Beranda / Esai / Opini / PMII: Semangat Gerakan dan Strukturalnya

PMII: Semangat Gerakan dan Strukturalnya

PMII

Oleh: Slamet Makhsun*

 

PMII adalah organisasi kemahasiswaan yang berjenjang, baik dari tingkat daerah hingga pusat. Dimulai dari struktural terkecil, yakni rayon (kepemimpinan di tingkat fakultas dalam suatu kampus), berlanjut ke komisariat (kepemimpinan dalam satu kampus), lalu ke cabang (kepemimpinan dalam tingkat kabupaten atau kota), berlanjut ke PKC atau pengurus koordinator cabang (kepemimpinan dalam satu propinsi), dan terakhir pengurus besar yang merupakan pimpinan tertinggi PMII.

Struktural di atas merupakan fase-fase bagi kader dalam menempa diri di lingkup kepengurusan PMII. Tentu, dapat dianalogikan bahwa pengurus besar adalah ayah bagi PKC, cabang, maupun rayon. Ayah sudah sepantasnya melindungi, mengayomi, serta merawat anak-anaknya. Hal ini pula yang harus ditekankan oleh pengurus besar, bahwa jangan sampai lupa terhadap agenda kaderisasi. Walaupun kaderisasi formal yang paling bawah dilaksanakan oleh rayon, namun nafas yang dihembuskan oleh rayon adalah nafas kehidupan yang telah pengurus besar berikan.

Lain daripada itu, pengurus besar sangat naif jika hanya sibuk mengurusi politik tanpa ada usaha untuk memberikan kebutuhan bagi struktur-struktur di bawahnya. Sebab, keberhasilan PMII bukan pada banyaknya agenda-agenda yang dilakukan, namun, lebih dari itu, yakni mencipta kader-kader yang menjiwai NDP sehingga ketika kader tersebut kembali ke masyarakat, dapat menerapkan apa yang PMII gagas. Yakni memperjuangkan keadilan dan membela kaum-kaum mustadh’afin sehingga di mana pun berada, kader PMII akan selalu menjadi agen-agen perubahan.

Dalam perjalanannya, PMII sarat dengan wacana-wacana keilmuan yang multikultural. Memang pada dasarnya, mereka yang menjadi kader berasal dari background keluarga yang Islam tradisonalis yang kebanyakan alumni pesantren, atau setidaknya, bersinggungan dengan wacana-wacana ke-Aswajaan NU, namun ketika sudah menjadi kader PMII, akan dikenalkan dengan berbagai keilmuan. Misalnya filsafat, ekologi, politik, bahkan sains sekalipun. Hal ini yang membuat transformasi keagamaan tidak mandeg, jumud, stagnan.

Beragam demonstrasi, yang biasanya dilakukan oleh kader-kader PMII, sebab mereka lihat ada sistem yang mendukung upaya ketidakadilan. Misalnya ekonomi kapitalistik, hegemoni masyarakat, atau hal-hal lain yang mendukung upaya penindasan rakyat, mereka baca dengan pisau analisisnya Karl Marx, Gramsci, Habermas, yang pada umumnya adalah tokoh pemikir dari Barat yang notabenenya bukan seorang Muslim yang sering dicap pemikir “kiri”. Lalu, setelah paham dengan pisau analisisnya, kemudian dikaitkan dengan teks-teks yang Aswaja amini. Bahwa benar Tuhan tidak membolehkan kapitalisme, bahwa Al-Quran mengharamkan penguasaan tanah secara ilegal, bahwa para ulama salaf sangat menentang terhadap segala macam perbudakan.

Titik inilah yang menjadikan PMII sebagai organisasi kemahasiswaan Islam yang unik. Mengutip pendapatnya Gus Ulil Abshar Abdalla, bahwa justru kalangan yang mengaku Islam modernis malah cenderung jumud dan saklek dalam menafsirkan agama. Mereka hanya berkubang dalam ranah fiqh atas halal-haramnya segala sesuatu. Sebaliknya, bahwa kaum-kaum yang sering dicap sebagai Islam tradsionalis malah lebih akrab dengan cepat kenal dengan beragam pemikiran modern. Mereka lebih terbuka dan cepat dalam menyerap segala sesuatu. Bukan berarti membuat mereka lepas dari Islam Aswaja, melainkan seabrek pemikiran modern tersebut hanya dijadikan alat dan sarana dalam mencapai esensi dan tujuan pokok dalam sisi-sisi kemanusiaan yang Aswaja tawarkan.

Contoh lain, misalnya terkiat radikalisme. Banyak para mahasiswa yang berlatar ‘Islam modernis’ yang malah mudah terpapar radikalisme. Alasannya cukup sederhana. Mereka tidak terlalu paham dengan mekanisme pemahaman dan penafsiran Al-Quran sehingga mudah ketika dijerumuskan dalam tafsir-tafsir agama yang salah. Sebaliknya, kader PMII yang sebagian besar alumni pesantren, paham dengan beragam keilmuan tafsir seperti nahwu saraf, mantiq, ilmu kalam, ushul fiqh, dll, sehingga sulit untuk didoktrin dalam menerima paham-paham Islam radikalisme.

PMII memiliki paradigma kritis transformatif, yakni cara berpikir yang kritis terhadap sesuatu sehingga menemukan solusi terbaik bagi tiap permasalahan. Sejatinya, hal tersebut sudah cukup menjadi sarana dalam menggeluti perkembangan zaman yang kian melesat. Namun, penulis mengamini, seperti yang diusulkan oleh Muhammad Abdullah Syukri yang belum lama ini terpilih sebagai Ketua Umum PMII. Dia menegaskan bahwa sekarang, tidak cukup hanya dengan paradigma kritis transformatif saja, namun harus ditambah menjadi paradigma kritis, transformatif, dan produktif. Penambahan kata produktif dimaksudkan agar setiap kader PMII, ketika memiliki sebuah wacana, dapat menghasilkan output yang jelas. Yakni dengan menghasilkan sebuah karya, agar perhelatan yang selama ini dilakukan dapat lebih bermanfaat dan dapat dinikmati oleh kader-kader di generasi yang akan datang.

Pada akhirnya, dengan semangat PMII yang berlandaskan Aswaja ini, dapat menanamkan seabrek nilai yang dimilikinya jika mampu menyambung komunikasi yang baik antar struktural. Pengurus besar harus hadir dalam setiap wacana-wacana yang dibangun oleh pimpinan koordinator cabang, pimpinan koordinator cabang harus memberikan ruh-ruh pergerakan terhadap wacana yang dimiliki oleh pimpinan cabang, begitu seterusnya sampai di kepengurusan terkecil, rayon.

Alhasil, jika komunikasi sudah tertata rapi, nilai-nilai dasar pergerakan yang dimiliki oleh PMII akan terejawantah dengan sempurna. Setiap kader, akan selalu berkobar semangatnya dalam menegakkan keadilan dan membela kaum-kaum tertindas. Di titik inilah, PMII benar-benar menjadi organisasi yang mencetak agent of change bagi bangsa Indonesia. Wallahu a’lam.

Ilustrasi: google

 

*) Kader PMII Rayon Pembebasan UIN Sunan Kalijaga

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *