Beranda / Esai / Opini / Mari Menguatkan Haul Mahbub Djunaedi Sebagai Dorongan Ideologis

Mari Menguatkan Haul Mahbub Djunaedi Sebagai Dorongan Ideologis

Sosok Mahbub Djunaidi tidaklah asing bagi kalangan jurnalistik, kaum Nahdliyyin (sebutan warga pengikut Nahdlatul Ulama), dan para aktifis gerakan mahasiswa. Mahbub yang lahir dari pasangan H. Djunaidi dan ibu Muschsinati ini adalah anak yang pertama dari 13 bersaudara. Menurut isfandiari mahbub Djunaidi, salah satu putra dari Mahbub Djunaidi menyebutkan dengan singkat beberapa saudara dari Mahbub diantaranya adalah Muhibbah, Mohammad Izzi, Masfufah, Kuupa, Masyrafah, Opah, Sofie, Masykur dan Yayoh dan saudara kembarnya.

Pria yang lahir di Jakarta pada 22 Juli 1933 ini memiliki hobi menulis, kegemarannya menulis sudah di asah ketika beliau masih kecil, beliau diperkenalkan oleh gurunya karya-karya modern seperti karyanya Sutan Takdir Alisjahbana, Karl Mark dan lain-lain. Kegemarannya menulis terus dikembangkan sampai pada akhirnya beliau menjadi seorang penulis dengan ciri khas tersendiri. Ia juga dikenal sebagai wartawan-sastrawan, agamawan, organisatoris, kolumnis, politikus, serta predikat baik lainnya yang disematkan di bahunya.

Tradisi silaturrahmi atau berkunjung kepada tokoh-tokoh agama, kiai atau ulama merupakan tradisi NU yang melekat pada diri Mahbub, di sela kesibukannya menulis dan menjadi aktivis beliau tidak pernah meninggalkan berkunjung atau Sowan ke para ulama, kerabat dan teman-teman semasa sekolah Mahbub.

Maka, sebagai penerus kerja ideologis mahbub djunaedi kader dan anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia wajib mendorong haul mahbub sebagai poros ideologis baru sekaligus menorehkan mahbub djunaedi sebagai pahlawan nasional yang mampu menerjemahkan perkembangan zaman melalui prosa prosa indah yang tidak menyebalkan lewat kuantum ide dan gagasan.

Mahbub adalah seorang yang mempunyai human-relationship bagus, jika berbincang menarik perhatian teman temannya karena selain berisi juga kocak, kepribadiannya menarik, selalu konsisten dalam berpendirian, amanah, makanya selalu dipemimpinkan orang.

Oleh karenanya, perlu dilestarikan kepemimpinan dialogis yang mampu menelusuri deteksi pergerseran sosial yang pro aktif. Dan sudah sepantasnya semarak haul mahbub menjadi gelombang besar sahabat-sahabat pergerakan mahasiswa hari ini dan di masa depan.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *