Beranda / Esai / Opini / Menebar Kasih Bersama dengan Berdialog dan Berjumpa dalam Aksi

Menebar Kasih Bersama dengan Berdialog dan Berjumpa dalam Aksi

Sebagai negara yang amat multikultural di segala sisi kehidupan masyarakatnya, khususnya pluralitas agama yang ada di Indonesia yang memang sudah menjadi realitas yang nyata di negara ini. Namun, dengan warna-warni perbedaan itu setidaknya ada lebih banyak perseteruan daripada hal-hal positif yang diakibatkan oleh perbedaan itu khususnya dalam aspek agama.

Diskursus ini kemudian menjadi pembahasan yang agaknya kurang diperhatikan, terlebih merujuk kepada diksi ‘toleransi’ yang terkadang masih dipahami secara mentah. Toleransi adalah perbedaan, dan diantara yang berbeda itu berjalan sendiri-sendiri sesuai dengan kepercayaanya masing-masing.

Padahal lebih daripada itu, jika toleransi bisa dimaknai sebagai hubungan sesama umat manusia, akan lebih jauh mendalam, dan akan lebih banyak hal yang bisa dilakukan bersama-sama untuk menuju kehidupan yang lebih sejahtera. Bukan menjalin hubungan pasif, tetapi membangun hubungan-hubungan yang aktif. Paper ini berisikan refleksi pribadi saya mengenai hubungan dan dialog antar agama yang ada di sekitar saya.

Sebelum mengambil studi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, saya merupakan orang yang cukup eksklusif yang memandang bahwa ketika berhubungan dengan orang yang berbeda (baik dari suku, ras, agama) adalah hal yang tak biasa dan dapat menimbulkan hal negatif bagi diri saya. Karena memang lingkungan pribadi yang mendukung, sehingga sikap-sikap eksklusif tersebut mengakar hingga pada fase kebencian terhadap orang lain yang berbeda.

Kemudian setelah belajar kembali, saya baru mengetahui jika ternyata lingkungan daerah saya merupakan lingkungan yang multikultural. Kesadaran itu muncul ketika melihat bahwa banyak sekali persekusi yang dialami oleh umat agama yang notabene ‘minoritas’ yang dilakukan oleh orang-orang ‘mayoritas’. Realitanya, sebenarnya mereka menjalin hubungan yang terlihat harmonis dari luar, namun terjadi saling sikut didalamnya. Banyak penolakan secara persuasif yang terjadi dialami oleh para penganut agama minoritas.

Kenyataan tersebut menggambarkan bahwa ‘toleransi’ dalam usahanya menjadi jembatan untuk umat beragama saling berhubungan masih kurang dipahami secara lebih utuh. Toleransi didefinisikan sebagai jalan damai, namun berujung tak saling menyapa, kepedulian palsu, dan ketidakterbukaan satu sama lain.

Adanya rasa ketakutan berlebihan akan menjalin relasi antar agama, merupakan salah satu penyebab tidak ikhlasnya hubungan yang terjadi. Doktrin-doktrin agama yang cenderung eksklusif juga yang dapat membangun sekat tembok yang besar dan kokoh antar umat beragama. Terlebih kurangnya uluran tangan dari negara dalam menyatukan perbedaan, membuat pemaknaan dan implementasi dari toleransi dan moderasi beragama menjadi tidak sesuai dengan tujuan.

Perjumpaan dan dialog selayaknya dilakukan dan diselaraskan dari mulai golongan masyarakat sipil bahkan sampai institusi negara dan kepemerintahan. Adanya komunitas-komunitas dan perkumpulan yang fokus akan kajian-kajian dan dialog antar agama merupakan salah satu usaha dalam membangun hubungan antar agama yang dimulai dari lingkaran paling kecil. Salah satu contohnya adalah Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) atau Forum Pemuda Komunikasi Umat Beragama (FPKUB). Lingkaran-lingkaran seperti ini memungkinkan masyarakat untuk membangun dan merawat secara utuh kedamaian serta persaudaraan antar umat beragama.

Salah satu hubungan antar agama adalah dengan berdialog antar umat beragama. Dialog atau bisa disederhanakan sebagai relasi yang kuat antar umat beragama, dengan mempunyai tujuan yang sama dan menccoba bersama-sama menggapainya. Berdialog dengan umat beragama lain, bagi saya pribadi merupakan suatu jalan spiritual. Karena dengan memahami dan mengetahui keyakinan saudara sesama manusia, bukan untuk mengkonversi agama tetapi untuk menguatkan keimanan secara pribadi. Berdialog juga melepas tali-tali yang mengikat kedua belah pihak untuk kembali terbuka.

Prinsip Berdialog

Ada beberapa prinsip dalam berdialog, yaitu:

1) Dialog antaragama harus merupakan suatu proyek dua pihak; internal masyarakat satu agama atau antar-msyarakat penganut agama yang berbeda;

2) Setiap peserta dialog harus mengikuti dialog dengan kejujuran, ketulusan yang sungguh-sungguh, dan sebaliknya dia juga harus yakin dan percaya bahwa mitra dialognya mempunyai ketulusan dan kesungguhan yang seperti dirinya;

3) Setiap peserta dialog harus mendefinisikan dirinya sendiri. Misalnya hanya orang Kristen lah umpamanya, yang dapat tepat menjelaskan apa artinya menjadi seorang Kristen. Orang lain hanya dapat mendeskripsikan apa yang dapat dilihatnya dari luar;

4) Peserta dialog harus mempunyai tujuan untuk mempelajari perubahan, perkembangan persepsi dan pengertian tentang realitas, kemudian berbuat menurut apa yang sesungguhnya diyakini;

5) Setiap peserta dialog harus mengikuti dialog tanpa asumsi-asumsi yang kukuh dan tergesa-gesa mengenai problem yang tidak bisa disetujui;

6) Dialog hanya bisa dilakukan di antara pihak-pihak yang setara. Umpamanya, kalau Hindu dianggap atau di nilai inferior oleh Kristen, maka dialog di antara kedua belah pihak akan tidak terlaksana;

7) Dialog harus dilaksanakan atas dasar saling percaya;

8) Peserta dialog antaragama, minimal harus bersifat kritis, taat beragama dan bisa berbuat baik terhadap umat agama lain;

9) Setiap peserta, akhirnya harus mencoba mengalami agama mitra dialog dari dalam. Artinya melihat setiap agama bukan hanya sebatas apa yang ada dalam logika mereka. Namun lebih dari itu, harus mampu bisa merasakan dalam lubuk hati yang mendalam, baik secara bersama-sama atau perorangan;

10) Dalam dialog antaragama, tidak boleh membandingkan idealismenya dengan praktek patner dialognya. Yang perlu dilakukan adalah membandingkan yang se-ideal atau praktek dengan praktek lainnya.

Komunitas Sego Mubeng

Beberapa komunitas yang saya jumpai salah satunya yaitu Komunitas Sego Mubeng. Komunitas Sego Mubeng merupakan komunitas lintas iman yang bergerak di bidang sosial kemanusiaan. Seperti namanya, kegiatan dalam komunitas ini adalah berbagi rejeki yang berbentuk nasi bungkus kepada orang-orang di jalan. Kegiatan ini telah dimulai sejak tahun 2017, yang diinisiasi oleh Romo Macarius Maharsono Probho SJ, bertempat di Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru. Kegiatan berbagi ini biasa dilakukan pada hari Sabtu pagi (pukul 05.00 WIB) dan juga Senin malam (pukul 19.30 WIB).

Nasi-nasi yang dibagikan merupakan donasi dari masyarakat umum dan juga anggota komunitas itu sendiri. Nasi yang dibagikan berkisar sejumlah 500 bungkus itu akan diberikan masyarakat yang telah ditentukan kriterianya oleh para anggota seperti, pemulung, tuna wisma, tukang becak, tukang ojek, tukang sapu, dan orang-orang yang membutuhkan yang ditemui dijalan. Rutenya pun bervariasi, dengan membagi para anggota kedalam beberapa kelompok dan menentukan rute-rute tertentu mengelilingi kota jogja.

Kegiatan ini diikuti oleh masyarakat lintas agama dan lintas generasi, dari mulai pelajar SMA, Mahasiswa, Orang Muda Katolik, warga setempat, dan siapa saja yang berminat mengikuti. Bukan hanya berbagi nasi, para relawan juga terkadang membawa baju-baju tak terpakai yang ingin disedekahkan dan barang-barang yang lain. Selain berbagi, para relawan juga berkomunikasi dengan orang-orang di pinggir jalan, mendengarkan keluh kesah kehidupan mereka, bertukar cerita, dan melakukan hal lainnya.

Setelah membagikan nasi dengan rute yang ditentukan, para anggota komunitas lalu kembali ke untuk melakukan sesi berikutnya, yaitu refleksi dan sharing. Para anggota membagikan pengalamannya dengan orang-orang yang ditemuinya, lalu menyampaikan refleksinya.

Macam-macam Dialog Antar Agama

Seperti yang dikemukakan oleh Prof. A. Mukti Ali, ada beberapa macam bentuk hubungan dan dialog antar agama, diantaranya;

a) Dialog Kehidupan

Dialog kehidupan yaitu suatu dialog dari pemeluk berbagai agama berusaha hidup secara terbuka dan bertetangga dengan baik, merasakan kegembiraan maupun kesesuhan serta berusaha menyelesaikan berbagai masalah kehidupan yang dihadapi secara bersama-sama.

b) Dialog Perbuatan

Dialog pebuatan yaitu dialog yang dilaksanakan oleh pemeluk agama yang bermacam-macam dalam bentuk kerjasama untuk pembangunan dan membebaskan rakyat dari penderitaan. Dialog yang ada di Indonesia termasuk dialog perbuatan karena semua umat beragama tanpa membedakan jenis agamanya, berusaha membangun negara dan menghadapi berbagai ancaman secara bersama-sama.

c) Dialog Teologis

Dialog teologis adalah dialog para ahli agama yang berusaha memahami ajaran agamanya sendiri dan berusaha menghargai nilai-nilai spiritual agama lain. Dialog ini bertujuan hanya untuk saling tukar pengertian dan makna tentang agama.

d) Dialog Pengalaman Agama

Dialog pengalaman agama adalah dialog yang diselenggarakan ketika seseorang yang sudah terikat dengan keimanan dan tradisi agama ikut mengambil bagian dari kekayaan rohani agama lain. Misalnya tentang salat dan perenungan, kepercayaan dan cara-cara lain untuk sampai kepada Tuhan Yang Mutlak.

e) Dialog Antar Monastik

Dialog antar monastik adalah dialog yang dilakukan dengan cara saling tukar menukar pengalaman hidup antar orang suci (pastor, pendeta, bikhu) dengan bertempat tinggal dalam beberapa waktu tertentu di pura, pesantren, kuil, seminari dan sebagainya. Dengan demikian, seseorang tidak saja paham terhadap ajaran agama lain tetapi juga ikut menyaksikan kehidupan umat beragama lain.

Perbedaan Bukan Bumbu Perpecahan

Dengan berdialog dan senantiasa menjalin hubungan yang baik satu sama lain, masing-masing umat beragama dapat memiliki keterbukaan pemikiran, memperluas wawasan, hinga mengatasi banyak prasangka-prasangka yang tak pernah diklarifikasi. Klarifikasi prasangka menurut saya menjadi gerbang dari keterbukaan dan rasa saling perccaya satu sama lain. Setelah itu, para umat beragama dapat mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan yang dapat dilakukan secara bersama-sama.

Dalam hubungan antar agama, kita dapat melakukan hal-hal lain yang dapat membawa kebaikan bagi diri kita dan orang lain, tanpa memperdebatkan perbedaan yang ada dan bersama-sama menuju kearah tujuan yang sama.

Lebih lanjut, hemat saya penerimaan dan keterbukaan akan perbedaan bukan hanya dilakukan dalam siklus hubungan antar agama saja. Namun selayaknya merambah kepada seluruh aspek yang ada pada kehidupan masyarakat Indonesia yang sangat pluralitas ini. Baik itu kelompok-kelompok yang berbeda satu sama lain, golongan-golongan, komunitas-komunitas, organisasi-organisasi, dan lain-lain.

Sekalipun berbeda dalam hal ideologi, tata cara, dan apapun itu, setidaknya tak perlu menampakkan ketidakterimaan satu kelompok atas kelompok yang lain. Mungkin saja ada beberapa tujuan yang bisa dikerjakan secara bersama-sama, tanpa memandang hal-hal yang nepotis. Dengan begitu, diharapkan perbedaan memang bukan lagi dijadikan bahan untuk saling menyalahkan, menghina, dan mendiskreditkan satu dengan yang lainnya.

Perbedaan yang sesungguhnya merupakan anugerah dari Tuhan yang patut untuk disyukuri. Sebab, dialog dan perjumpaan memang terlalu sering tersendak dan berhenti atas dasar ketidakmampuan seseorang mengendalikan dan memahami dirinya sendiri. Memahami relasi yang harus secara erat dijaga oleh manusia, sebagai hamba, dan sebagai makhluk. Sebagaimana ayat dalam Al-Quran yang sering dikutip oleh seorang sufi besar Ibn al-‘Arabi; surat 11:118-119: “Jika saja Tuhan menginginkannya, Ia akan menjadikan semua manusia menjadi satu umat, namun mereka akan tetap berbeda, kecuali mereka yang dikasihi oleh-Nya.”

Dari Komunitas Sego Mubeng dapat dilihat bahwa ketika perbedaan direspon dengan cara yang baik dan mempunyai tujuan yang sama, akan menjadikan pelajaran kehidupan tersendiri bagi masing-masing orang. Menjalin relasi antar umat beragama dengan sederhana, saling menerima, percaya dan terbuka. Sega Mubeng juga memperlihatkan bahwa perbedaan bukan sebuah alasan untuk melakukan kebaikan secara bersama, membumikan hal-hal kemanusiaan yang lebih penting daripada memperdebatkan perbedaan. Bukan tentang perbedaan, tapi tujuan bersama akan kehidupan yang lebih baik kedepannya. (Ahmad Nanang Nurfadilah) 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *