Beranda / News / Menilik Keseharian Mahasiswa Paruh Waktu (Sinau Jurnalistik Vol. I)

Menilik Keseharian Mahasiswa Paruh Waktu (Sinau Jurnalistik Vol. I)

Hisyam sedang bersiap untuk pergantian shift saat kami (red.) menghampirinya untuk keperluan wawancara. Jum’at (16/06/2023). Hisyam Magribi, akrab disapa Mas Gembel, mahasiswa aktif UIN Sunan Kalijaga Prodi Aqidah dan Filsafat Islam yang kini bekerja paruh waktu di salah satu warung kopi yang lumayan diminati mahasiswa.

Sempat berkuliah selama satu tahun di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) namun berhenti dan masuk di UIN pada tahun 2020. Meski sedang bekerja, pada waktu tertentu Hisyam mengaku masih bisa membaca buku dan
mengikuti beberapa diskusi yang berlangsung di tempat kerjanya. Untungnya, jam kerjanya juga bisa disesuaikan jadwal kuliahnya.

Tujuannya kuliah tidaklah muluk-muluk, hanya berupa arahan dari keluarganya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Hingga pada saat semester tiga, ia memutuskan untuk bekerja paruh waktu. Mengapa memutuskan untuk bekerja? menurut Hisyam, setidaknya bekerja bagi seorang mahasiswa bukanlah hal yang tabu karena ada beberapa kebutuhan yang harus ia penuhi, seperti biaya kontrak rumah, listrik, dan sebagainya.

Walau untuk biaya kuliah (UKT), ia sudah dibiayai penuh oleh keluarga. Meskipun sebenarnya Hisyam pernah mengalami persoalan pada semester tiga lalu, namun itu bukanlah penyebab utamanya untuk bekerja paruh waktu.

Dia juga berkata bahwasanya hal ini sedikit banyak mempengaruhi jadwal sehari-harinya. Waktu
menjadi semakin padat, dan tentunya sedikit mengganggu kefokusannya dalam belajar, Seringkali
ia terlambat dalam jam kuliah, namun sejauh ini tidak ada masalah dengan tanggapan dosen
maupun dari presensi kehadirannya.

“Jawabannya mewajarkan, lumrah”, ujarnya saat ditanya bagaimana tanggapan dosen saat ia
terlambat masuk kelas. Keputusannya untuk bekerja ini juga didukung oleh keluarganya. “Orang
tua mendukung. kalau sudah jalannya yaudah jalani. Yang penting itu tanggung jawab. Begitu kata
mereka. ”

Orientasi bekerja lebih kepada memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menambah pemasukan.
Selain itu, juga ada manfaat yang ia terima. seperti banyaknya relasi karena memang warung kopi
tempatnya bekerja itu merupakan tempat favorit para mahasiswa. “Worth it, untuk mahasiswa
yang ingin bekerja, namun jangan lupa untuk melihat efektifitas waktu dan dapat membagi
tugasnya.” Ketika ditanya apakah dia merekomendasikan mahasiswa lain yang kekurangan
ekonomi untuk bekerja.

Redaksi juga mendatangi salah satu teman yang juga bekerja paruh waktu di sebuah warung kopi
lainnya, Syafiq Rahman. Tujuan dan pemikirannya kurang lebih sama seperti Hisyam diatas.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *