Beranda / Esai / Opini / Menelisik Perjalanan Tasawuf di Nusantara

Menelisik Perjalanan Tasawuf di Nusantara

Menulis perjalanan tasawuf di Nusantara, menjadi mudah jika memulainya dengan latar geografis yang ada. Nusantara, dalam kitab-kitab di era Jawa-Hindu, seperti Kitab Negarakertagama, digambarkan sebagai daerah yang kini disebut Asia Tenggara. Bentang alam berupa tanah yang subur, sumber daya alam yang melimpah, yang kesemuanya itu turut menjadi berkah bagi para penghuninya. Tidak hanya di Asia Tenggara, bentang alam yang serupa turut dimiliki oleh daerah-daerah di Asia Timur, Indocina, dan Asia Selatan. Dengan geografis yang subur dan daerah maritim, memiliki pengaruh besar dalam cara pandang mengenai agama. Oleh sebab itu, rata-rata agama yang dianut memiliki jumlah pengikut yang besar, ketersebaran yang luas, serta memiliki ajaran yang tinggi terhadap pengagungan alam semesta sebagai Yang Sakral.

Dalam khazanah Hindu, Budha, Tao, Konfucius, Shinto, sampai kepercayaan yang bersifat lokal di Asia, memiliki benang merah bahwa kesuburan yang melimpah ruah dianggap sebagai pemberian dan berkah dari Tuhan. Manusia jika berbuat kerusakan, maka akan mendapat hukuman dari Tuhan berupa karma, dosa, atau dimasukkan ke neraka. Kerusakan tidak hanya merusak alam saja, tetapi, membunuh sesama manusia sama demikian kejinya. Alhasil, rata-rata orang yang tinggal di wilayah itu, cenderung anti peperangan. Dengan kesuburan tanah yang ada, mereka sudah bisa hidup tenteram dan rukun. Psikologisnya tenang, dalam artian, kebutuhan biologis yang sudah tercukupi membuat mereka teralihkan menuju kebutuhan lain yang sama pentingnya, yakni perihal kejiwaan, spiritualisme, atau tentang makna hakiki dari kehidupan. Ketenangan hidup, dalam agama-agama dan kepercayaan di Asia, dapat dicapai dengan hidup selaras dengan alam yang lalu mengantarkan kepada penemuan akan Yang Sakral. Oleh sebab itu, hampir semua agama dan kepercayaan di Asia Timur, Asia Tenggara, Indocina, dan Asia Selatan, pemujaannya (salah satu bagian penting dari ibadah) menggunakan sesaji atau lewat sebuah media, bersifat sakral. Ini kemudian berpengaruh terhadap sistematika kebudayaan yang ada, yang seluruhnya punya nilai simbolik akan keilahian.

Lanskap berupa kosmologi dan kebudayaan mewujud simbolik ketuhanan seperti di atas yang menjadi duduk perkara perkembangan tasawuf di Nusantara. Jika dibayangkan, maka seperti ini kiasannya: seseorang akan mudah untuk membuat roti jika tepung, telur, margarin, gulai, selai, dan semua bahannya telah tersedia. Dengan hanya membaca resep yang sudah ada, maka roti pun cepat terbuat dan tidak ada kesusahan sama sekali. Sebaliknya, jika hanya ada resep saja tanpa ada bahan, maka roti tidak akan jadi. Orang yang mau membuat roti harus terlebih dulu mencari bahan-bahannya. Maksudnya, orang-orang di Nusantara sudah memiliki seperangkat budaya dan pola pikir yang hebat, dengan masuknya tasawuf, maka peradaban yang dibentuk pun cepat, bernilai filosofis keilahian, serta memiliki spirit sakralitas. Berbeda hal jika yang diajarkan tasawuf adalah masyarakat yang masih nomaden, tribal, kerap berperang demi memenuhi kebutuhan biologis, proses-proses penyerapan dan internalisasinya cenderung lama dan sulit.

Sebelum Islam datang ke Nusantara menggunakan spirit tasawuf, para penduduknya sudah kental budaya keilahian dalam term-term Hindu, Budha, dan kepercayaan lokal. Mereka sudah paham jika ada realitas Yang Sakral, ada dewa-dewi, ada roh halus, ada kepercayaan hidup setelah mati, ada jin-setan, termasuk makhluk hidup lain yang bernilai Ilahi sehingga perlu di hormati. Para sufi pun hanya tinggal melakukan redefinisi ulang mengenai budaya mereka, melakukan internalisasi, beberapa atau bahkan sedikit hal yang bertentangan dengan Islam dihilangkan, yang pada akhirnya terbentuklah budaya-budaya orang Nusantara yang mengandung ciri khas keislaman-kesufian.

Sufi, Tarekat, dan Islamisasi Nusantara

Tarekat menjadi dwi tunggal dengan tasawuf. Mudahnya, tasawuf adalah ajaran suci esoteris Islam, sementara tarekat adalah salah satu jalan yang ditapaki menuju ajaran adiluhung tersebut. Melihat geliat tarekat di Nusantara, tidak akan bisa lepas dengan politik global kala itu. Maksudnya, masuknya para sufi ke Nusantara merupakan imbas dari politik yang ada. Dalam buku karangan M. Saleh Putuhena yang berjudul “Historiografi Haji Indonesia,” setidaknya ada tiga hal penting yang mendorong terjadinya hubungan kuat antara Islam dengan daerah Asia Tenggara. Pertama, adanya Perang Salib membuat kontrak budaya antara Eropa dengan Timur Tengah. Banyak dari tentara Salib yang malah tergiur memakai produk dari Timur Tengah yang notabenenya barang tersebut diimpor dari Asia Tenggara. Artinya, karena pangsa pasar semakin luas, mendorong para pedagang Arab untuk banyak menjelajah ke Asia Tenggara membentuk koloni-koloni dagang.

Kedua, di abad 14, Anatolia Barat tumbuh menjadi kawasan dagang internasional yang ramai dibawah naungan Turki Usmani. Sehingga kebutuhan barang pun menjadi banyak. Para pedagang di Anatolia Barat (Muslim) terus melakukan kontak hubungan dengan pedagang Asia Tenggara yang di dominasi oleh penduduk Sumatera, Jawa, Maluku, dan sebagian kecil daerah timur Nusantara. Ketiga, pada saat Dinasti Ming berkuasa di Cina (1368), dibuatlah kebijakan yang menutup pelabuhan Cina bagi para pedagang Asing. Oleh sebab itu, para pedagang Arab yang dulunya memiliki hubungan dengan Cina, lalu beralih ke Asia Tenggara. Bahkan, jauh-jauh sebelum itu, catatan dari Cina menyebutkan jika beberapa Muslim dari Arab dijadikan duta oleh Kerajaan Sriwijaya untuk melakukan diplomasi dengan pemerintahan Cina. Hal ini dipilih karena pedagang Arab sudah punya hubungan dekat dengan Cina dan mereka paham caranya berdiplomasi.

Dengan melihat konteks perdagangan yang ramai di abad 13-15 di Asia Tenggara, tidak menutup kemungkinan bahwa pemahaman mengenai sufi dan tarekat berasal dari beragam jenis. Jika yang berdagang adalah pedagang dari Maroko, akan beda dengan para pedagang Muslim dari Turki, Irak, Gujarat, Mesir, dll. Oleh sebab itu, tarekat yang masuk ke Nusantara tentunya beragam jenis. Sebut saja di Jawa, sekumpulan wali yang kerap di sebut Walisongo, memiliki peran penting dalam Islamisasi Jawa. Mereka pun berasal dari daerah dan latar belakang yang berbeda. Misalnya dalam melihat Sunan Kalijaga, karakter sufinya cenderung bermotif Ibnu Arabi sebab menjadi murid dari Syekh Siti Jenar. Atau Sunan Kudus, yang cenderung ke sufi Ghazalian dengan ciri khas yang seimbang antara syariah dan tarekat.

Menengok ulang sejarah wali yang membawa tarekat itu ke Nusantara, banyak dari mereka yang turut serta dalam perdagangan. Sebab, meledaknya Islam di Jawa dan daerah sekitarnya pada abad 14-16, berbarengan dengan babak awal dari kolonialisme. Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati, dan para wali lainnya terlibat dalam mengatur perdagangan. Termasuk menghalau adanya para penjajah dengan melakukan perang dagang dan perang fisik kepada mereka. Masyhur dikisahkan, semenjak Sunan Gunung Jati berhasil mendirikan Kerajaan Banten, maka Portugis bisa terusir dari daerah tersebut. Sama halnya di daerah lain seperti di pelabuhan sepanjang pantai utara Jawa, hingga daerah timur seperti Gowa, Tallo, Bone. Tidak hanya berdagang, para wali mengajarkan masyarakat untuk mengfungsikan SDA dengan baik. Seperti kisah Sunan Kudus (1400-1550M) yang memerintahkan muridnya, Ki Ageng Makukuhan (abad 15), untuk berdakwah di Temanggung dan sekitarnya dengan cara mengajari mereka untuk menanam tembakau. Sementara produk dari tembakau, dikirim ke Kudus dan dipasarkan oleh Sunan Kudus.

Selain di Sumatera, kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara berdiri dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, dalam rentang abad 14-16. Proses islamisasinya pun hampir sama, yakni mendasarkan pada peran wali. Oleh sebab itu, di kerajaan Islam mana pun di Nusantara, dipastikan ada makam-makam keramat para wali. Pun dengan bentuk-bentuk keberislamannya, memiliki mazhab dan corak budaya yang sama. Misalnya, merti bumi tidak hanya ada di Jawa, di Sumatera, Lombok, NTT, Maluku, Makassar, Kalimantan, tetap ada walau memiliki nama yang beda.

Berdirinya kerajaan Islam di Nusantara yang secara serentak itu, seakan-akan memiliki benang merah bahwa hal tersebut didirikan untuk menentang adanya kolonialisme. Mereka disatukan oleh agama untuk menentang adanya penjajah. Bahkan hingga era VOC dan Belanda, agama Islam yang di dalamnya digerakkan oleh para sufi dan murid-muridnya, banyak melakukan pemberontakan yang membuat kolonial kewalahan. Hingga Indonesia merdeka pun, ulama atau wali dengan para pengikut dan santrinya dengan gigih melakukan perlawanan kepada Belanda. Ini kiranya bisa dijadikan salah satu faktor bagaimana muasal dari terbentuknya nasionalisme bangsa Indonesia.

Ragam Tarekat di Nusantara

Berkembangnya tarekat di dunia keislaman, bisa dikatakan muncul di sela-sela terjadinya perang Salib pada abad ke 10 M. Sebelum kurun itu, dunia Islam di Timur Tengah benar-benar mengalami kejayaan intelektual dalam semua bidang, terlebih kemajuan sains dan ilmu alam. Filsuf-filsuf besar seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Bahjah, Ar Razi, Al Farabi, dkk, lahir di era tersebut. Dengan adanya perang Salib, maka umat Islam disibukkan dalam dunia peperangan, di saat yang sama, peran kerajaan sebagai moncong dalam berdakwah begitu kurang. Bahkan, banyak dari para pejabat kerajaan Islam waktu itu yang berfoya-foya—terlelap dalam kenikmatan dunia.

Di tengah-tengah keadaan umat Islam yang begitu mengalami kemerosotan moral, tasawuf mulai terbangun, hadir, dan mencapai puncak kejayaannya. Seakan hal itu diutus oleh Tuhan untuk tetap menjaga ilmu agama agar terus hidup dan tumbuh menjadi benteng moral masyarakat. Bahkan, hadirnya Nabi SAW ke dunia ini, salah satunya untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Ledakan spiritual umat Islam itu melahirkan banyak tokoh beserta tarekatnya, seperti Syech Abdul Qadir Al Jilani (1078-1167 M), Imam Syadzili (L. 1197), Ibnu Arabi (1076-1148), Bahaudin An Naqsabandi (1317-1389 M), Imam Suhrawardi (1154-1191 M), Maulana Rumi (1207-1273), Al Ghazali (1058-1111 M), Abdullah Asy-Syatari (abad 15 M), Najmudin Al Kubra (L. 1145 M) dll. Dalam rentang waktu yang tidak terlalu jauh, di Nusantara juga mengalami ledakan spiritual. Dalam inskripsi tertua, mencatatkan jika sufi agung Hamzah Fansuri (W. 1527 M) memiliki pengaruh yang luas di Kerajaan Aceh. Ia bersama Syamsudin As-Sumaterani menyebarkan ajaran martabat tujuh yang merupakan warisan dari laku suluk Ibnu Arabi. Mereka berdua digugat oleh Nurruddin Ar Raniri yang tidak terima dengan ajaran wahdatul wujud karena dianggap tidak sah. Kisah demikian juga sama persis dengan insiden Syekh Siti Jenar yang dieksekusi di zaman Kerajaan Demak (1475-1568 M) karena menyebarkan ajarannya Ibnu Arabi. Sementara para anggota Walisongo seperti Sunan Gunung Jati (W. 1568), diklaim berbait tarekat Syadziliyah dan Kubrawiyah. Sunan Ampel (abad 14) mengambil bait tarekat Naqsabandiyah. Maulana Maghribi atau Syekh Jumadil Kubro (W. 1465 M) berbaiat tarekat Kubrawiyah. Tiga tokoh wali itu yang lalu memiliki peran dominan dalam mengkader wali-wali yang lain, seperti Sunan Bonang (1465-1525 M) yang menjadi murid Sunan Ampel, Sunan Kalijaga (1450-1513 M) muridnya Sunan Bonang, Sunan Muria (W. 1560 M) muridnya Sunan Kalijaga, Sunan Gresik (W. 1419) muridnya Sunan Ampel, dan begitu seterusnya.

Pasca eranya Walisongo, spirit tarekat di Jawa didominasi oleh Syattariyah yang dijadikan sebagai suluknya kaum ningrat di era pemerintahan Pakubuwono II (1745-1749 M). Jalur sanadnya pun didapat oleh Abdur Rauf As Singkili (1693 M) yang menjadi mufti di Aceh. Sebelum mengabdikan diri ke Kerajaan Aceh, Abdur Rauf As Singkil menimba ilmu di Mekah sekaligus baiat tarekat Syatariyah kepada Ibrahim Al Kurani. Abdur Rauf As Singkil punya murid yang bernama Syekh Abdul Muhyi (1640-1715 M) yang berdakwah di daerah Banten dan Jawa Barat. Syekh Abdul Muhyi memiliki anak yang bernama Syech Fakih Ibrahim yang diangkat jadi mufti atau penghulu di eranya Pakubuwono II dan Pakubuwono III. Dominasi Syattariyah pun kemudian mulai meredup semenjak Belanda menundukkan kraton-kraton di Jawa. Geliat keislaman pun di pegang oleh para ulama yang menempati daerah-daerah luar kraton. Di fase itu, banyak dari masyarakat biasa (non-kraton) yang melakukan perjalanan keilmuan ke tanah Arab. Maka tak heran, jika abad 18 dan abad 19, banyak dari ulama Nusantara menduduki jabatan penting di tanah Arab sebagai sosok ulama yang kondang dan dihormati. Misalnya Syekh Mahfud At Turmusi (1868-1920 M), Syekh Ihsan Jampes (1901-1952), Syekh Khatib As Sambasi (W. 1872 M), Syekh Khatib Minangkabawi (1860-1916 M), Syekh Nawawi Al Bantani (1813-1897 M), Syekh Kholil Bangkalan (1820-1925 M), Syekh Hasyim As’ari (1871-1947 M), Syekh Soleh Darat (1820-1903 M), dll.

Ulama-ulama besar Nusantara di kurun abad 18-19 itu tetap melestarikan tarekat seperti era-era sebelumnya. Hanya saja, banyak dari mereka yang berbaiat sanadnya ke ulama Timur Tengah sehingga geneologi dari para pendahulunya banyak yang terputus. Bahkan, dengan belajar ke Mekkah, para ulama yang kembali ke Tanah Air menyebarkan tarekat-tarekat yang terbilang baru, yang sebelumnya tidak dijumpai di Nusantara. Hingga hari ini, jalinan tarekatnya pun masih sama, dalam artian, ulama-ulama tersebut berhasil mewariskan ke generasi-generasi selanjutnya.

Lalu, bagaimana geliat tarekat di daerah selain Sumatera dan Jawa? Di abad 14-16, banyak kerajaan-kerajaan Islam di daerah Kalimantan, Gowa, Tallo, Bone, Sulawesi, dll, berguru dengan ulama-ulama di Jawa dan Sumatera sehingga geliat tarekatnya cenderung sama. Sedangkan menginjak abad 18-19, banyak dari mereka yang masih belajar ke Sumatera dan Jawa, serta menimba langsung ke Arab, sehingga prosesnya pun sama.

Di Indonesia millennial ini, tarekat begitu banyak jumlahnya. Oleh NU, tarekat di beri wadah dengan nama Jamiyah Ahlu At Tariqah Al Mu’tabarah (JATMAN) yang dinahkodai oleh Habib Lutfhi bin Yahya. Di JATMAN, ada total 43 tarekat yang diklaim memiliki sanad dan keilmuan yang jelas, tersambung, dan mu’tabarah. Yakni Abbasiyah, Akbariyah, Baerumiyah, Bakriyah, Buhuriyah, Ghaibiyah, Haddadiyah, Idrisiyah, Isawiyah, Justiyah, Khadliriyah, Khalidiyah wa Naqsyabandiyah, Madbuliyah, Maulawiyah, Rifa’iyah, Sa’diyah, Sumbuliyah, Syadzaliyah, Syuhrawiyah, Umariyah, Utsmaniyah, Ahmadiyah, Alawiyah, Bakdasyiyah, Bayumiyah, Dasuqiyah, Ghozaliyah, Hamzawiyah, Idrusiyah, Jalwatiyah, Kalsyaniyah, Khalwatiyah. Kubrawiyah, Malamiyah, Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, Rumiyah, Samaniyah, Sya’baniyah, Syathariyah, Tijaniyah, Usyaqiyah, Uwaisiyah, dan Zainiyah.

Tarekat dan Tasawuf Sebagai Pondasi Budaya

Dalam tatanan budaya masyarakat Islam di Nusantara, rata-rata memiliki konsep kebudayaan yang sama meski berbeda dalam perangkat dan sarana prasarananya. Bagaimana melihat orang alim, kyai, wali, atau ulama, hampir di semua daerah Nusantara dihormati dengan begitu saklek dan mutlak. Bahkan, para jamaahnya tak segan-segan untuk mengutamakan para pemuka agama itu ketimbang dirinya sendiri. Jelas tentu ini pendidikan rohani dari tasawuf. Pun seabrek budaya yang ada, misalnya mengirimkan doa dan tawasul kepada orang alim, melakukan ziarah kubur pada waktu-waktu tertentu, hingga perayaan ramadan diperbanyak dengan beragam ritual, yang ritual tersebut tidak bisa dijumpai kecuali di Nusantara.

Dalam khazanah seni, tasawuf punya pengaruh yang luas. Terkhusus di Jawa, geliat budaya bercorak sufi sangatlah jelas. Misalnya di pakaian, berkembangnya batik, baju-baju adat kraton, merupakan ejawantah dari pemahaman kesufian. Dalam konsep batik, gambar-gambar berupa hewan (juga manusia), sama sekali tidak ada yang mirip dengan aslinya. Sebab, Islam melarang menggambar seperti wujud aslinya. Hal itu juga berlaku ke seni-seni yang lain, seperti lukisan, bentuk wayang, dll.

Dalam musik-musik lokal Nusantara, banyak ditemui lirik-lirik yang dinyanyikan berisi petuah-petuah atau syair-syair agama. Bahkan, orang Jawa punya cara sendiri dalam menyampaikan kesungguhan cinta mereka kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Mereka secara bersama-sama melakukan pembacaan lagu-lagu dengan alunan khas gamelan, lirik berbahasa Jawa, yang kesemua isinya adalah pujaan sholawat. Di daerah Jawa Timur dan Madura, budaya tersebut diberi nama Macapatan. Di Temanggung, Magelang, dan sekitarnya, disebut Solawat Bantulan, Jamjaneng, dan Laras Madya. Di momen-momen bulan Maulud, hampir satu bulan full, masyarakat tidak berhenti melakukan sholawatan.

Selain solawat, dalam momen-momen penting Islam, orang-orang Muslim di Nusantara turut meramaikan dengan berbagai acara. Di bulan Muharram, ada Sekaten, Tirakat, Ngumbah Pusaka, Jenang Suro. Di bulan Syaban, ramai-ramai diadakan ziarah kubur secara masal, nyadran, merti bumi, bersih desa, akhirussanah/tutupan. Di bulan Syawal, orang-orang saling berkunjung satu sama lain, antar sanak kerabat, tetangga, yang tujuannya untuk menyambung silaturrahim sekaligus saling maaf-maafan. Di Rabu terakhir bulan Safar, dilakukan ritual Rebu Wekasan yang berupa doa-doa dan bersih bumi.

Mengenyampingkan tradisi yang bersifat momentuman, orang Islam di Nusantara juga melakukan ritual yang didasarkan pada umur, periodik, dan hajat manusia. Misalnya ketika hamil empat bulan, tujuh bulan, hingga bayi lahir, diperingati dengan doa-doa dan sedekah. Saat lahiran, ari-ari atau pusar bayi dirawat dan dianggap sebagai ‘nyawa lain’ dari bayi itu. Atau serung disebut kakang kawah adi ari-ari, sedulur papat limo pancer. Ketika bayi pertama kali menginjak tanah, dilakukan penyambutan berupa doa-doa lagi. Pelaksanaan akikah disertai pembacaan manaqib dan kumpulan bacaan zikir. Ketika sudah dewasa, dilakukan prosesi upacara khitan. Ketika menikah, diadakan bancaan. Pun ketika sudah meninggal, dilaksanakan peringatan tiga hari kematian, tujuh hari, empat puluh haru, seratus hari, seribu hari. Sehabis itu, ada ritual haul tahunan yang dilaksanakan pas tanggal kematian seseorang yang diperingati. Selain itu, ketika orang-orang Nusantara punya hajat, mendapat anugerah, atau bahkan kesialan, dilakukan ritual syukuran atau slametan.

Semua budaya di atas, pada dasarnya didasarkan pada satu konsep, yakni membangun hubungan yang selaras antara manusia dengan sesama manusia, manusia dengan alam, manusia dengan jin, dan manusia dengan Tuhan. Oleh sebab itu, setiap perayaan yang ada, isinya berupa zikir, doa, pembersihan atau perawatan (ruwat) lingkungan, yang kesemuanya itu dilakukan secara berjamaah dan diakhiri dengan prosesi makan bersama. Di Jawa, konsep itu disebut tri loka atau tri buwana, yang juga disimbolkan dalam berbagai desain bangunan. Misalnya di atap masjid atau joglo, ada tiga bagian penting. Atau di perayaan sekaten, ada Endong Tigan.

Di Jawa, dikenal dengan penanggalan yang ketika dijumlahkan dan menemukan harinya, bernilai sakral. Itu di sebut pasaran Jawa atau Candrasengkala. Perhitungannya dilihat dari peristiwa alam dan angka-angka sakral sehingga dianggap menjadi salah satu faktor penentu nasib baik/buruk manusia.

Semua budaya yang ada di atas termasuk yang belum bisa disebutkan, diajarkan oleh para wali atau ulama yang mendapat ilham pemahaman dari tasawuf dan tarekat. Tidak hanya diajarkan lewat tutur lisan, tetapi dirangsukkan dalam budaya masyarakat sehingga keseharian mereka bernilai Islami. Ini menjadi bukti bahwa dakwah yang dilakukan para wali sukses dan punya pengaruh yang sangat besar. Mereka berhasil menerapkan kosmologi Islam dalam peradaban Nusantara.

Sumber Bacaan

Afifi, Irfan, Saya, Jawa, Dan Islam, 7th edn (Yogyakarta: Pojok Cerpen dan Tanda Baca, 2022)

Arafat, M. Yaser, Nisan Hanyakrakusuman: Batu Keramat Dari Pesarean Sultanagungan Di Yogyakarta (Yogyakarta: SUKA-Press, 2021)

Florida, Nancy K., Jawa-Islam Di Masa Kolonial: Suluk, Santri, Dan Pujangga Jawa, 3rd edn (Bantul, 2021)

Maula, M. Jadul, Islam Berkebudayaan: Akar Kearifan Tradisi, Ketatanegaraan, Dan Kebangsaan (Bantul: Pustaka Kaliopak, 2019)

Putuhena, M. Shaleh, Historiografi Haji Indonesia, 2nd edn (Bantul: LKIS, 2007)

Ridwan, Nur Khalik, Islam Di Jawa Abad XIII-XVI: Para Wali, Pribumisasi Islam, Dan Pergulatan Jati Diri Manusia Jawa (Bantul: Buku Langgar, 2021)

Sunyoto, Agus, Atlas Walisongo (Depok: Pustaka Iman, 2017)

Woodward, Mark R., Islam Jawa, Kesalehan Normatif Versus Kebatinan (Bantul: IRCiSoD, 2017)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *