Seputar hiruk-pikuk mahluk berkaki dua dan “berakal”.
Sambat
Dunia ini material.
Keranda-keranda itu material.
Makanan favorit adalah material.
Toko bangunan menjual bahan material.
Aku hidup di dunia material.
Uang adalah perkara realistis.
Tapi bukan berarti menjadi matre, terlebih menjadi borjuis!
eksploitasi habis hingga asa-asanya.
Bungkusanmu apik.
Isianmu licik.
Kedokanmu manis.
Tabiatmu bengis.
Ya, Tuhan.
Semoga selalu berjarak dengan hal yang hipokrisi.
(Yogyakarta, 2 Februari 2023)
Lempar Sembunyi
Sebagian orang lempar senang, sembunyi sedih. Atau sebaliknya.
Sulit bagi seseorang yang tidak punya senang dan sedih. Tak ada yang dilempar ataupun disembunyikan.
Wantuwantuwantuwantuwan!
Sisakan aku sedikit rasa.
Wantuwantuwantuwantuwan!
Jangan kau rampas semuanya.
Aku bukan pengu-asa. Aku tak berku-asa.
Yang kupunya hanyalah asa.
(Yogyakarta, 3 November 2022)
Sudimampir
Beberapa buku itu ingin dipahami.
Iya, memang betul, beberapa paragraf-paragrafnya sukar dipahami.
Tenggelamlah!
Hingga kamu merasakan sesak perihnya, yang kemudian akhirnya kamu mendapatkan pemahaman.
(Yogyakarta, 14 September 2022)
Sana-Sini, Bergulung-gulung
Kumpul sana-sini, rapat bergulung-gulung.
Yang miskin masih di bawah jembatan.
Yang kaya tidak kunjung sembuh dari kataraknya.
Kumpul sana-sini, rapat bergulung-gulung.
Wanita masih selalu tertindas.
Lelaki masih superior dengan martabatnya.
Kumpul sana-sini, rapat bergulung-gulung.
Perbedaan masih disingkirkan.
Pemaksaan berkedok persatuan masih dijunjung.
Kalah untung sama aci digulung.
Bukti nyata, orang lapar bisa kenyang.
(Yogyakarta, 05 November 2021)
Kakek Panjang Akal
Adalah seorang kakek yang kerjaannya tertawa melulu.
Betul-betul sepanjang hari, lebih panjang dari catatan pamrih.
Kalau tertawa suaranya keras memekakkan telinga, tapi tak mengalahkan besitan ujub dalam kalbu.
Ketawanya layaknya nasihat yang enggan didengar: mengganggu.
Alhasil, si kakek diamankan oleh polisi moral.
Begini penjelasan kakek saat dimintai keterangan:
“Begini, Pak Polisi. Bagiku hidup ini adalah bahan lelucon. Cara yang paling baik menghormati lelucon adalah tertawa. Bayangkan, Pak! Sebagian muda-mudi lebih memahalkan pakaian daripada soal harga diri. Haduh, Pak…Pak. Paling-paling duitnya hasil keringat mata pencaharian orang tuanya. Sudah begitu mereka berbangga-bangga punya tabungan, yang padahal disubsidi secara penuh sangu lebaran dari para kerabat. Mereka wangi-wangi, alergi mambu asam keringat sendiri. Ya…kecuali keringat bapak dan ibu, mahir sekali meneguknya, bahkan dijilati. Lucu…lucu”.
Polisi moral termangu-mangu, nganu-nganu.
(Yogyakarta, 11 Februari 2023)
Derita
Mulanya,
sekali dua kali disakiti,
ia menangis.
Kemudian,
Terbiasa. Tanpa isak tangis.
Lalu,
kebaikan datang.
Ia pun kembali menangis.
(Yogyakarta, 5 Februari 2023)
Seputar hal menye-menye yang (boleh jadi) menundukkan akal. Tentu, “asmaraloka”.
Boleh?
“Aih mak! Cakep sekali pendapatmu. Aku suka!”
“Tidak, tidak. Ini tidak sepenuhnya murni pendapatku. Sebagian kuambil dari buku yang kubaca”
“Pasti buku yang menarik. Apa judulnya? Boleh kupinjam?”
“Judulnya: Kehangatan di Antartika. Tapi sekarang bukunya sudah entah kemana. Dipinjam sana-sini”
“Rupanya begitu. Yasudah, biar dirimu saja yang menjadi buku itu. Paragrafnya adalah perkataanmu. Tingkah lakumu adalah pemahaman lain yang tak kutemui dalam paragraf. Dan, jelitamu kujadikan penyemangat tuk terus membaca! Boleh?”
(Yogyakarta, 7 Februari 2023)
Yang Ditulis di Waktu Senggang
Kata-katamu sudah kubaca,
kalimat-kalimatmu sudah kulahap,
selongsong paragrafmu sudah kuikat.
Semuanya aman, aku genggam erat-erat.
Tiada yang boleh kabur dari pembacaanku!
Karena itu milikku, bukan begitu? Wahai pemilik Nayanika?
Sebelum diriku terjun ke dunia yang bising ini,
seorang filsuf India berkata:
“suka adalah tentang memetik, dan cinta adalah tentang menjaga”
Kini, kamu adalah bunga mawar yang tumbuh dalam hati.
Tak akan kubiarkan orang-orang memetiknya.
Terimakasih, mekar indah selalu.
(Bogor, 27 Oktober 2021)
Akan Menjadi
Sengaja puisi tentangnya kulipat menjadi satu kalimat, akan menjadi sangat panjang jika dibentangkan.
(Bogor, 13 September 2021)
Aku, Tau
Aku tau, isi dalam kulkas itu tidak ada yang menarik.
Tapi anehnya,
aku selalu bolak-balik membuka pintu kulkas.
Niat hati mengisi perut, apa daya jamuan tidak tersedia.
Dan aku tau, mengusahakan dia adalah mustahil.
Tapi anehnya,
aku selalu jungkir balik menyiapkan jamuan untuknya.
Niat diri mengisi hati, apa daya dia tak menaruh simpati.
(Bogor, 11 Juni 2021)









