Beranda / Esai / Opini / Minimalisasi Diri di Bulan Suci

Minimalisasi Diri di Bulan Suci

Bulan suci ini riuh dengan beragam fenomena yang rasanya tak asing lagi. Mulai dari permasalahan politik negeri yang indah berwarna dan berkibar bak pelangi di tepi jalan yang kompak dengan seruan revolusi  2024,  harga-harga pasar melambung tinggi dan permasalahan lain yang terjadi. Perilaku ini menjadi tren terkini yang sulit diantisipasi sehingga membuat Ramadhan menjadi salah arti.

Bulan Ramadhan adalah momentum istimewa bagi berbagai kalangan. Tidak hanya dirayakan secara spiritual namun jauh daripada itu media pun tak pernah absen memeriahkan. Jauh-jauh hari iklan dari berbagai produk silih berganti disodorkan di media massa dan televisi. Berbagai model iklan ditayangkan secara gamblang di depan mata kita, mulai dari artis sebagai bintangnya hingga menggandeng ulama sebagai daya tarik khusus menjaring konsumen.

Akibatnya, terjadi peningkatan konsumsi kolektif di tengah masyarakat. Hal ini ditambah dengan kebiasaan rutin masyarakat, mulai dari buka bersama, sahur bersama, ngabuburit lengkap dengan perburuan takjilnya dan kebiasaan-kebiasaan lain. Ritual konsumtif ini pada kenyataannya mendistorsi makna Ramadhan itu sendiri. Puasa yang seharusnya dimaknai sebagai upaya menahan diri dari hawa nafsu, baik keinginan positif seperti makan, minum, maupun keinginan negatif.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan ironis misalnya, Mengapa pada bulan suci Ramadhan sebagai momentum umat islam berpuasa menahan lapar dan dahaga justru mengalami peningkatan dalam ranah ekonomi? Konsumsi dengan dalih penglipur dahaga, kalap, lapar mata ataupun istilah lainnya tak cukup menjadi alasan logis.

Titik balik dari fenomena ini adalah kembali memaknai puasa dengan benar. Puasa adalah sarana sekolah moralitas, latihan menempa diri dengan berbagai sifat terpuji. Esensi puasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga dari terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari. Puasa adalah jihad menahan nafsu, menangkal rayuan-rayuan setan serta membiasakan diri hidup sederhana.

Bulan ramadhan dengan berlimpah pahala merupakan awal yang tepat untuk perjalanan menuju minimalisme. Di tengah kesibukan berpuasa dan menjalankan ibadah, penting kiranya menjadikan Ramadhan sebagai momentum belajar meringankan diri.  Meringankan diri adalah praktik menjadi minimalis, seperti memaafkan diri sendiri maupun orang lain dari segi spiritual, bijak dalam berbelanja serta meringankan diri dari benda – benda yang tidak bermanfaat dengan decluttering atau memperpanjang masa pakai barang dengan mendonasikan atau menjual kembali.

Menjadi minimalis berarti mengurangi kebiasaan konsumtif dan memfokuskan diri pada hal-hal yang penting. Minimalisme menghindari pemborosan dan mendorong untuk hidup sederhana. Dengan mengurangi barang-barang yang tidak diperlukan dan fokus pada apa yang benar-benar penting, sehingga lebih efisien dalam pengelolaan waktu dan energi.

Ramadhan bukan momen untuk menghalalkan segala bentuk konsumtifitas. Seorang minimalist jauh dari budaya konsumtif. Ia mampu memutuskan kebutuhan dan keinginan. Ramadhan suci ini adalah titik balik belajar menghargai apa yang sudah ada dan memilih hanya barang-barang yang benar-benar dibutuhkan. Redam budaya konsumtif dengan seruan nyaring “Less impulsive, pray more and give more”. Mulai menghargai hal-hal kecil, belajar bersyukur dan self control.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *