Beranda / News / Perantau Kuningan, Usaha Meraup Rupiah Melalui Warmindo (Sinau Jurnalistik Vol. I)

Perantau Kuningan, Usaha Meraup Rupiah Melalui Warmindo (Sinau Jurnalistik Vol. I)

Yogyakarta – Dilansir dari situs Mojok, Warung Makan Indomie (Warmindo) di Yogyakarta sebagian besar pemiliknya adalah orang-orang asli Jawa Barat, khususnya Kuningan. Karena ketidakseimbangan keterampilan dan latar belakang pendidikan serta terbatasnya lapangan pekerjaan di kampung halaman membuat masyarakat Kuningan rela merantau ke Yogyakarta.

Warmindo menjadi aset bagi para perantau Kuningan untuk bertahan hidup karena dianggap sebagai solusi atas mata pencaharian yang tidak membutuhkan keterampilan dan juga pendidikan tinggi. Selain itu, dari segi kalkulasi pendapatan pun mampu lebih baik daripada UMR Yogyakarta pada umumnya.

Biasanya, masyarakat Kuningan pemilik warmindo perantau di Yogyakarta di dukung oleh hubungan patronase dan kekerabatan yang mereka jalin bersama. Mereka membuat komunitas bernama PPWK (Paguyuban Pengusaha Warga Kuningan) secara mandiri yang menghimpun masyarakat Kuningan yang bertujuan untuk menjadi forum komunikasi antar pedagang Warmindo.

Didi, salah seorang pemilik warmindo warga Kuningan, mulai merantau di Yogyakarta pada tanggal 10 November 2010, menceritakan pengalaman pahit manisnya yang sudah 13 tahun merantau di Yogyakarta dan menjadikan warmindo sebagai mata pencaharian utamanya. “Dahulu, saya memulai perantauan dengan menjadi pegawai warmindo Paman saya di Sapen sekaligus belajar sedikit demi sedikit agar bisa berkembang dan mendirikan Warmindo sendiri.” Ucap Didi kepada geger.id pada Jum’at (16/06).

Selama kurang lebih 3 tahun, Didi menjadi pegawai pamannya, hingga pada akhirnya dalam satu waktu, ia berkesempatan untuk membuka warmindo sendiri sampai sekarang. Warmindo baginya sudah seperti jantung hatinya sendiri.

Pahit manis pengalaman Didi sebagai warga kuningan yang merantau 13 tahun di Yogyakarta dan meraup rupiah melalui warmindo tentu sudah tak diragukan lagi adanya. Ia mengeluhkan kondisi dahulu ketika masih menjadi pegawai pamannya, adanya jam kerja yang timpang dan gaji yang tidak sesuai dengan jam kerjanya.

“Kerja di paman begitu timpang, karena harus berbagi dengan pegawai yang lain. Saya bekerja hampir 12 jam dan menerima gaji yang tidak sesuai dengan jam kerja yang ditentukan, bukan hanya saya, tetapi pegawai yang lain pun sama. Sebab hal itu, makanya saya berinisiatif untuk membuka Warmindo sendiri agar bebas menentukan sendiri.” Ucap Didi sekali lagi.

Jika dibandingkan, sekarang jauh lebih baik daripada dahulu ketika Didi menjadi pegawai. Dengan membangun sendiri usaha warmindo Didi mendapatkan penghasilan yang lebih dari seorang pegawai dan lebih dari UMR Yogyakarta.

Meskipun dari segi penghasilan lebih tinggi, Didi sempat menemukan dilema dan hambatan dalam proses membangun usaha warmindo sendiri. Diantaranya adalah minim ruang aman di Yogyakarta karena kriminalitas sedemikian marak dilakukan. Ia memliki kekhawaritan akan hal itu, apalagi dahulu ia sempat membuka warmindonya 24 jam. Sebab akses keamanan yang rentan ia memilih untuk merubah jam bukanya dengan menutupnya sekitar jam 00:00 dini hari.

Hambatan lainnya terjadi ketika pandemi Covid-19 merebak di Indonesia, bahkan hampir seluruh warmindo di Yogyakarta tutup, tak jarang ada yang sampai bangkrut dan menjual semua aset-asetnya untuk bertahan hidup semasa pandemi. Didi, sempat melalui pengalaman serupa selama Pandemi, ia memilih menutup warmindonya sementara dan memilih untuk pulang ke kampung halamannya. Hal itu membuat penghasilannya menurun dan membuatnya harus memulai kembali dari awal.

Sampai saat ini, Didi sedang proses perbaikan usaha Warmindonya karena efek pandemi masih dirasakannya sampai sekarang. Ia berpesan kepada perantau-perantau warga Kuningan lainnya, jika memang niat bekerja harus perlu dibekali skill yang mumpuni, agar bisa survive sebagai pengusaha yang merantau di Yogyakarta. Selain itu, jalin relasi dengan komunitas-komunitas yang sesuai dengan daerah, agar kita tidak merasa sendiri selama di perantauan dan juga bisa saling memperkuat antar sesam perantau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *