasana satu kelompok orang yang sedang nyadran di makam leluhurnya yang tergenang air laut di dusun Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Sejak 24 September lalu Melbi cabut alias menarik karyanya dari Spotify sebagai bentuk solidaritas bersama Palestina. Kalian bisa mendengar HOM dan karya Melbi yang lain di Youtube atau Bandcamp.
(2) Akun Instagram @iklimkuorg
(3) Aisyah Hilal dkk., Musik di Zona Merah, Oktober 2025 (hal 16): “Akhirnya transportasi pengunjung dan pembangkit energi untuk pertunjukan musik tiga jam oleh beberapa belas musisi dan kru dengan penonton sebanyak 200 orang menghasilkan emisi karbon sebanyak 1,45 ton CO2ek.”
(4) Ternyata pencarian informasi di web menunjukkan rata-rata jejak emisi karbon orang Indonesia adalah 2,18 ton CO2ek. Mungkin panelis berkata seperti di atas sebagai retorika persuasif untuk menekankan kritisnya isu atau mempunyai perhitungannya sendiri. Lihat: mycarbonfootprint.id, “Rata-Rata Emisi Global dan Indonesia,” diakses 28 Oktober 2025, https://mycarbonfootprint.id/references/340/rata-rata-emisi-global-dan-indonesia.
(5) Kalau anda belum familiar dengan musik sebagai eskapisme, artikel berikut menarik menjadi bacaan awal: Angelica, “Musical Escapism: The “Cheap” Stress Relief You Need!,” https://www.google.com/url?sa=E&source=gmail&q=ubcenglish.com, 11 Oktober 2023, diakses 28 Oktober 2025, https://www.ubcenglish.com/musical-escapism-the-cheap-stress-relief-you-need/.









