Oleh: Darul Mubarok*
Biografi Ali Syariati
Ali Syariati lahir pada tanggal 24 November 1933 di Mazinan, pinggiran kota Masyhad, Iran, dari keluarga yang terhormat dan taat dengan agama. Oleh ayahnya, ia mendapat pendidikan filsafat dan keilmuan lainnya. Pada tahun 1941, Ali Syariati masuk sekolah tingkat pertama di sekolah swasta Ibn Yamin. Di sekolah ini pula, ayahnya bekerja.
Saat di masa-masa sekolah, Ali dipandang memiliki perilaku yang berbeda. Dia pendiam, tak mau diatur, dan rajin. Penyendiri, tidak punya kontak dengan dunia luar serta tak mau tahu dengan dunia luar. Hal ini menandakannya sebagai seorang yang anti sosial.
Setelah menyelesaikan sekolah dasar dan menengahnya di kota Masyhad, Ali Syariati melanjutkan studinya di pendidikan guru. Di saat-saat inilah ia mulai terbuka dengan dunia luar. Menjalin hubungan dengan para kawula muda, yakni dari golongan masyarakat lemah sehingga turut merasakan kemiskinan dan kesusahan yang menyebar ditengah masyarakat.
Saat usia delapan belas tahun, Ali Syariati memulai karirnya sebagai guru. Semenjak itu pula, ia senantiasa menpunyai dua peran langsung, dia memposisikan dirinya sebagai murid sekaligus guru. Setelah lulus dari perguruan tinggi pada tahun 1960, Ali memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan lanjutan di Prancis sehingga mendapat gelar doktor dibidang sosiologi pada tahun 1964.
Semasa hidupnya, Ali Syariati banyak mencurahkan hidupnya di kerja-kerja intelektual. Dia banyak mengarang buku yang gagasan-gagasannya cukup mewarnai khazanah pemikiran Islam kontemporer. Tidak hanya di Iran saja, melainkan menyebar ke berbagai negeri-negeri Muslim. Bahkan tak jarang, sarjana Barat juga mengkaji karya-karyanya. Jumlah ceramah intelektual, kajian, analisa-analisa, dan karya-karyanya di bidang sosiologsi dan historis mencapai ratusan. Sebagian besar hasilnya itu dicetak ulang berkali-kali didalam maupun luar negri, ribuan salinan, dan catatan membentuk sejenis Ensiklopedia Islam.
Qobil dan Habil
Islam menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber ide dan kerangka filosofis yang sangat komprehensif, tinggal bagaimana umatnya saja untuk berusaha mempelajari-menggali seluruh ilmu dan khazanah yang ada dalam Al-Qur’an yang lalu disinkronkan dengan dengan ayat-ayat alam (ayat-ayat kauniyah) sehingga melahirkan pedagogi ilmu pengetahuan.
Islam adalah agama yang sangat mengapresiasi dan toleran dalam memberikan kebebasan umatnya untuk berfikir, menggunakan kecerdasannya dan berbuat segenap kemampuannya, selama semua itu dapat dipertanggung jawabkan dan tidak melanggar prinsip Islam sendiri.
Dengan pernyataan tersebut, Ali Syari’ati memberikan ajakan untuk kembali kepada “Islam yang benar”. Sebab, menurut Ali, Islam selama ini telah ditafsirkan secara keliru oleh ulama sehingga malah melegitimasi kepemimpinan politik sehingga menghadirkan kejumudan berpikir. Secara tegas ia menyerukan untuk kembali kepada Islam yang jelas—haq—yaitu merujuk kepada Islam sebagai ajaran yang transformatif dan membebaskan.
Jika dikaji secara periodik, maka lontaran Ali bahwa Islam adalah agama yang transfromatif dan membebaskan tak jauh dengan keadaan saat ia hidup, bilamana Iran yang ditempatinya sedang dalam kepemimpinan yang otoriter yang malah memiliki kedekatan dan pro dengan Barat (Amerika). Lebih-lebih, Amerika sendiri secara ideologi dan gerakan, berbenturan dengan identitas muslim Syiah Iran.
Ali Syariati dalam ceramahnya menjelaskan tentang struktur sosial islam yang disebut Qabil dan Habil. Cerita tentang Qobil dan Habil bersumber dari Al-Quran. Menurut Ali Syariati, kisah Qabil dan Habil menjadi sumber bagi filsafat tentang sejarah, sebagaimana kisah Nabi Adam menjadi rujukan bagi filsafat tentang manusia.
Peperangan antara Qabil dan Habil, adalah peperangan diantara dua kubu yang lalu melahirkan dialektika sejarah. Kontradiksi diawali dengan pembunuhan Habil oleh Qabil. Ali Syariati merepresentasikan sosok Habil dengan era ekonomi yang berbasis padang rumput, sosialisme primitif yang mendahului kepemilikan. Sedangkan Qobil merepresentasikan sistem pertanian, dan kepemilikan individu atau monopoli.
Habil sang pengembala dibunuh oleh Qobil sang pemilik tanah. Periode kepemilikan bersama sumber-sumber produksi era pengembalaan, berburu, memancing, semangat persaudaraan, dan keimanan sejati, berakhir digantikan dengan era pertanian dan kemudian mendorong terbangunnya sistem kepemilikan pribadi, bersama dengan tipu daya dan pelanggaran religius terhadap hak-hak orang lain.
Antara Qabil dan Habil, terdapat jelas kontradiksi pemahaman. Habil ialah orang beriman, suka damai, dan berkorban demi orang lain, sedangkan Qobil penyembah hawa nafsu, pelaku maksiat, dan pembunuh saudara. Menurut para ahli tafsir Al-Quran, riwayat mengenai Qabil dan Habil memiliki maksud atas turunnya wahyu yang berisi penjatuhan hukuman terhadap pembunuhan.
Namun, penulis kira, pemahaman tersebut kurang tepat. Agama-agama Ibrahim, terutama Islam, melukiskan kisah ini sebagai peristiwa besar yang menjadi permulaan adanya pembunuhan antar kehidupan manusia di dunia ini. Ali Syariati mengatakan bahwa pembunuhan Habil dalam tangan Qobil melukiskan perkembangan besar, pembelokan tiba-tiba dalam jalannya sejarah seluruh kehidupan manusia.
Islam menafsirkan dan menjelaskan peristiwa itu dalam cara yang sangat mendalam secara ilmiah, sosiologi, dan berkenaan dengan kelas. Kisah itu bersangkut dengan akhir dari komunisme primitif, hilangnya sistem orisinal manusia dalam hal persamaan hak dan persaudaraan yang lalu terekspresikan dalam sistem produksi pertanian, penciptaan kepemilikan pribadi, pembentukan masyarakat kelas pertama, sistem diskriminasi dan eksploitasi, penyembahan kekayaan dan kurangnya keimanan sejati, awal dari permusuhan, persaingan, keserakahan, perampasan, perbudakan dan pembunuhan saudara.
Fakta bahwa Habil meninggal tanpa keturunan, mengindikasikan bahwa umat manusia hari ini terdiri dari para pewaris Qabil yang mengindikasikan bahwa masyarakat, pemerintah, agama, etika, pandangan dan perilaku Qabil menjadi hal yang universal, sehingga ketidakseimbangan dan ketidaksetabilan pemikiran serta moralitas selalu ada dalam setiap era. Tujuan Ali Syariati meneliti kisah Qobil dan Habil. pertama, untuk membuktikan benar atau tidaknya gagasan yang semata-mata bertujuan etis karena ia membicarakan sesuatu yang jauh lebih serius dibandingkan dengan topik untuk sekadar sebuah esai.
Kedua, untuk memperjelas bahwa kisah tersebut bukanlah perselisihan di antara dua saudara. Malahan Ali Syariati membicarakan dua sayap dari masyarakat manusia; dua modus produksi; dua sayap sejarah. Sayap yang diwakili oleh Habil adalah sayap mereka yang dizalimi dan ditindas, yaitu masyarakat yang sepanjang sejarah telah dibantai dan diperbudak oleh sistem. Serta sayap yang diwakili oleh Qobil yang mengayomi para penindas dan kapitalis bejat.
Pemikiran Qabil dan Habil ini hampir sama dengan konsep kelas sosial masyarakat yang dikemukaan oleh Karl Marx, yang mana Qobil itu merepresentasikan seorang borjuis yang memiliki modal dan begitu pula dengan Habil yang merepresentasikan sebagai seorang proletariat.
Ilustrasi: google
)*Kader PMII Rayon Pembebasan, Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga









