Perubahan kehidupan manusia terjadi secara besar-besaran hingga saat ini, manusia berlomba-lomba menciptakan kreasi, inovasi, juga revolusi. Ini semua tak lepas dari intervensi manusia yang semakin melek peradaban dan cakap teknologi. Namun, kehadiran era ini juga menimbulkan sebagian manusia abai terhadap nilai-nilai norma kemanusiaan. Mereka lupa bahwa peradaban tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual, tapi bagaimana dapat menyeimbangkan antara kualitas intelektual dengan kualitas spiritual juga dibarengi dengan kualitas amal. Sejauh ini banyak kajian-kajian tentang motivasi diri dan komunitas-komunitas pengembangan diri, namun hanya sampai ranah meng-upgrade kualitas intelektual dan kualitas spiritual saja, hanya sedikit dari mereka yang mau berkecimpung dalam ranah kualitas amal, peka terhadap sosial dan turun ikut merasakan.
Bagaimana seharusnya manusia memposisikan diri, sehingga dasar ia untuk melangkah bukan hanya jelas, bukan hanya bermanfaat, tapi tidak menimbulkan mudharat. karena dengan kita menyadari esensi diri, melalui analisis diri, kita akan menemukan banyak kesadaran-kesadaran yang masih luput dan sering kita abaikan. Siapa sebenarnya kita, makhluk tuhan yang sedang melakukan pengembaraan, yang pasti akan kembali pulang.
Di sisi lain, kita dihadapkan dengan budaya pragmatisme yang memungkinkan kita untuk tidak berfikir kritis namun bersikap apatis, mana yang menguntungkan atau malah membahayakan, tentunya sebagai manusia yang mempunyai kesadaran bukan hanya mempertimbangkan resiko untuk dirinya, melainkan membaca juga sekitarnya. Karna ia sadar sebagai makhluk sosial, mengharuskannya untuk menentukan sikap yang berorientasikan pada perubahan sosial yang bukan hanya milik si kaya dan berpenguasa saja.
Karna ia sadar sebagai mahasiswa memikul amanah sebagai agen of change, kewajibannya sebagai intelektual bukan hanya melakukan penelitian, berkutat dengan pendidikan dan hanya belajar namun harus ada pengaktualisasian dan itulah yang menjadi harapan. Hal ini selaras dengan pendapat Antonio Gramsci seorang filsuf Italia, bahwa perlu adanya generasi intelektual, para cendekiawan yang turun dari menara gadingnya, dan terjun ke jalan melakukan pengabdian, pengaplikasian dan pengaktualisasian dari pengetahuan dan pemikirannya kepada masyarakat. Kelompok ini dinamakannya dengan ‘generasi Intektual Organik’ yaitu generasi yang mampu memberikan pencerahan serta membebaskan masyarakat dari keterkungkungan mindset dan pikiran yang bersifat dogmatis dan represif. Mereka yang mampu menganalisis sosial dan mencari solusi atas permasalahnnya.
Kemiskinan, pelanggaran hak asasi manusia, pengangguran, korupsi, putus sekolah, kriminalitas, kapitalitas, kekerasan, ketimpangan adalah sederetan persoalan yang sudah lazim. Ini adalah kenyataan sosial yang tidak bisa ditolak, dan para intelektual kerap kali hanya menjadi bagian struktur kekuasaan negara, berdiam diri dan merasa bahwa itu normal saja. Mereka tidak memfungsikan dirinya sebagaimana mestinya sebagai agen perubahan yang berpihak pada masyarakat, karna kesadaran akan kesenjangan, kepekaan akan ketimpangan yang terjadi hanya sebatas pada kesadaran magis dan dan naif saja, belum pada sampai pada kesadaran kritis.
Seperti misalkan, “oh dia memang sudah takdirnya miskin ko, oh emang sudah dari sana-sananya sih biaya pendidikan mahal” anggapan yang berimplikasi pada kesadaran fatalistik seperti ini yang menempatkan suatu realitas disebabkan oleh faktor-faktor diluar kendali manusia, dinamakan dengan kesadaran magis. Kemudian, “kasian yaa orang-orang miskin ga bisa mendapatkan keadilan padahal udah kerja keras tetep aja susah, kasian yaa yang gak punya uang ga bisa mengakses kualitas pendidikan yang setara, padahal sama-sama punya cita-cita” anggapan yang berimplikasi pada kesadaran reformatif seperti ini yang menempatkan suatu permasalahan sosial sebagai ‘masalah’ namun hanya sekedar memberi empati disebut dengan kesadaran naif. Dan anggapan bahwa “dia sebenarnya miskin bukan karna malas bekerja, tapi termiskinkan oleh sistem sosial ekonomi, politik, juga budaya kapitalis. Dia ga bisa melanjutkan pendidikan bukan karna ga punya uang, tapi sistem pendidikannya yang rusak karna dikomersialisasi juga tuntutan pasar akreditasi” anggapan yang berimplikasi pada kesadaran transformatif seperti ini yang menempatkan suatu realitas adalah akibat dari sistem dan struktur yang mendominasi di masyarakat ialah kesadaran kritis.
Ternyata bentuk kesyukuran dari kesadaran kita sebagai makhluk tuhan bukan hanya mampu berkesadaran kritis, bukan hanya beriman amaliah, berilmu imaniah, tapi juga beramal ilmiah. Salah satu bentuk kesyukuran kita sebagai makhluk tuhan ialah dengan pergerakan. Itu yang penulis dapatkan di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, bahwa kita perlu kesadaran, kepekaan, juga pergerakan untuk dapat mewujudkan perubahan. Bukan sekedar asal perubahan namun tetap berorientasi pada kebermanfaatan dan meminimalisir kemudharatan, perubahan yang dimiliki semua lini, bukan hanya si kaya atau penguasa saja. Penulis akhiri dengan sebuah pertanyaan “Dunia, Indonesia, kita semua butuh anak muda, lantas kamu sebagai anak muda mau menjadi yang seperti apa?”









