Beranda / Esai / Opini / UIN Jogja, Seni Rupa dan Spirit Menyantunkan Agama 

UIN Jogja, Seni Rupa dan Spirit Menyantunkan Agama 

UIN

Oleh: Ferdiansah*

Pada tanggal 15-22 Desember yang lalu, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan festival seni rupa bertemakan “Bersama dalam beda, berbeda dalam sama”. Festival seni rupa ini berupaya untuk mengeksplorasi nilai-nilai kedamaian dan kesejukan dalam beragama melalui karya seni yang bernuansa visualisasi ekspresi keragaman agama. Festival tersebut dibuka secara langsung oleh Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid, Rabu (15/12) di Gedung Multi Purpose.

Berbagai pelaku seni lintas agama dan lintas etnis diundang ke kampus UIN Sunan Kalijaga untuk meramaikan festival tersebut, di antaranya Butet Kertaradjesa, Djoko Pekik, Nasirun, M. Agus Burhan, Kartika Affandi dan para pelaku seni lainnya. Sebagaimana tajuk tema yang diusung dalam festival tersebut, karya-karya yang dihasilkan pun memotret fenomena keberagamaan masyarakat Indonesia yang plural dan kritik visual tentang konflik sosial berlatar agama. Di samping itu, beberapa karya-karya yang dipajang juga menampilkan wajah/ekspresi keberagamaan lintas agama yang moderat dan toleran.

Festival seni rupa ini diadakan pertama kali dalam lintasan sejarah UIN Sunan Kalijaga dan juga perdana di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Rektor UIN Sunan kalijaga, menegaskan bahwa pada dasarnya spirit kesenian itu tidak terlepas dari ajaran nilai-nilai Islam, yang ke depan perlu diinternalisasikan di Perguruan Tinggi Islam Indonesia. UIN Sunan Kalijaga dengan paradigma integrasi-interkoneksinya bisa menjadi teladan dalam proyek integrasi islam dengan kesenian/tradisi budaya yang ada di Indonesia, salah satunya melalui seni rupa.

 

Menghidupkan Seni Rupa

UIN Jogja melalui festival ini berupaya mentradisikan spirit Kanjeng Sunan Kalijaga dengan mendakwahkan Islam melalui kesenian. Bahwasanya Islam itu tidak anti kesenian/tradisi, bahkan Islam didakwahkan kepada masyarakat Nusantara oleh Walisongo ketika itu melalui jalan kesenian, seperti tradisi pewayangan oleh Sunan Kalijaga dan Gamelan oleh Sunan Bonang yang menyisipkan pesan-pesan spiritual islam di dalamnya.

Di samping itu, melalui Festival seni rupa ini semakin menegaskan pentingnya eksistensi kesenian dalam pendidikan kita. Kesenian harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam laku pendidikan. Dengan kesenian kita akan mampu menyelami kearifan tradisi yang kaya di masyarakat Nusantara. Wajah agama yang sempat beberapa kali garang di publik, seperti kasus bom bunuh diri di Gereja dan pembakaran Masjid perlu direduksi, salah satunya dengan jalan edukasi berbasis seni rupa.

Seni rupa bisa menjadi media kritik (Anna Sungkar, 2020), terhadap persepsi suatu golongan agama yang memonopoli kebenaran dalam beragama. Karena pada dasarnya, masing-masing agama memiliki dan melalui jalannya masing-masing untuk menuju Tuhannya. Maka seni rupa menjadi jalan strategis untuk menampilkan visualisasi toleransi dalam beragama. Dalam seni rupa, bisa divisualisasikan ekspresi agama yang beragam, dan pada gilirannya bisa menjadi teladan laku untuk bersikap moderat dan toleran dalam beragama.

 

Menyantunkan Agama

Di ruang publik, agama seringkali berwajah garang dan acapkali kebenaran agama dimonopoli oleh suatu golongan tertentu. Inilah salah satu yang menjadi spirit dan motivasi dalam pengadaaan festival seni rupa tersebut. Melalui seni rupa, wajah agama yang penuh dengan kebencian direduksi dengan visualisasi keindahan keberagaman keagamaan.

Dalam konteks ini, masing-masing agama sejatinya memiliki dimensi pemikiran keberagamaannya sendiri. Bahkan dalam kacamata filsafat, agama secara filosofis memiliki banyak dimensi makna, seperti psikologis, sosiologis, historis, sejarah dan sebagainya. Untuk itu, pentingnya dewasa ini menyantunkan pemikiran agama dengan jalan kesenian.

Di sebagian kalangan umat islam, karya seni rupa/lukisan memang masih menjadi polemik, karena dianggap sebagai tradisi yang diharamkan. Mengingat lukisan biasanya menampilkan sesuatu gambar yang bernyawa (jism) misalnya manusia dan hewan. Namun karya seni rupa sejatinya adalah ekspresi manusia yang dapat menumbuhkan nuansa keindahan, yang pada gilirannya dapat mengubah wajah agama yang garang, menjadi riang.

Sedangkan yang salah menurut ajaran Islam adalah ketika sebuah lukisan itu kemudian dikultuskan dan disembah sebagai sesuatu yang sakral dan inilah yang bertentangan dengan keyakinan agama. Sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi dalam kitabnya Mausu’ah Fatawa as-Sya’rawi, hlm. 591;

“… hal yang diharamkan adalah perbuatan yang dilakukan sebagian orang berupa mengultuskan dan mengagungkan gambar/lukisan hewan. Jika melukis hewan dengan tujuan untuk digunakan menghias belaka, maka tidak ada larangan untuk melakukannya.”

Dalam konteks ini, pemikiran Islam idealnya perlu saling berintegrasi dengan kesenian/tradisi. Karena pesan universal Islam yang berupa teks, bisa disampaikan melalui karya-karya seni rupa gambar yang edukatif nan filosofis. Seni rupa bisa menjadi sarana dakwah dan spirit berkesenian. Agar ke depan agama tidak hanya berisi anjuran/kewajiban yang dogmatis, namun lebih dari itu agama bisa menjadi jalan keindahan untuk memberikan “rasa” dalam setiap titah spiritualnya.

Melalui seni rupa, agama akan terasa lebih indah dan penuh kesantunan ketika diekspresikan dalam kehidupan. Karena Allah Swt sejatinya yang menciptakan beragamnya ekspresi agama. Karena keberagaman agama memang bagian dari sunnatullah, dan Dialah yang menghendaki kita berbeda, tapi Dia tidak mau kita bertengkar. Jika Allah Swt menghendaki kita sama, maka niscaya tidak akan ada keindahan di muka bumi ini. Keragaman inilah yang menjadikan kehidupan kita menjadi lebih indah.

Akhirnya, dalam momentum ini ruang pendidikan ke depan perlu menghidupkan tradisi berkesenian, baik di kampus UIN Sunan Kalijaga maupun di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam yang ada di Indonesia. Mengingat kesenian perlu terus ditradisikan dan diwariskan sebagai upaya merawat khazanah bangsa Indonesia, karena itu semua merupakan tugas kita bersama, tak terkecuali para cerdik cendekia. Semoga.

 

)*Peneliti The Al-Falah Institute Yogyakarta

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *