Beranda / Esai / Opini / Profesor Aksin dan Kerja Intelektual

Profesor Aksin dan Kerja Intelektual

aksin

Oleh: Ferdiansah*

Pada hari Sabtu, (11/12) Prof. Aksin M.Ag resmi dikukuhkan sebagai profesor pada bidang Ilmu Al-Quran dan Tafsir di IAIN Ponorogo, Jawa Timur. Kiprahnya sebagai intelektual tak diragukan lagi di Indonesia. Terdapat 25 buku yang telah lahir dari tangannya ditambah dengan 38 artikel di Jurnal Ilmiah bereputasi dengan berbagai disiplin keilmuan, mulai dari Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Sejarah Pemikiran, Studi Kritis Pemikiran Tokoh, Hukum Islam, Studi Islam dan Filsafat Islam.

Aksin meminjam bahasa Noam Chomsky (2021) adalah potret intelektual referensial. Ia mengedepankan nilai dan juga menyuarakan pentingnya keberanian berpikir dalam kerangka mencari kebenaran dalam ber-Islam. Ia menguasai epistemologi kritis dari klasik hingga kontemporer baik dari Timur Tengah dan Barat. Jika kita telusuri buku-buku Aksin umumnya bernuansa kritik, baik kritik yang bersifat provokatif, maupun apresiatif terhadap suatu realitas kemanusiaan dan keberagamaan. Aksin sangat berani melontarkan gagasan di luar kebiasaan publik, yang acapkali membuat publik awam mengernyitkan dahi.

Bukunya yang sempat kontroversial di publik adalah Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan: Kritik atas nalar Tafsir Gender (2013), yang pernah membuatnya dilempar kursi dalam suatu acara seminar yang membedah buku tersebut. Baginya, pemikiran manusia haruslah dinamis dan tidak boleh statis, karena Allah Swt menciptakan ruang dan waktu (alam semesta) yang keduanya sama-sama bergerak (dinamis). Oleh karenanya, ruang dan waktu selaras dengan pemikiran manusia (tidak boleh berhenti bergerak). Karena jika statis, tinggal menunggu waktu saja untuk menghadapi akhirnya, (Aksin, 2019).

 

Proses Menjadinya

Aksin telah merasakan asam garam dalam mencari ilmu. Di tengah berbagai keterbatasannya (karena sedari kecil menjadi seorang Yatim), ia terus tekun dan bekerja keras untuk menuntut ilmu. Usai lulus sekolah dasar, kemudian ia nyantri sambil sekolah di Pesantren Annuqayah Madura, namun karena tidak memiliki uang, ia menjual radio untuk membiayainya mondok, yang merupakan peninggalan satu-satunya dari bapaknya. Pengalaman historis itulah yang selalu memotivasinya untuk bekerja keras tanpa kenal lelah dalam belajar.

Berkat ketekunannya ketika nyantri, Aksin berhasil menjadi siswa teladan dan berprestasi yang akhirnya membawanya mendapatkan beasiswa Unggulan Menteri Agama Munawwir Syadzali di Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MANPK) Jember tahun 1992. Di asrama MANPK inilah yang menjadi tempat “proses menjadinya” sebagai santri yang haus akan ilmu pengetahuan dan menjadi tempatnya mengasah dirinya menjadi intelektual-ulama (Arif Maftuhin dkk, 2020: 301).

Dengan fasilitas kitab MANPK yang lengkap mulai dari klasik hingga kontemporer serta buku kritis berbahasa Asing, Aksin benar-benar memanfaatkannya untuk belajar meneroka ilmu pengetahuan, sejarah keilmuan dan produksi ilmu pengetahuan dalam Islam. Selain itu, di MANPK diajarkan berbagai aliran pemikiran (madzhab) yang menunjang para siswanya untuk tidak fanatik terhadap suatu aliran tertentu, tetapi juga apresiatif terhadap aliran yang lain. Di MANPK ini pula tempat bertemunya/berdialognya 3 peradaban pemikiran, yakni pemikiran Arab, Barat dan Indonesia.

Selain aktif di Asrama MANPK, Aksin pun juga aktif di luar Asrama. Ketika itu, Aksin aktif mengikuti organisasi Ikatan Remaja Muhammadiyah, Ikatan Putra Pelajar NU, Palang Merah Remaja, Lembaga Dakwah Kampus, dan Syi’ah sekaligus. Berbagai macam ideologi yang diikuti tersebut menunjukkan bahwa besarnya pergolakan pemikiran Aksin muda dalam pencarian jati diri, dan sampai hari ini sudah jarang kita jumpai sosok muda yang sepertinya. Meskipun Aksin kemudian memilih aktif penjadi penggerak Organisasi Nahdlatul Ulama.

Usai lulus dari MANPK, Aksin kuliah Double Degree di Universitas Islam Jember (1996-2001) dan STAIN Jember (1997-2001). Kemudian Program Magister selesai pada tahun 2004, sedangkan doktornya, ia tuntaskan pada tahun 2007. Meskipun dengan keterbatasan finansial, Aksin berhasil membuktikan bahwa keterbatasan dana tidak menyurutkan visinya untuk menyelesaikan pendidikannya.

 

Kerja Intelektual

Sebagai pemikir, Aksin berkarya dan menulis banyak buku bukan hanya untuk mendapatkan royalti. Tetapi lebih dari itu Aksin bertujuan untuk bisa terus menjaga nyala idealisme kritisnya serta berusaha menghidupkan pemikiran kemanusiaan. Aksin selalu menegaskan dalam berbagai ceramahnya bahwa pemikiran manusia itu harus dinamis dan harus terus dikembangkan untuk membentuk peradaban keilmuan yang lebih kontekstual dan progresif, sebagaimana yang pernah terjadi pada zaman kejayaan Ilmu Pengetahuan Islam di abad Pertengahan.

Dengan kerja-kerja intelektualnya Aksin telah berkontribusi mencerdaskan kehidupan bangsa dan semakin membuka kawah candradimuka intelektual bagi civitas kampus. Meskipun realitasnya kerja intelektual itu masih belum banyak diapresiasi oleh publik, namun Aksin tetap melanjutkan pengembaraan intelektualnya demi kemaslahatan bangsa, negara dan agama.

Kehadiran Prof. Aksin dalam panggung intelektual kampus sebagai guru besar, bagi penulis telah sedikit membantu mereduksi stigma yang sempat muncul di perguruan tinggi bahwa sebagian di antara para profesor di Indonesia hanya menyandang predikat “Guru Besar Hanya Nama” (GBHN). Mengingat predikat guru besar yang sebagian mereka dapatkan tidak banyak dilalui dengan ketekunan dan kerja-kerja intelektual yang serius. Namun hanya dengan modal politik, jejaring relasi dan ghost writer. Label GBHN yang dimaksud lebih kepada apresiasi jabatan struktural sebagai Guru Besar yang ada di kampus, bukan sebagai apresiasi intelektual.

Aksin membuktikan bahwa dirinya tidaklah demikian, mengingat ia berangkat dari kerja-kerja intelektual yang penuh peluh keringat. Karya-karyanya yang kritis begitu orisinal dan diakui otentisitasnya serta bisa kita nikmati dengan pembacaan yang kritis pula. Oleh karenanya, predikat guru besar yang ia sandang saat ini “bukan hanya nama belaka”. Namun merupakan bentuk pengakuan intelektual untuknya atas kontribusi dalam produksi ilmu pengetahuan, khususnya di bidang studi ilmu keagamaan.

Akhirnya, Selamat untuk Prof. Aksin, S.H, S.Ag, M.Ag. Teruslah berkarya, kami tunggu karya-karya kritismu selanjutnya sebagai proses mencari kebenaran yang sejati. Semoga kontribusimu dalam bidang keilmuan menjadi legacy bagi kita semua, pegiat studi keislaman yang ada di Indonesia.

 

)*Peneliti Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *