Inilah malam dengan berbagai makna
Di satu sudut ku temukan hati sedang sepi
Di sudut yang lain, pikiran berkecamuk dengan berbagai duga sangka
Di sudut yang tak tampak seorang pun
Raga meringkuh putus asa
Inilah keadaan yang begitu jauh dari kuasa
Maka ku telan mentah-mentah semua kecewa
Aku tahu, bahwa ini bukan akhir dari segala
Tetapi, melihat semua tidak berdaya
Adalah kehinaanku sebagai manusia
Kemana kah mereka?
Yang masih menyebut dirinya pantas dipuja
‘Tak tahukah bahwa mereka sebab hilangnya semua harap
Tidak, bukan, bahkan motif untuk maju sudah merek tebas sedemikian murka
Apa mereka ‘tak rasai satu bahagia saja?
Untuk mereka yang sejatinya manusia
Jiwa yang ‘tak hidup sebab putus asa
Berkali-kali menjadi mainan penguasa
Jika begitu saja menjadi boneka paling manis
Bagaimana akan mengembalikan yang terkikis?
Pada kisah yang sudah ku tuntaskan
Ternyata kita masih berada di bumi yang ‘tak pernah maju
Perut mereka buncit di depan mereka yang kurus cungkring
Balutan halus pada sekujur tubuh itu
Adalah hasil tangis dan keringat nafas yang lain
Sudah begitu, ‘tak adalah mereka bersyukur
Setidaknya dengan benar memperhatikan yang terjatuh
Meraih tangan yang tertinggal
Justru, dihempaskan tangan itu dengan begitu kasar
Seperti ‘tak ada saling mengenal mereka
Kemudian jadilah berbuat kerusakan tanpa hati nurani manusia
Lalu, jika begitu, kepada Bapak manalagi Bangsa ini akan mengadu?









