Sudah menjadi seremonial rutin, bahwa setiap tahunnya di peringati sebagai peringatan isra miraj, wabil khusus umat islam. Peristiwa ini menjadi tonggak awal diperintahkannya ibadah sholat wajib bagi orang islam. Peristiwa isra miraj di kisahkan dari mula awal diberangkatkannya nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha lalu menuju sidrotil muntaha.
Namun, sebelum di perjalankan, dalam beberapa Riwayat di kisahkan bahwa nabi Muhammad terlebih dahulu dibedah atau dioperasi oleh malaikat Jibril bagian dadanya untuk di bersihkan. Space kisah ini memberikan pemaknaan besar. Pertama, bahwa isra miraj terdapat perjalanan yang begitu agung, sehingga bukan sembarang orang yang di pilih.
Dengan demikian, penyucian dari segala kepentingan, di singkirkan dahulu. La yamassuhu illal mutohharun. Bukan hanya suci pada tataran dzohir, tapi juga batin. Kedua adalah, bahwa ilmu bedah kedokteran yang saat ini berkembang sudah terlebih dahulu di praktekkan oleh malaikat Jibril.
Seperti yang masyhur di kisahkan, perjalanan nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang berjarak ± 1500 km lalu menuju sidrotil muntaha (lagit ke 7) di tempuh hanya kurang dari satu malam. Peristiwa ini jelas menyalahi hukum ilmiah ruang dan waktu yang berlaku. Menurut imanuel kant, waktu selalu terkait dengan ruang. Artinya, tidak mungkin seseorang dalam waktu yang sesingkat itu dapat menembus ruang yang terhitung cukup luas. Maka tak heran jika banyak yang menganggap takhayul kisah ini.
Lalu, bagaimanakah kita sebagai umat islam untuk menerima hal ini? Untuk menjawab hal ini sebenarnya simpel, Tuhanlah penguasa ruang dan waktu. Alimul ghoibi wa assyahadah. Sangatlah mudah bagi tuhan untuk melakukan ini. Namun, di era sekarang berbagai penemuan fakta fakta ilmiah, perkembangan teknologi modern sudah bisa membuktikan dan menemukan kebenaran peristiwa Isra Miraj.
Dari penggalan kisah isra miraj ini, tentunya menjadi tamparan bagi umat islam, bahwa peristiwa Isra Miraj memberikan semacam persiapan mentalitas menghadapi percepatan zaman, bahwa realita yang terjadi saat ini perwujudan kembali dari kejadian yang telah berlalu. Fenomena ini semakin membuat manusia semakin sadar bahwa dirinya hanyalah sekelumit dari jagad semesta.
Dalam al-quran, isra miraj di kisahkan dalam surah al-isra (isra) dan an-najm (miraj).
Al-isra’ ayat 1;
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Artinya; Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Dalam tradisi keilmuan tafsir, ayat ayat yang di awali dengan kalimat tasbih subhana-yusabbihu-sabbaha mengandung makna yang sulit di terima oleh akal. Lalu asra biabdihi, mengapa dalam ayat ini menggunakan redaksi biabdihi? Bukan birosulihi atau binabiyyihi? Tentunya hal ini memunculkan beberapa respon dari ulama tafsir. Imam Al Qusyairi berpendapat bahwa pemilihan diksi biabdihi tidak lain bertujuan agar umat penduduk bumi tadabur akan tauhid ubudiah. Tauhid ubudiah adalah bagaimana manusia memahami sepenuhnya amanah kehambaan dan kemanusiaan.
Manusia sejak awal diciptakannya terus menerus memunculkan kontroversi (karena kontroversi adalah tanda bahwa ada pembaharuan). Mulai dari di ciptakan dari tanah, penolakan sujud dari iblis, sampai di turunkannya ke bumi. Ini merupakan gejala awal bahwa manusia akan senantiasa berubah. Al-Quran membahasakan penciptaan manusia meliputi beberapa aspek; mukarram, mukallaf, mukhayyar. Mukarram artinya di muliakan.
Tuhan menciptakan manusia dengan bentuk sebaik-baiknya. Apa yang ada pada diri manusia saat ini itulah terbaik. Namun yang menjadi masalah adalah sekat standarisasi yang ada. Manusia di bekali dengan akal, perasaan, daya intelektual, indera yang kemudian berkonsekuensi dengan aspek selanjutnya yaitu mukallaf, mempunyai tugas dan tanggung jawab yang harus di jalankan baik vertical maupun horizontal.
Secara vertikal tugas manusia adalah penghambaan, abdullah. dengan kesadaran penuh mengakui bahwa tiada kebenaran yang haq kecuali dari-Nya, menjalankan segala amaliah liya’budun. Horizontal adalah tanggung jawab manusia untuk memelihara kemanusiaannya, menjaga kelangsungan hidup alam semesta. Implikasi dari dua aspek inilah yang kemudian di sebut dengan mukhayyar; berpotensi. Dengan kata lain potensi manusia merupakan akar dari kejadian yang ada di dunia ini. Segala hal yang terjadi saat ini adalah akibat dari potensi yang di hasilkan manusia itu sendiri. Lalu mengapa demikian masih terjadi kerusakan, pembunuhan, kemiskinan? Bisa di pastikan ada yang salah dengan proses penghambaannya.
Zaman yang semakin instan, berakibat mulai memudarnya kesadaran manusia akan tugasnya, secara vertikal, pun horizontal. Mentalitas menghadapi kemajuan zaman manusia semakin di uji. Sudah seharusnya momentum isra miraj menjadi sebuah refleksi besar bagi manusia untuk kembali, dan ingat dengan Amanah yang telah di bebankan kepadanya. Dan semoga peringatan seperti ini bukan hanya sekedar peringatan yang tiap tahunnya di peringati dengan seremonial saja, tapi juga esensial.
Source:
Dr. KH. A. Musta’in Syafi’i “Majalah MQ TIMES edisi 2; ISRA MI’RAJ: MENTALITAS MENGHADAPI PERCEPATAN ZAMAN”
Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag. “Menjadi Manusia Menjadi Hamba”









