Oleh: Achmad Fachri Hidayatullah
Sayyidah Zainab Al Kubra salah satu cucu yang sangat dicintai Nabi Muhammad SAW. Beliau merupakan anak dari pasangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang menikahi Sayyidah Fatimah—putri Nabi dari istri Siti Khadijah.
Tidak seperti pada umumnya, bisa dikatakan, Sayyidah Zainab Al Kubra menjadi perempuan, yang saat itu memiliki posisi setara dengan lali. Jika kala itu laki-laki berhak bicara ilmu agama dan siasat perang, maka Sayyidah Zainab termasuk di dalamnya.
Tak tanggung-tanggung, karena menjadi anak dari Sayyidina Ali, yang sekaligus punya dua saudara Hasan bin Ali dan Husein bin Ali, peristiwa perang sudah menjadi makanan sehari-sehari. Apalagi, terpecahnya umat Islam di kubu Bani Umayyah yang menentang keras politiknya Ahlul Bait (anak turun Nabi Muhammad), membuat nyawa dan semua yang dimiliki sebagai taruhan utamanya.
Sayyidah Zainab Al Kubra termasuk trah yang sangat disayang oleh Nabi Muhammad. Beliau lahir pada Bulan Sya’ban, tahun 6 Hijriyah atau bertepatan dengan terjadinya perjanjian Hudaibiyah (klausul antara umat Islam Madinah dengan kafir Makkah).
Adapun pemberian nama Zainab, sebenarnya untuk mengenang salah satu putri Nabi SAW yang bernama Zainab (saudarinya Fatimah) yang saat itu wafat ketika Perang Badar dalam kondisi hamil. Zainab sendiri memiliki arti sebagai orang yang penuh kasih sayang dan cerdas.
Selain itu, beliau juga mendapat julukan Aqilah yang berarti cerdas, Ummu Hasyimi yang maknanya sebagai ibu dari trah-trah Bani Hasyim (Hasyim bin Abdi Manaf, buyutnya Nabi) yang terkenal dengan kedermawanan dan kasih sayangnya kepada fakir miskin.
Tidak seperti kedua saudaranya, Zainab bersama Rasulullah hanya dalam waktu lima tahun saja. Setelah itu, beliau ditinggal oleh ibunya , Siti Fatimah, sehingga harus menggantikan peran dalam urusan rumah tangga. Termasuk membantu perjuangan saudara-saudaranya dalam perihal siasat dan politik Islam.
Sebagaimana lazimnya budaya waktu itu, Zainab Al Kubra pun dinikahkan dengan sosok laki-laki yang masih terhitung saudara dekat, yakni Sayyid Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib yang kemudian dikaruniai tiga putra: Sayid Ja’far, Sayid Ali, dan Sayid Aun Al Akbar, serta dua putri yaitu Ummu Kulsum dan Ummu Abdillah.
Di tengah perseteruan yang kian panas antara kubunya Ali dengan Muawiyah, Sayyidah Zainab akhirnya memutuskan untuk pindah, dari yang semual di Madinah pindah ke Kufah. Ketika ayahnya terbunuh oleh Ibnu Muljam, Sayyidah Zainab tetap dalam perjuangan yang agung. Ia terus membersamai Sayyid Hasan dalam melanjutkan kekhalifahan Imam Ali hingga wafatnya sebab racun.
Sayyid Hasan pun digantikan oleh Sayyid Husein. Bahkan, cucu Nabi SAW itu mengalami tragedi yang mengerikan. Di bunuh di Karabala, dengan kepala yang dipotong dan diarak keliling kota.
Walau menjadi perempuan, Sayyidah Zainab menjadi sosok yang tegas. Ia terus melakukan penuntutan kepada Muawaiyah yang telah membunuh kedua saudaranya. Siasat politik yang diambilnya ini memaksanya harus pindah ke lain tempat karena mendapat ancaman dari penguasa. Bersama dengan kepindahan ini, Sayyidah Zainab kemudian merawat putra-putri Sayyid Husein yang masih kecil. Beliau lalu menetap di Mesir.
Dulu, ia masih ingat sabda Nabi, bahwa ketika menaklukkan Mesir janganlah dengan cara-cara yang kasar. Bersikaplah lemah lembut, ngajeni kepada penduduknya. Sebab, mereka masih memiliki hubungan dekat dengan leluhur bangsa Arab, yakni lewat jalur Siti Hajar yang dinikahi oleh Nabi Ibrahim, yang melahirkan Nabi Ismail. Ismail dan Siti Hajar ini diungsikan ke Mekah yang kemudian mejadi leluhur bangsa Arab.
Di mesir, Sayyidah Zainab tinggal bersama suaminya, Sayyid Abdullah bin Jafar, ditemani pula oleh Sayyidah Sukainah, serta putra dari Sayyid Hussain, Sayyid Ali Zainal Abidin (yang menurunkan trah-trah Nabi hingga saat ini, atau yang kerap di sebut sebagai habib), serta beberapa pengikutnya,
Penduduk Mesir menerima dengan baik, bahkan, ada salah satu penduduk yang bernama Maslamah bin Mukholad Al Ansori mempersilahkan tinggal dan membawa ke rumahnya di Basatin yang saat ini berganti nama menjadi kawasan Sayyidah Zainab.
Di Mesir ini, pergolakan politik sudah tidak terlalu panas. Alhasil, Sayyidah Zainab pun sibuk dalam beribadah kepada Allah, serta mengajarkan ilmu-ilmu keislaman ke berbagai orang. Bahkan, ulama-ulama hebat dari Mesir, yang hidup di era setelahnya kebanyakan memiliki sanad keilmuan yang menyambung ke Sayyidah Zainab Al Kubra.
Beliau wafat pada usia 56 di hari Ahad sore, bulan Rajab tahun 62 Hijriah, tepat di pangkuan suaminya.
Dari sekelumit kisah hidup cucu Rasulullah ini, kita jadi tahu bahwa perempuan memiliki posisi yang penting dalam tonggak peradaban. Tidak hanya mengurus anak, membersihkan rumah, tetapi menjadi guru, mengajari calon-calon ulama, memimpin siasat politik, tetap bisa digapai. Tidak ada keterbatasan menjadi seoarang perempuan, begitu pun laki-laki. Karena, semua di mata Allah tetap lah sama. Semua berhak menjadi insan kamil, yang memperjuangkan kebenaran, membela orang-orang lemah.
Ilsutrasi: google









